Seberapa Besar Cinta Mamak Bagian 4

Mamak Dan Ismail tiba menjelang maghrib. Ismail bergegas menyusun kayu bakar di tumpukan, membawa rebung ke dapur, hendak Mandi.
“Bagus filmnya, Kak?” Ismail menyapa aku yang masih duduk kesal di ruang depan.
“Bagus apanya. Ada siaran langsung.”
Ismail manggut-manggut, melanjutkan langkah. Mamak sudah Dua Kali melintas di ruang depan, Dan Dua Kali pula Mamak menoleh pun tidak ke arahku. Sepertinya Mamak sedang sibuk, aku berprasangka lain.
Lepas shalat maghrib, Mamak dibantu Amel berkutat dengan masakan di dapur. “Kau mengiris rebungnya bisa lebih cepat? Kalau begini, baru lebaran puasa Kau selesai mengirisnya. Anak gadis Itu harus gesit.” Belum habis omelan Itu, disusul pula, “Airnya kurang, Amel. Sudah berapa Kali Mamak bilang takarannya Dua gelas.” Atau ditingkahi dengan, “Sudah repot-repot masak, baju sudah bau, tangan berbekas kunyit, kau mau kalau masakan kau tidak disentuh karena tidak enak? Susah sekali mengajari Kau, hah.” Bercampur dengan suara peralatan masak, kepulan asap dari tungku, Dan aroma makanan. Aku Dua Kali melongokkan Kepala ke dapur, ingin tahu Mamak masak apa, sepertinya lezat sekali.
Lepas shalat isya, hidangan makan malam tersaji lengkap. Amel tersenyum senang melihat hasilnya, lupa kalau dia sepanjang masak kena omel. Ismail mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran. Bapak duduk sambil menyeduh kopi luwak. Aku beranjak masuk ke dapur, ikut meraih kursiku.
Dug! Sepertinya Ada yang menikam jantungku, Mamak yang sedang mewadahi nasi dari periuk, menatapku dengan seringai ganjil. “Kalau kalian Ada yang berani pulang duluan, Mamak hukum tidak boleh makan Dan tidur di Luar malam ini.” Dari air muka Mamak, aku seperti biasa bisa membaca kalimat Mamak tadi sore di ladang. Aku meneguk ludah.
Ismail sudah meraih mangkok sayur rebung, tertawa menumpahkannya ke piring. Amel tidak mau kalah, memotong ikan pindang besar di depannya. Aku, menjulurkan tangan pun tidak kuasa. Dadaku terasa sesak, kerongkonganku kesat Dan pantatku terasa panas. Tidak mampu walau sekilas melirik wajah Mamak lagi. Apakah aku Akan tetap makan? Tidak peduli dengan kejadian tadi sore? Makan? Tidak? Aku berkutat dengan pilihan yang Ada, menyeka dahi.
“Oi, apa film kartun kai tadi bisa membuat kenyang?” Mamak sudah berdiri di sebelah kursiku.
Aku agak kaget, mendongak.
“Kau tidak malu berada di meja makan, hah?”
Kerusakan Itu sudah tidak tertahankan. Jantungku bukan hanya ditikam, tapi bagai ditembak seribu anak panah. Sesaat aku menunduk kembali. Kesat di kerongkongan akhirnya tiba di Mata, berkaca-kaca. Mendorong kursi ke belakang, melangkah patah-patah keluar dapur.
“Kau tidak makan, Badim?” Bapak bertanya, memanggilku.
Aku tidak menjawab, terus berjalan.
“Khak-Badim-thadi-phulang&dhuluandharikhebhun, Pak.” Ismail menjelaskan sambil tetap mengunyah, menelan makanannya, “Dihukum Mamak tidak boleh makan.”
Bapak menoleh ke Mamak, meminta penjelasan.
“Dia tahu persis akibat perbuatannya. Tahu persis apa hukumannya. Biarkan Saja.” Mamak ringan melambaikan tangan, duduk di kursinya.
“Kau tidak Akan masuk ke dalam, Badim?” Bapak berdiri di bingkai pintu.
Aku tidak menjawab, membalikkan badan membelakangi, tidur di kursi rotan beranda Rumah. Malam beranjak larut, langit mendung mengusir bintang gemintang, angin lembah berhembus kencang, membuat udara semakin dingin. Ini untuk yang ketiga kalinya Bapak menyuruhku masuk.
Meski dengan perut lapar, tadi masih menyenangkan berada di Luar Rumah, bersama tetangga asyik menyimak acara televisi hitam putih Bapak. Pukul Dua Belas malam acaranya usai, ditutup lagu rayuan pulau kelapa. Penduduk kampung Satu per Satu pamit pulang, meninggalkan aku sendirian.
Aku hampir Dua Kali reflek hendak masuk Rumah, tetapi Dua Kali pula melihat Mamak Ada di ruang tengah, menganyam keranjang. Beringsut kembali ke beranda depan, tertunduk. Rasa-rasanya, Mamak seperti menjaga pintu masuk.
“Sudah pukul Satu malam, Badim.” Bapak akhirnya duduk di dekatku.
Aku tetap tidak menjawab.
“Malam ini Akan hujan deras. Kalau kau tetap di sini, kau bisa terkena tampias air. Belum lagi udara sedingin ini. Kenapa Kau tidak masuk ke dalam Saja?”
“Ma-mak…” Aku berusaha mengendalikan sesak di dada, menyeka ujung mata, bukankah Bapak sudah tahu, “Ma-mak me-la-rang-ku ma-suk ke da-lam.”
Bapak terdiam melihatku menahan tangis, menghela napas. Terus terang Saja, aku jarang menangis, yang suka menangis Itu Amel Dan Ismail. Meski Mamak sedikit-sedikit mengomel, marah, memberikan hukuman, aku tidak pernah menangis macam mereka. Tetapi malam ini, bukan karena perut lapar, badan kedinginan Dan tidur di atas kursi rotan yang membuatku menangis, aku tidak kuasa lagi terisak karena menyadari Mamak memang sengaja menjaga pintu depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *