Pipa Pembuangan Terkotor Bagian 7

Aku terbangun dari tidurku.
Tersengal. Peluh membanjiri seluruh badan. Mimpi barusan terasa nyata sekali. Aku bahkan segera berlarian ke kuar kelas, muntah di halaman sekolah. Mengerikan.
Berusaha mengendalikan nafas, melihat sekelilingku, sepi. Sudah Dua jam lonceng pulang berdentang. Aku tadi sebenarnya hendak bergegas pulang, lapar. Tetapi Pak Bejo menyuruhku Dan Nur tinggal di kelas, Ada petugas yang hendak bertanya soal Samsul kepada kami.
Pak Bejo memanggilku yang masih jongkok muntah-muntah. Kepala petugas menyapa riang, dia mengenaliku. Dulu sempat bertemu di Kota kabupaten saat kasus perampokan kereta.
“Tutup semua gorden jendela.” Petugas Itu menyuruh anak buahnya.
“Nah, Badim… Ruangan guru sekarang sudah lebih gelap, meski tetap tidak lebih gelap dibandingkan semalam saat kau melihat Samsul di bawah pohon mangga.” Petugas Itu tersenyum padaku.
“Kau lihat anak buahku? Ya, yang di dekat lemari.”
Aku mengangguk, aku bisa melihatnya.
“Nah, apakah kau bisa melihat mulut Dan tangannya berlumuran darah?”
Aku mengangguk. Terlihat jelas tangannya berlumuran sesuatu.
“Baik. Menurut kau, apa warna darah yang melumuri tangan Dan mulutnya?”
“Merah.” Aku menjawab ragu-ragu.
Petugas Itu tersenyum. “Kau yakin merah?”
Aku terdiam, bukankah warna darah memang merah? Kepala petugas Itu tersenyum, sekali lagi memintaku memastikan apa warna tangan temannnya. Aku perlahan menggeleng, dalam remang, sejatinya aku bahkan tidak tahu apa warna pakaian petugas Itu. Tertunduk, mulai menyadari Ada kekeliruan dalam ceritaku sepanjang pagi tadi.
“Kau sungguh melihat mulut Samsul berlumuran sesuatu?” Petugas Itu mendesakku.
Aku tetap menunduk.
“Jawab apa adanya, Badim.” Pak Bejo membentangkan, “Jawab persis seperti yang kau lihat! Bukan seperti yang hendak kau lihat!”
Aku mengkerut di kursi, peluh mulai keluar, ya Allah, apa yang telah kulakukan? Aku meremas jemari, kejadian semalam berkelebat di kepalaku. Lebih jelas, lebih detail dari sesungguhnya yang kulihat.
Aku menggeleng pelan.
“Kai melihatnya? Petugas memastikan.
“Tidak, Pak.” Aku mencicit. Aku tidak melihat mulut Samsul berlumuran darah. Aku hanya melihat tangannya basah oleh sesuatu. Hanya Itu. Sisanya adalah karang-karangku Saja.
Petugas membuka kembali gorden, Pak Bejo dengan wajah benar-benar marah, menggiringku kembali ke kelas. Melarangku beranjak dari kelas walau selangkah. “Dengan kejadian ini, kau benar-benar menghapus seluruh hati baik yang kau miliki, Badim… Ringan tangan membantu, pintar, selalu tahu semua jawaban, bersahaja, membanggakan. Ternyata, mulut kau sama busuknya seperti orang lain. Sama sampahnya dengan berjuta penggunjing di atas muka bumi ini.” Pak Bejo menatapku amat kecewa.
Aku hanya bisa tertunduk, menahan tangis.
Setengah jam kemudian Nur juga keluar dari ruangan guru. Kami akhirnya diijinkan pulang. Sepanjang aspal jalanan, hanya lengang yang Ada di Kepala masing-masing. Kabar burung, bisik-bisik, gunjingan yang kami dengar Satu persatu memperoleh kebenarannya.
Orang tua Yesi memang baik-baik Saja. Meski dengan takdir anak sulungnya tidak waras, orang tua Yesi sejak tiga puluh tahun silam tetap akur, bahagia, juga hingga Hari ini.
Muasal semua gunjingan bermula dari tetangga Rumah Kiri kanannya yang sering mendengarkan Samsul berteriak-teriak, lantas juga teriakan orang tua Yesi yang berusaha mengendalikan Samsul, gatal mulut mengartikannya mereka sedang bertengkar. Maka melesatlah gunjingan Itu. Diawali dengan bisik-bisik mereka hanya bertengkar karena perangai Samsul, lantas berkembang Menjadi mereka hendak bercerai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *