Renovasi Masjid Bagian 2

Cahaya lembut matahari menimpa atap masjid, terlihat indah. Aku menelan ludah, akhirnya masjid ini diperbaiki. Bertahun-tahun penduduk kampung mengumpulkan uang renovasi, sepeser demi sepeser, Dua bulan Pak Bejo membantu menggambar ulang bentuk masjid, menghitung biaya material seperti gelondongan tiang, papan, semen, paku, genteng dibeli. Sekarang menumpuk di halaman masjid.
“Kita tidak Akan merubah bentuk masjid.” Pak Bejo menjelaskan dalam salah satu pertemuan yang digelar di rumah. “Kita hanya Akan memperbaiki sekaligus memperhatikan masjid. Seluruh atap harus dibongkar, kadinya sudah banyak lapuk, dinding-dinding juga harus diganti, sudah buruk Rupa, termasuk papan di lantai dekat mihrab.”
Aku yang menggulung dari pintu depan melihat Pak Bejo membentangkan gambar-gambar masjid baru. Peserta pertemuan mengangguk-angguk mendengarkan.
“Kayu besides untuk tiang masjidnya diusahakan tiba nanti malam, Pak Bejo.” Juhro salah satu pemuda kampung menjelaskan. “Sudah dihilirkan melewati sungai, mungkin tengah malam nanti sampai. Kami Akan berjaga di pemandian. Oi, jauh sekali mencari kayu Itu. Hutan-hutan sekitar Kita sudah jarang punya pohon sebesar yang diinginkan.” Yang lain mengangguk-angguk lagi.
“Aku sudah bilang berkali-kali, Putin. Kita tidak Akan membangun menara. Itu Mahal sekali. Cukuplah kau yang adzan kencang-kencang dari jendela masjid.” Pak Bejo menyeringai, membuat peserta pertemuan tertawa, menjawab keberatan dari Wak Putin.
Seru sekali mendengar pertemuan Itu, membuatku tidak sabaran menunggu renovasi dimulai. Dan yang lebih seru lagi, Mang Dullah Dan peserta rapat juga memutuskan melakukan syukuran seluruh kampung. Seluruh keluarga diminta membawa makanan ke masjid. Membuatku lebih tidak sabaran menunggu renovasi.
“Kau Bantu kami menghidangkan makanannya di atas.” Pendi memanggilku dari bawah anak tangga.
“Eh?” Aku menoleh ke kiri-kanan.
“Iya, kau Badim. Bantu kami menyiapkan makanan.”
Aku sudah berlarian senang. Di kampung kami, tugas menghidangkan makanan dipercayakan ke beberapa pemuda berumuran Lima belas tahun ke atas. Anak-anak kerjanya hanya bermain Dan menonton. Kalau begini, berarti aku sudah tidak dianggap anak-anak lagi, segera bergabung dengan Pendi, Juhro, Dan pemuda tanggung lainnya.
Di atas suara shalawat Dan barzanji terdengar semakin takjim.
Hidangan mulai dihamparkan. Ada empat tikar Besar dibantuan di dalam masjid, dikeluarin tetua Dan orang dewasa laki-laki. Empat tikar Besar lainnya di bawah masjid, dikeluarin tetua, ibu-ibu Dan gadis remaja. Lima tikar lainnya di halaman, dikerik tidak jelas oleh Amel, Ismail Dan teman-temannya. Saling sikut, saling berebut.
Aku? Sebagai salah satu petugas penghidang makan, aku tidak perlu bergabung ke tikar manapun. Aku bisa mencomot makanan apa Saja sambil berlalu-lalang mengirim piring-piring.
“Astaga, tidak bisakah kau berhenti mengunyah? Bergegas sana.” Istri Wak Putin memelototiku, dia bertugas menumpahkan gulai kambing ke piring-piring yang harus kubawa ke atas. Aku buru-buru menelan makanan di mulut, menyeringai.
“Badim, Badim.”
Langkah kakiku terhenti, menoleh.
“Tolonglah… Aku tidak kebagian semangka. Tadi di tikar kami rusuh sekali berebutan.” Nur mendekatiku dengan tampang memelas.
“Kenapa kau minta tolong padaku?”
“Kau kan petugas. Kau bisa pura-pura membawa piring semangka me atas, nah, Satu potongannya kau amankan lebih dulu untukku.” Nur menjelaskan akal bulusnya.
“Tidak mau.” Aku melangkahkan kaki menuju anak tangga.
“Tolonglah…” Nur memotong langkahku, menggaruk kepalanya. “Aku sudah serahin tidak makan semangka, terakhir lebaran tahun lalu. Tidakkah kau kasihan dengan nasib malangku?”
Aku tertawa, apanya yang malang. Dengan tubuh gempal berisi seperti Nur, dia justru membuat anak kurus lain terlihat malang. Tetapi karena tidak tahan Nur terus mengikutiku kemana-mana, menarik-narik baju, aku akhirnya menyerah, segera menyeret Nur ke ibu-ibu yang memotong semangka. Wajah Nur bagaimana matahari terbit, langsung cerah.
“Sudah habis, Badim.” Ibu-ibu Itu mengangkat bahu.
“Bagaimanalah ini… Bagaimanalah?” Wajah Nur bagaimana matahari terbenam, seketika buram.
“Apanya yang bagaimana?” Aku menyikut lengan Nur, ini cuma urusan semangka.
“Tidak mungkin aku menunggu tahun depan, tahun depan, tahun depannya lagi agar bisa makan semangka, kan? Aduh, malangnya nasibku.” Nur melangkah gontai menuju hamparan tikar anak-anak.
Aku pergi meninggalkannya sambil menyeringai. Kalau dipikir-pikir Nur belum mengenal buah pear, Naga atau kiwi yang lebih eksotis. Coba kalau dia sudah tahu, semangka Itu dengan Segera terlupakan. Tetapi sayangnya, bagaimana anak kampung pedalaman seperti kami, buah-buahan Itu amat langka.
Aku meneguk ludah, teringat kalau sudah hampir Dua tahun aku tidak makan anggur. Terakhir Kali waktu Bapak pulang dari Kota provinsi, membawakan Satu plastik Besar yang langsung habis, berebutan dengan Amel, Ismail Dan juga Ayuk Lia. Ah, kalau menirukan definisi Nur, aku lebih malang dibandingkan dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *