Renovasi Masjid Bagian 1

“Bawa semangkanya, Ismail.”
“Siap, Bos!” Ismail loncat mendekati Ayuk Lia, meraih Dua buah semangka Besar.
“Botol sirupnya Mana, Lia?” Kepala Mamak muncul di pintu depan, mengenakan kerudung putih terbaiknya.
“Sudah Amel bawa, Mak.” Amel mengangkat botol Besar tinggi-tinggi.
“Hampir jam tujuh, Mak. Kita bisa terlambat, “Ayuk Lia mengingatkan.
“Sebentar, sebentar, kau bawa panci pindangnya, Badim.”
Aku mengangguk, Itu sudah tugasku. Sebagai anak laki-laki paling Besar, otomatis aku membawa barang yang paling Besar pula.
Lima menit setelah Mamak memastikan tidak Ada yang tertinggal, rombongan kami bergerak meninggalkan Rumah, beramai-ramai berjalan kaki menuju masjid kampung. Di jalan aspal bertemu tetangga lain, saling menyapa, sama seperti kami, anak-anak lain juga sibuk menemani orang tua masing-masing membawa makanan. Tua muda, laki-laki perempuan, semua bergerak menuju masjid.
“Kau bawa apa, Malik?” Aku bertanya.
“Pindang ikan.” Malik menyeringai.
Aku tertawa, sejauh ini Saja sudah Ada tiga keluarga yang membawa pindang ikan. Bagaimana kalau nanti semua penduduk membawa pindang ikan? Bosan sekali melihat hamparan tikar dipenuhi pindang, pindang Dan pindang ikan. Padahal serunya syukuran Cara begini adalah ketika menemukan makanan yang ‘berbeda’ dari keluarga lain.
“Oi, semangka?” Malik berseru, antusias melihat Ismail yang tertatih membawa Dua buah semangka, tidak berat tetapi cukup merepotkan membawanya.
Aku mengangguk, Mamak sengaja menyuruh Ayuk Lia membeli semangka di Kota kabupaten sebelum pulang sabtu kemarin. Untuk ukuran anak kampung jaman Itu, buah semangka terbilang istimewa. Beda halnya kalau salak, cempedak, durian atau manggis, di hutan banyak, tumbuh liar.
“Aku harus dapat sepotong Besar, Kawan.” Malik tertawa lebar. “Akan kutunggui siapa yang bertugas memotong semangka ini.”
Kami juga bertemu Bu Bidan. Mamak mengangguk-angguk sepanjang perjalanan, bercakap tentang rencana imunisasi dengan Bu Bidan. Aku melirik toples-toples yang dibawa Bunga.
“Itu apa?” Bertanya, ingin tahu.
“Kejutan.” Bunga menyeringai, lesung pipitnya terlihat. Mata hijaunya mempesona ditimpa cahaya matahari pagi, belum terhitung rambut hitam legam panjang. Dia memang selalu terlihat cantik.
“Ah, paling juga kue-kue Warung Ibu Rohmat.” Malik melambaikan tangan, pura-pura tidak tertarik padahal kepalanya menjulur-julur berusaha mengintip dalamnya.
“Bukan. Ini bukan kue.” Bunga menggeleng.
“Lantas apa?”
“Kejutan.” Bunga memonyongkan bibir.
“Mana Ada makanan bernama ‘kejutan’. Adanya juga macam bolu, rebung, pempek atau gulai.” Malik menyergah jengkel. Bunga tidak menjawab, aku tertawa melihat tampang sebal Malik.
Semakin mendekati masjid kampung, penduduk semakin ramai. Kami berteriak memanggil Wak Yani saat melewati Rumah panggungnya.
“Ayuk Yani bawa makanannya juga? Aduh, repot sekali.” Mamak meletakkan bawaannya, berusaha membantu membawa rantang-rantang menuruni anak tangga.
“Oh schat, bagaimanalah tidak. Kalau semua penduduk kampung membawa makanan, aku juga harus membawa makanan terbaikku.” Wak Yani berjalan dengan tongkat rotan berpliturnya.
“Kau Bantu bawa rantang-rantang ini, Badim.” Mamak menyuruhku.
Aku menghembuskan napas sebal, bawaanku sudah banyak, ditambah pula. Mamak hanya nyengir, menumpuk rantang Itu di atas tutup panci, membuatku susah melihat ke depan.
“Kenapa kau tidak membawa apa-apa?” Suara Ismail bertanya terdengar di belakang. Aku menoleh, di samping Ismail sudah Ada Nur, anak Bakwo Jar.
“Ssst…” Nur mengangkat telunjuknya ke bibir, “Kau jangan keras-keras, nanti malu jadinya.”
“Kenapa?” Ismail menyeringai, tidak mengerti.
“Ibunya lupa kalau Hari ini Ada syukuran perbaikan masjid. Dia lupa masak semalam.” Mamak yang menjawab, tertawa. Ibu Nur yang berjalan bersebelahan dengan Bu Bidan Dan Mamak bersemu merah.
“Oi, kalau begitu kau tidak boleh ikut makan.” Ismail langsung menyergap, “Peraturannya begitu, siapa yang tidak membawa makanan, maka dia tidak boleh ikut makan di syukuran.”
“Itu peraturan siapa?” Mamak memelototi Ismail.
Ismail menggaruk kepala, bukannya Mamak yang bilang beberapa Hari lalu. Waktu menjelaskan Akan Ada acara syukuran memulai renovasi masjid kampung. Semua penduduk diminta datang membawa makanan terbaik, lantas dihidangkan bersama-sama di dalam masjid. Wajah Ibu Nur semakin merah, Nur menyeringai tidak peduli.
Rombongan Demi rombongan tiba di halaman masjid. Saat kami sampai, masjid sudah ramai sekali. Aku menatap sekitar, tumpukan makanan bercampur dengan anak-anak yang berlarian, ibu-ibu yang bertugas menerima Dan mengatur bungkusan, menyiapkan hidangan, remaja tanggung yang duduk-duduk di kolong masjid. Suara pengajian di dalam masjid. Bapak Dan puluhan pria dewasa sedang membaca shalawat Dan barzanji di atas sana. Lantunan suaranya terdengar menyengkan dari bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *