Seberapa Besar Cinta Mamak Bagian 3

“Kau memangnya tidak ingin menonton?”
“Ismail mau, Kak. Tapi…”
“Kalau begitu Ayo pulang. Mamak juga lagi sibuk, tidak Akan memperhatikan Kita.” Aku membujuk Ismail lagi, “Episode Hari ini pasti seru sekali. Penjahatnya pasti kalah.”
“Kalau Mamak marah?”
“Mamak tidak Akan marah. Ma…”
“Oi, yang bekerja Itu tangan, bukan mulut. Tidak Akan selesai Bagian ini kalau kalian mengerjakannya dengan berceloteh.” Mamak memotong kalimatku, entah kapan dia beranjak, sudah berdiri di depan kami.
Aku menelan ludah, kaget. Ismail buru-buru membalik badan, menggerakkan sengkuit di tangan, mengabaikan sekaligus melupakan pembicaraan barusan. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, kepalang tanggung Mamak sudah pindah menyiangi rumput dekat kami, sekalian Saja dibicarakan.
“Mak, Badim boleh pulang duluan?”
Mamak menggeleng tegas.
“Tapi tadi siang Mamak bilang Hari ini pulang lebih cepat.” Aku mengingatkan.
“Sebentar lagi, Badim. Ini belum pukul empat, setengah jam lagi.” Mamak menjawab dengan tangan terus cekatan membabat ilalang.
Aku mengeluh, jangankan setengah jam, Lima belas menit lagi Saja tidak boleh. Harus pulang sekarang. Bagaimana nasib film kartun Itu. Tidak Akan Ada siaran ulangnya. Kalau membersihkan rumput ladang, besok-besok juga bisa diulang lagi.
“Kita harus pulang sekarang, Mak.” Aku membujuk pelan.
“Sebentar lagi, Badim.”
“Sekarang, Mak.”
“Oi, kau tidak mendengar kalimat Mamak rupanya. Kalau Mamak sudah bilang sebentar lagi, ya sebentar lagi.” Gerakan tangan Mamak terhenti, menoleh kepadaku, melotot.
Ismail disebelahku pura-pura menggerakkan sengkuitnya dengan semangat. Tidak memperhatikan takut diomeli jika melibatkan diri. Aku meneguk ludah, tertunduk.
“Tapi Mamak sudah janji.”
“Mamak tidak janji. Mamak hanya bilang ‘diusahakan pulang cepat’. Apapula perlunya kau bergegas, heh? Paling juga Kau menonton film kartun di televisi. Tidak bermanfaat, menghabiskan waktu.”
Aku hendak protes, membantah. Tetapi melihat air muka Mamak yang terlipat, urung.
Lima menit berlalu, Mamak meletakkan sengkuitnya, meraih pisau dalam keranjang. Aku yang melirik bersorak dalam hati, akhirnya Mamak mulai mengumpulkan kayu bakar. Tidak apa-apalah terlambat sedikit, aku mungkin masih bisa menonton separuh film kartun Itu.
“Mamak hendak ke lembah, mengambil rebung Bambu. Kalian tetap di sini sampai Mamak kembali. Jangan Ada yang pulang duluan.”
Sorakan riang dalam hatiku padam. Ternyata urusan tambah panjang. Mengambil rebung lebih dari setengah jam. Kalau begini, kami baru tiba di rumah menjelang maghrib.
“Kalau kalian Ada yang berani pulang duluan, Mamak hukum tidur di Luar Dan tidak boleh makan malam ini.” Mamak seperti biasa membaca jalan pikiranku, mengeluarkan ancaman.
Punggung Mamak menghilang dari balik pohon kopi. Aku melepaskan sengkuit, duduk menjeplak. Ber-puuh mengeluh. Ismail ikut-ikutan berhenti bekerja, menoleh kepadaku.
Bagaimana ini? Pulang duluan atau tidak? Aku menatap sekitar, berhitung dengan situasi. Pohon kopi sedang berbunga, membuat putih dedaunan kopi sejauh Mata memandang. Lebah beterbangan, aroma menyenangkan menusuk hidung.
“Aku pulang duluan, Ismail. Kau mau ikut?” Aku akhirnya berdiri, melipat semua kecemasan, Itu diurus nanti-nanti Saja. Film kartun Itu lebih penting, setidaknya aku masih sempat melihat bagian akhirnya, ketika sang jagoan berhasil mengalahkan penjahat, tertawa jumawa mengangkat tangannya.
“Kak Badim nanti dihukum, Mamak.”
“Peduli amat.” Aku melambaikan tangan, “Kau mau ikut, tidak?”
Ismail menyeringai, menggeleng. Baiklah kalau Itu keputusan Ismail, aku membalik badan, lantas berlarian menembus rimbunnya pohon kopi. Meninggalkan Ismail sendirian.
Secepat apapun aku berlari menuruni jalan setapak dari ladang, melewati hutan, menuju kampung, dua Kali jatuh bangun tersangkut tunggul, aku tetap tidak bisa menonton serial kartun Itu. Sebenarnya aku tiba tepat waktu. Televisi hitam putih Itu sudah menyala, Bapak sudah pulang dari Kota kabupaten dengan aki terisi penuh. Tidak Ada anak-anak tetangga yang duduk melingkar di depannya, hanya Ada Wak Putin Dan beberapa orang dewasa yang asyik menyimak layar ajaib Itu. Oi, sejak kapan Wak Putin suka film kartun? Kenapa peserta yang menonton film kartun jadi ganjil. Mana teman-temanku?
Aku segera menepuk dahi, kecewa. Tidak Ada serial film kartun kesayanganku, yang Ada siaran langsung upacara bendera 17 agustus-an.
“Wah, kau ingin ikut menonton, Badim?” Wak Putin bertanya.
Aku menggeleng, rasa kecewa bercampur sebal di ubun-ubun hampir membuatku ketelepasan menjawab, “Apa pentingnya acara ini. Tidak Ada seru-serunya. Kenapa pula TVRI lebih memilih menyiarkan upacara ini dibanding film kartun.” Omelanku tertahan. Beranjak dengan wajah terlipat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *