Seberapa Besar Cinta Mamak Bagian 6

Esok paginya, aku jatuh sakit, demam panas.
Hujan deras, angin lembah, tampias menerpa beranda Rumah. Aku sudah berusaha merapatkan tubuh ke kursi rotan, bergelung sebisa mungkin, tetap Saja basah. Dengan perut lapar, kedinginan, pukul tiga dini Hari aku akhirnya jatuh tertidur. Bapak lembut menggendongku masuk ke dalam, membaringkanku di atas dipan, Mamak menyelimutiku dengan kemul, sayangnya aku tidak tahu bagian ini karena sudah terlelap kelelahan.
Saat Amel Dan Ismail sudah bangun, berebutan Mandi di pancuran belakang rumah, aku masih bergelung di atas dipan. Mamak meneriakiku agar bangun, aku tidak mendengarkan. Badanku panas, kerongkonganku seeing, semua terasa sakit, bahkan tidak sempat berpikir kenapa aku sudah Ada di dalam kamar. Sayup-sayup aku mendengar Bapak bilang, “Biarkan Badim tidur sedikit lebih lama.” Mamak yang menjawab, “Nanti dia telat sekolah, tidak sempat sarapan.” Sisanya samar-samar. Kepalaku terasa berat.
Amel Dan Ismail sudah berebutan makanan di dapur, saat Mamak masuk ke dalam kamar, menyuruhku bangun untuk kedua kalinya, aku hanya terdiam. Bukan karena rasa marah, sedih, sebal yang jelas masih tersisa, tetapi aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi menjawabnya.
“Kau tidak sekolah Hari ini, Badim?” Intonasi Mamak sedikit melunak, beranjak duduk di dipan, menyentuh dahiku.
“Oi!” Mamak berseru, tangannya cepat menyentuh dada, leher Dan Bagian lain tubuhku, memeriksa. “Panas sekali badan Kau.”
Mamak bergegas memanggil Bapak.
Bapak ikut memeriksa tubuhku. Semua samar-samar, aku setengah sadar setengah tidak.
“Makan buburnya, Badim.
Mataku bekerjap-kerjap. Berusaha melihat sekitar, leherku terasa sakit digerakkan. Mengernyit, rasa nyeri menusuk Kepala. Lampu canting menyala redup di atas meja. Suara jangkrik berderik, suara kodok berdengkang. Sepertinya di Luar sudah gelap malam. Berapa lamakah aku tertidur barusan?
“Makan buburnya, Badim.” Mamak lembut menyentuh lenganku.
Aku reflek menarik tangan, gerakan yang membuatku sedikit tersengal. Walau kesadaranku belum pulih benar, aku masih dengan jelas mengingat kalau Mamak sedang marah padaku. Malah aku merasa seperti baru terbangun dari beranda Rumah yang tampias, dingin Dan basah dengan seluruh badan terasa demam, Kepala berat.
“Perutmu seharian tidak tersentuh makanan, Badim.”
Aku mendengus dalam hati, bahkan lebih, bukankah kemarin malam Mamak melarangku makan. Aku memutuskan menatap langit-langit kamar.
“Tadi siang Ini Bunga sudah memeriksa. Kata Bu Bidan, kau harus banyak makan Dan minum biar lekas pulih. Ayo, buburnya dimakan, sayang.”
Aku tetap memperhatikan langit-langit kamar. Sejak kapan Mamak memanggilku sayang. Aku tidak Akan makan, biar Mamak puas.
“Kau masih marah pada Mamak?”
Aku diam Saja. Menganggap Mamak tidak Ada di sebelahku.
Mamak menghela napas pelan. Meletakkan mangkok bubur di atas meja. Memperbaiki tudung rambut, beranjak ke Luar kamar. Samar-samar aku mendengar Mamak Dan Bapak bicara, juga suara Amel Dan Ismail yang bertengkar. Meski mulutku terasa pahit, perutku sebenarnya lapar. Tetapi aku tidak Akan makan disuapi Mamak, tidak juga makan dilihat Mamak. Kepalaku terasa semakin berat, mataku berkunang-kunang, tubuhku kembali menggigil.
Aku pelan menarik kemul, berusaha tidur.
Pukul Dua malam aku terbangun. Perutku mual. Kepalaku pusing sekali. Aku menyentuh lenganku Mamak, berusaha membangunkan, Dan belum selesai Mamak memperbaiki anak rambut di dahi, aku sudah muntah. Mengotori lantai kamar.
“Kau baik-baik Saja, Badim?” Walau Mamak terlihat tenang, suaranya berdentang kecemasan. Tangannya segera meraih ember di bawah tempat tidur.
Aku menggeleng, wajahku kuyi, tidak terlalu mendengarkan pertanyaan Mamak, perutku bergejolak lagi, muntah kedua kalinya. Ketiga kalinya. Mamak lembut mengurut tengkukku, “Istigfar, sayang. Istigfar.” Memberikan gelas air putih hangat.
Lima belas menit, serangan mual Itu berlalu. Mamak membantuku berbaring lagi. Saat itulah semua kebencian, prasangka buruk, rasa marahku kepada Mamak berakhir. Dengan kondisi tubuh lemah, Kepala tergolek di bantal, aku menatap Mamak yang meraih Kain, mengelap keringat di dahiku.
Itu malam kelima Mamak menungguku. Tidak lepas aku dari pandangannya yang awas. Selalu memastikan aku baik-baik Saja. Mamak kurang tidur, tidak enak makan Dan dipenuhi pikiran, tetapi air mukanya tetap teduh. Tangannya lembut menyeka peluhku.
“Kau lihat apa, Badim?” Mamak bertanya, tersenyum menyadari kalau aku memperhatikannya.
Aku hanya diam, dadaku tiba-tiba terasa sesak, mataku terasa panas. Di Luar gerimis kembali turun. Disahuti dengking kodok hutan yang riang menyambut hujan.
Mamak jongkok membersihkan muntahku di lantai. Gerakan tangannya cekatan, seperti tahu benar apa yang sedang Dan Akan dikerjakannya, keluar sebentar membawa ember kotor, masuk kembali dengan Dua helai pakaian bersih.
“Kau ganti baju, ya. Yang ini sudah Kotor terkena muntah.”
Aku mengangguk. Membiarkan Mamak menuntunku duduk, tangannya yang lembut bergerak cepat, napasnya yang mengenai kepalaku. Mataku sudah berair. Lihatlah, Dua helai baju ini bersih disetrika rapi. Rasanya hangat Dan wangi. Sepuluh tahun lebih Mamak mencuci pakaianku, mungkin berbilang beribu kali dia melakukannya, beribu potong baju telah dia siapkan untukku, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya. Aku hanya tahu pakaian-pakaian kami Ada di lemari, sudah siap digunakan. Kalau Kotor, tinggal dilepas, dilempar ke ember cucian. Dadaku yang sesak berubah Menjadi isakan.
Aku memeluk Mamak.
“Kau kenapa, Badim?” Mamak yang setengah Jalan mengganti pakaianku menyeringai bingung.
“Maafkan Badim, Mak. Sungguh maafkan, Badim.”
Oi, sepuluh tahun lebih Mamak memasakkan makanan untukku. Sudah berapa just butir nasi yang disiapkannya. Berapa ratus ribu gelas air minum yang dijerangnya. Bertumpuk-tumpuk piring sayur Dan lauk yang boleh jadi sudah setinggi bukit. Penuh kasih sayang, tanpa pernah berharap imbalan selain doa agar kami Menjadi anaka yang baik. Bagaimana mungkin aku menuduh Mamak benci kepadaku, tidak lagi sayang. Belum lagi saat kami jatuh sakit, dia mengurus air kencingku, muntahku, berakku, semuanya, tanpa lalai meninggalkan kewajiban lain.
“Maafkan Badim, Mak. Sungguh.” Malam Itu aku menyadarinya.
Bapak benar, “Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan Sekali-Kali… Karena jika kau tahu sedikit Saja apa yang telah ia lakukan Demi kalian, maka yang kau tahu Itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”
“Tidak Ada yang perlu dimaafkan, sayang” Mamak tersenyum lebar, membalas pelukanku. Dan aku tergugu, lihatlah, aku seperti bisa melihat wajah wanita paling cantik sedunia. Wanita yang Akan selalu menyayangiku, wanita nomor Satu dalam hidupku. Itulah Mamakku.
Di Luar orkestra kodok terdengar indah sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *