Seberapa Besar Cinta Mamak Bagian 5

“Tidak Ada yang melarang kau masuk, Badim.”
Siapa bilang? Aku menggelengkan Kepala kencang-kencang, membuat air mataku terpercik ke lantai papan. Sedih sekali rasanya.
“Kalau begitu, kau sudah keliru mengartikan kalimat Mamak, Badim.” Bapak merapikan kerah bajuku, “Mamak Kau tidak bermaksud begitu.”
Aku hanya diam. Menyeka ujung mata.
“Dengan menghukummu seperti ini, Itu berarti Mamak kau amat mencintai.”
“Mamak benci kepada Badim!” Aku memotong kasar kalimat Bapak.
“Tidak seperti yang Kau lihat.” Bapak menghela napas.
“Mamak benci kepada Badim!”
“Oi, kau keliru, Badim. Dengarkan Bapak, tidak ada seorang pun Mamak di atas muka bumi ini yang bisa membenci anaknya sendiri, ‘darah daging’ -nya sendiri. Bukankah kau pandai mengkait-kaitkan banyak Hal, kau juga pandai mengartikan banyak penjelasan. Nah, kau artikan sendiri makna harfiah, ‘darah daging’. Setiap anak pernah dikandung Mamaknya sembilan bulan. Mual, muntah, nyeri, badan sakit, semua terasa tidak enak. Melahirkan dengan kondisi siap mati. Tidak Akan pernah Ada seorang Mamak yang bisa membenci anaknya sendiri. Dilahirkan penuh perjuangan.”
Gerimis akhirnya turun. Satu butir bilur Airnya menghujam atap genteng, disusul dengan jutaan bilur air lain. Membuat beranda depan terasa lembab.
“Badim ingin seperti Ayuk Lia.” Aku berkata pelan.
“Maksud kau?”
“Badim ingin sekolah di Kota kabupaten. Badim ingin pergi dari Rumah.”
“Oi, kau bilang apa, Badim?” Bapak menepuk dahinya, “Kau sungguh Akan menyesali ucapan Itu pernah keluar dari mulut Kau.”
“Badim tidak Akan menyesali.”
Bapak terdiam, seperti kehabisan kalimat (sekaligus kesabarannya). Menatap lamat-lamat jalanan yang lengang, hanya gerimis membasuh kampung.
“Baiklah, mungkin Ada gunanya juga Kau tidur di Luar malam ini. Berpikir. Pikirkan kalimat Bapak ini, kau tahu, kenapa setiap anak harus mendengarkan nasehat, layangan, atau apa Saja dari Mamaknya? Sungguh bukan karena Mamak pernah jadi anak kecil, sedangkan kau belum pernah Menjadi orang dewasa. Bukan karena ukuran usia Dan kedewasaan. Tetapi karena jika kau tahu sedikit Saja apa yang telah ia lakukan Demi kau, Amel, Ismail Dan Ayuk Lia, maka yang kau tahu Itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”
Suara kodok hutan terdengar mendengking. Aku mendengus kesal, tidak percaya kalimat Bapak.
“Kau terlalu keras ke Badim.”
“Tidak. Dia sudah tahu aturan mainnya.”
“Oi, urusan ini bukan sekadar aturan main, kesepakatan, sanksi.”
“Tentu saja. Urusan ini tentang berdisiplin. Anak-anak Itu harus disiplin. Tahu kapannya bekerja, tahu kapannya bermain. Apapula yang dikerjakan dia, setiap Hari hanya dihabiskan menonton televisi. Tidak Ada manfaatnya.”
Bapak memutuskan diam sejenak. Mengomentari kalimat Mamak hanya Akan mengahsilkan jawaban yang lebih panjang lagi. Tidak berkesudahan, ujung-ujungnya bertengkar.
“Sudah pukul dua… Badim tidak Akan masuk ke dalam kalau kau tidak menyuruh dia masuk.” Bapak menghela napas panjang.”
“Aku tidak Akan menyuruhnya masuk sepanjang dia tidak menyesal Dan minta maaf atas kelakuannya Hari ini.” Mamak menjawab santai, meneruskan menganyam keranjang di ruang tengah.
“Kau Akan membuatnya kedinginan di Luar.”
Mamak mendengus, menunjuk gumpalan kemul di dekatnya. Bapak terdiam, menyisir rambut dengan jemari. Bapak tahu, tadi Amel ingin memberikan selimut ke depan, Mamak melotot, melarang Amel.
“Ayolah, Nim. Kau bisa sedikit mengalah.”
“Kau berarti tidak mendengar kalimatku, Bang. Bukankah sudah kubilang, anak itu tidak Alan masuk ke dalam sepanjang dia tidak menyesal atas kelakuannya Hari ini. Titik. Harus berapa Kali kuulangi sampai kau mengerti?”
“Oi, Kau tidak Akan mengomeliku seperti mengomeli Lia, Badim, Ismail, Dan Amel, bukan?” Bapak pelan menepuk dahinya, menyeringai.
Mamak mendengus. Hujan di Luar semakin deras.
“Nim, Kau tentu tahu persis kenapa aku jatuh cinta padamu.” Bapak tersenyum, menggoda tampang terlipat Mamak, “Karena setiap Kali kau marah-marah seperti ini kau terlihat lebih cantik.”
Mamak lagi-lagi hanya mendengus tidak peduli meski sebenarnya Ada Rona tersipu malu tipis dari wajahnya, yang membuatnya salah menusukkan ujung Bambu anyaman keranjang.
“Kau ingat waktu aku nekad membawa tangga panjang, lantas memanjat Rumah Bapak kau, mengetuk jendela kamar Kau. Aku pikir kau Akan senang, bertekuk lutut melihatku sudah berpenampilan begitu tampan. Oi, kau malah mendorong tanggaku. Tidak hanya Itu, kau juga berlarian turun ke kolong Rumah, meneriakiku maling. Membuatku lintang-pukang menyelamatkan diri dari amukan seluruh kampung.” Bapak tertawa kecil. “Butuh sebulan lebih untuk mengumpulkan keberanian hingga akhirnya aku kembali. Bagaimana tidak, seluruh penduduk kampung menganggapku making sungguhan.
Mamak sudah Dua Kali salah menusukkan ujung Bambu anyaman. Menunduk, berusaha melindungi wajah bersemunya.
“Lia, Badim, Ismail, Dan Amel lebih beruntung. Mereka tidak perlu menungguinya bertahun-tahun untuk mendapatkan kasih sayang kau. Malah, mereka sekarang membuatku Menjadi nomor Lima, bukan? Mereka anak-anak yang hebat. Tetapi sehebat apapun Itu, mereka tetap anak-anak. Sekali Dua melawan, Dua tiga mengabaikan, lebih banyak tidak mendengarkan. Karena mereka masih kanak-kanak. Senang bermain, senang melakukan apa Saja dengan bebas.”
Bapak diam sebentar, meraih lembut tangan Mamak, “Nim, anakmu sekarang kedinginan di Luar. Bisakah kau suruh masuk?”
Mamak menggeleng tegas. Tidak Akan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *