Pipa Pembuangan Terkotor Bagian 8

Yesi memang pernah datang ke sekolah dengan lebam biru di tangan. Karena Samsul tidak sengaja memukul adiknya. Menurut cerita resmi dari Bu bidan yang Menjadi saksi Mata, Ada di lokasi selepas memukul adiknya, Samsul menangis tersedu-sedu. Meski Samsul tidak terkendali, suka menyendiri, imajinasinya dipenuhi pikiran-pikiran berbayang, Samsul mengenali Yesi, amat menyayangi adiknya.
Itulah kenapa Dua malam Itu Samsul ditemukan dengan berlumuran darah. Itu memang darah, darah Samsul sendiri. Dalam ilusi Samsul, Yesi, orang tuanya terkadang seperti monster yang hendak menyerangnya. Samsul tahu kalau Itu hanya ilusinya, maka dia berteriak-teriak melawan, menangis, berontak, memukul-mukul dinding, apa Saja dengan tangannya. Berusaha menyakiti diri sendiri agar dia melupakan ilusi buruk. Karena itulah tangannya berdarah-darah.
But bidan dengan keterbatasan ilmunya, berusaha menjelaskan panjang lebar, penyakit Samsul disebut skizofrenia, sudah terlahir seperti Itu. Tidak Ada sangkut pautnya dengan orang tuanya yang bertengkar, lagi pula sejak kecil orang tua Samsul amat menyayanginya. Yesi memang berencana libur seminggu, karena Bu Bidan Akan mengajak Samsul Dan orang tuanya berobat ke Kota provinsi. Di sana Ada Rumah sakit khusus yang bisa membantu.
Petugas urung menangkap Samsul. Setelah diburu Dua Hari Dua malam, rubah buas Itu berhasil ditangkap sedang menghabisi sangkar ayam Bakwo Jar. Samsul tetap di bawah ke Kota, karena memang Akan dirawat disana sesuai rencana. “Dia amat menyayangi Yesi, Bapak Ibunya… Hanya Saja situasinya tidak bisa dia kendalikan. Saat ditinggalin pulang sendirian di rumah sakit, Samsul menangis memeluk erat-erat Yesi. And I Saja dia bisa selalu seperti Itu, sadar Dan terkendali.”
Balai-balai kampung terdiam. Cerita Bu Bidan menggantung di langit-langit. Ibu-ibu yang senang sekali menggunjingkan keluarga Itu bungkam. Tertunduk dalam-dalam.
Aku juga hanya bisa diam.
“Kalian tahu lubang Pembuangan paling Kotor di dunia?” Nek Kiba memukulkan rotan ke lantai papan, menyuruh kami memperhatikan ke depan.
“Mungkin lubang toilet di rumah, Nek!” Ismail mengacungkan tangan seperti biasa sok tahu.
Nek Kiba menggeleng. Bukan Itu.
“Mungkin tempat samoah kampung, Nek!” Nur ikut mengacungkan tangan seperti biasa ngasal.
“Oi, mana Ada lubangnya di sana? Kau asal bunyi Saja.” Nek Kiba menyemburkan kunyahan sirih ke gelas. Anak-anak yang sedang belajar mengaji tertawa, menertawakan Nur yang menggaruk kepala.
“Mungkin pipa Pembuangan pabrik karet, Nek!” Aku ikut mengacungkan tangan.
“Bukan. Meaning kau benar, memang bau sekali pipa Itu. Membuat mual.”
Dan kami terdiam. Satu menit. Hanya suara tetas air hujan yang terdengar. Lima menit.
“Kalian mau tahu?” Nek Kiba menatap kami lamat-lamat.
Kami semua mengangguk. Ah, kalau sudah begini, Cara Nek Kiba bercerita dramatis sekali, semua anak menatap antusias wajah tua dengan banyak kerutan Itu.
“Lubang Pembuangan Terkotor di dunia adalah mulut Kita.” Nek Kiba menghela nafas pelan, “Mulut kitalah yang setiap Hari mengeluarkan bau paling memualkan, mulut kitalah yang tega mengunyah bangkai, mulut kitalah yang menelan lantas memuntahkan kotoran busuk.
“Oi, andaikata Kalian bisa menjaganya, tetap kebanyakan dari Kalian tidak bisa menghindari mulut mengeluarkan sampah-sampah tidak berguna, meski tidak bau Dan tidak mengganggu. Kalian tetap sering mengeluarkan ucapan mubazir, perkataan sia-sia. Apalagi yang sama sekali tidak bisa menjaganya. Sungguh itulah lubang Pembuangan Terkotor di dunia.”
Kami terdiam. Amat mengerti sindiran Nek Kiba.
“Bergunjing Itu jahat.” Nek Kiba menghentakkan rotan sekali lagi, “Kalian tahu laksana apa seorang yang suka bergunjing? Laksana dia mengunyah bangkai saudaranya Itu. Jika Kalian justru ramai-ramai melakukannya, maka it ibarat berpesta pora mengunyah bangkai busuk, penuh belatung Dan nanah. Menjijikkan, bahkan Babi sekalipun tidak mau melakukannya. Tetapi itulah kebenarannya, hanya mulut paling Kotor sedunialah yang tega memakannya. Tidak lebih tidak kurang.”
Di liat gerimis semakib menderas. Aku mengusap dahi yang entah kenapa berkeringat meski udara terasa dingin. Nek Kiba benar, mulut kamilah yang Kotor. Oi, mulut akulah yang Kotor.
Maafkan aku Samsul. Sungguh maafkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *