Pipa Pembuangan Terkotor Bagian 5

“Tidak salah lagi! Itu pasti Samsul yang telah menyerang kambing Wak Putin. Hanya dia yang bisa membuka kunci kandang. Tidak mungkin harimau apalagi rubah hutan. Nahas buat kambing Itu, sang penyerang jauh lebih buas dibandingkan binatang, merobek-robek lehernya, mencabik-cabik perutnya, memakan seluruh badannya.” Aku menirukan gerakan Sadia seekor binatang buas. Satu-dua anak perempuan menjerit takut. Mulut Malik, Munip Dan Nur terbuka lebar, ternganga.
Kerumunan baru bubar saat lonceng masuk berdentang. Pak Bejo meneriaki kami dari ruang guru agar duduk rapi Dan tidak ribut di kelas, Ada yang harus diurusnya. Kepala kami memenuhi jendela, mengintip ke arah ruangan guru. Lihatlah, di ujung lorong, Yesi sedang dibaea, Ada beberapa petugas dari Kota, Mang Dullah, Bapak serta beberapa tetua kampung ikut terlihat. Kami berbisik-bisik saling menebak apa yang sedang terjadi.
“Petugas sudah menangkap Samsul.” Aku menebak penuh percaya diri, pengalaman tadi pagi membuatku sudah seperti wartawan gosip paling jago sedunia. Teman-teman menoleh kepadaku.
“Yesi diminta pulang. Orang tuanya mungkin sekarang di bawa ke Kota. Diinterogasi, ditanya-tanya, seperti di televisi itulah.” Aku santai melambaikan tangan. Teman-teman mengangguk, masuk akal.
“Apa Yesi juga masuk penjara, Badim?” Malik bertanya.
Aku menggeleng yakin, “Semua ini bukan salah Yesi. Semua ini bermuasal gara-gara orang tua Yesi belakangan sering bertengkar, hendak bercerai. Samsul jadi semakin gila, sering berteriak Dan menyerang binatang ternak. Yesi sering dipukul, makanya dia sering datang ke sekolahan dengan lebam biru di tangan. Mungkin Yesi dititipkan di saudara atau tetangga, dia tidak Akan dipenjara.”
“Sering? Bukannya Yesi datang dengan lebam biru hanya sekali?” Bunga menyela kesimpulanku.
“Itu yang terlihat. Kau tidak bisa melihat lebam yang tertutup seragamnya, bukan?” Aku melotot ke arah Bunga, teman-teman mengangguk, sepakat dengan argumenku.
“Memangnya kau juga bisa melihat lebam Yesi yang tertutup seragamnya?” Bunga tidak mau kalah, mendengus ke arahku, “Kata Ibuku orang tua Yesi baik-baik Saja. Mereka akur Dan bahagia meski Samsul belakangan semakin tidak terkendali.”
“Tahu apa Ibu kau?” Aku meremehkan Bunga, “Baru tinggal di kampung setahun terakhir. Samsul Itu sudah gila Dua puluh tahun lebih, Itu gara-gara orang tuanya sering bertengkar saat dia masih kecil. Tidak terurus, tidak terawat. Ibu bidan memangnya tahu Itu?”
Bunga mengeluarkan suara puh, sebal. Memutuskan tidak menanggapi, kembali ke mejanya. Bukan karena dia tidak bisa mendebatku, tetapi karena wajah anak-anak sekelas lebih bersepakat denganku.
Pak Bejo masuk kelas setengah jam kemudian. Langsung menyuruh kami membuka PR Matematika, sayangnya tidak Ada tangan yang bergerak mengambil buku masing-masing. Pak Bejo tertawa melihat wajah-wajah kami, “Oi, kalian pasti ingin tahu tentang Yesi?”
Seluruh kelas mengangguk.
“Baiklah, jika ini Akan membuat kalian may mengeluarkan buku pelajaran.” Pak Bejo melepas kacamata kusamnya, “Yesi dibawa ke Kota. Orang tuanya, juga Samsul saat ini sudah di Kota kabupaten. Jadi kemungkinan Besar tidak Akan masuk sekolah selama seminggu.”
Aku mengangguk puas. Tebakanku benar.
“Samsul dipenjara tidak, Pak?” Malik mengacungkan tangan, bertanya.
Pak Bejo memainkan kacamatanya sejenak, “Belum tahu, Ada banyak yang harus dipastikan. Petugas tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari bisik-bisik, kabar burung.”
“Aku melihatnya sendiri, Pak.” Aku segera memotong kalimat Pak Bejo. Ini jelas bukan bergunjing seperti yang dilakukan ibu-ibu saat membahas tentang perceraian orang tua Yesi
Pak Bejo menatapku lamat-lamat, “Iya, Badim. Kai melihatnya sendiri, Itu tidak bisa dibantah. Sama dengan Nur yang melihatnya sendiri beberapa Hari lalu Dan di Hari yang sama juga ditemukan ayam kampung mati dibantai. Masalahnya, belakangan, seluruh kampung ini sudah lebih suka melihat, mendengar Dan membicarakan apa yang mereka sangkakan. Mereka tidak mau melihat, mendengar Dan membicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, membicarakan urusan orang lain Itu jahat sekali.”
Langit-langit kelas dipenuhi bisik-bisik, beberapa tidak mengerti maksud Pak Bejo, lebih banyak yang tidak peduli Dan justru membicarakan kemungkinan-kemungkinan lain. Aku menelan ludah, teringat, oi, Mamak beberapa minggu lalu juga bilang kalau membicarakan orang lain Itu jahat sekali.
Tetapi apa pula yang jahatnya? Biasa Saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *