Semalam di Cianjur Bagian 1

Tubuh mungil itu berdiri di depan pintu kamar hotelku.
“Riska?!”
“Amel!”
Kami berpelukan. Cukup lama.
“Ayo masuk. Sorry. Aku agak pangling. Kulitmu sekarang agak hitam. Tapi kau masih cantik seperti dulu,” kataku.
“Yah, namanya juga ibu tani. Tapi aku menikmati keadaanku,” sahut Riska.
“Rasanya seperti mimpi ya. Gadis kembang SMA I Jakarta akhirnya terdampar di Cianjur,” gurauku.

Setamat SMA, Riska menikah dengan Adit, seorang sarjana pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor. Yang membuatku salut, Riska bersedia diajak hidup dan tinggal di desa.

Riska Cuma tertawa. “Suratan takdir. Kita Cuma bisa mengikutinya seperti air mengalir.”
“Ngomong-ngomong anakmu berapa?”
“Tiga orang.”
“Ha? Tiga? Apa enggak salah tuh? Getol amat? Rasanya baru kemarin kamu menikah.”
“Eh, jangan salah, Mel. Aku kan sudah 10 tahun menikah. Kau sendiri bagaimana? Kapan married?”
Aku tak langsung menjawab.

Riska mungkin merasa tak enak hati, dia langsung mengalihkan persoalan. “Jadi, sejak kapan kau berada di Cianjur, tepatnya di kota wisata Cipanas ini?”
“Aku sudah tiga hari di sini. Biasa, acara meeting kantor. Hari ini seharusnya aku sudah pulang. Semalam aku iseng-iseng cari nomor teleponmu, untung masih tersimpan di buku alamatku.”
“Kalau begitu, jangan langsung pulang. Menginaplah semalam di rumahku.”
“Ah, nanti merepotkan.”
“Merepotkan apa? Aku ingin menjamu sahabat yang 10 tahun berpisah. Sesekali boleh dong orang kota bermalam di rumah panggung yang terletak di pinggir sawah. Jangan di hotel melulu.”
“Aku harus izin bosku dulu,” kataku seraya memencet bel kamar sebelah.
“Bos, aku pulang duluan. Dijemput kawan lama.”
“Siapa?” terdengar nada cemburu.
“Teman SMA-ku. Dia menikah dengan pemuda asal Cianjur. Aku diajak bermalam di rumahnya.”
“Bagaimana dengan janji kencan kita malam ini?” ada nada kecewa dalam suara itu.
“Sorry, Bos. Lain waktu deh.” Aku menutup gagang telepon.

Pukul 10.00 pagi kami check-out dari Hotel Sangga Buana. Kemudian dengan Starlet kuningku, kami segera menuju rumah Riska.

“Di sini kaca mobil tak perlu ditutup. Dijamin tak ada debu yang mengotori mobil kesayanganmu. Biarkan udara dingin menerpa wajahmu. Rasanya segar sekali. Kau tak akan pernah memperolehnya di Jakarta,” kata Riska.

Menjelang Restoran Pagi-Sore, Riska memintaku belok ke kanan. Jalanan menanjak cukup curam. Di kiri kanan kami tanaman sayuran membentang.

“Hampir semua penduduk sini hidup dari bertani. Mereka menanam bawang daun, cesin, wortel, labu siam, buncis, dan kubis,” Riska menjelaskan.

Kira-kira dua kilometer dari jalan raya, kami tiba di hamparan kebun the. Warnanya menghijai. Para wanita dengan tudung bamboo di kepalanya tampak asyik memetik daun-daun yang masih muda. Mereka tampak begitu terampil dan cekatan.

“Ini namanya kebun teh Gambung. Tempat penelitian the dan kina. Pusatnya ada di Bandung. Di belakang sana itu Gunung Gede. Hampir tiap pagi gunung itu selalu bersaput kabut. Seperti saat ini. Pokoknya kau tidak akan pernah bosan memandangnya,” Riska menjelaskan.

Mobil terus melaju. Kira-kira lima menit kemudian akhirnya kami sampai di sebuah rumah panggung yang cukup besar dan cantik.

“Kita sudah sampai.” Riska mempersilahkanku memarkir mobil di halaman.

Jarak dari hotel di Cipanas dengan rumah sobat kentalku itu sekitaar lima kilometer. Riska dan keluarganya tinggal di kaki Gunung Gede, tepatnya di desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Rumah itu terkesan rapih dan apik. Dindingnya terbuat dari anyaman pagar bamboo, sedangkan lantainya tersusun dari papan. Dari teras rumah yang terbuat dari sebilah papan, kau dapat merasakan dinginnya hembusan angin.

Kursi dan meja tamunya terbuat dari bamboo hitam. Namun dilapisi bantal kaain dengan motif tanaman buah-buahan.

Dari balik jendela ruang tamu, kau dapat menikmati hamparan sawah hingga sejauh mata memandang. Nun jauh di ujung sana, barisan pepohonan hanya membentuk bayangan hitam.

“Sepi. Anak-anakmu ke mana?”
“Yang paling tua, Dina, sekolah. Dia kelas tiga SD. Nomor dua, Dini, juga sekolah, di kelas satu SD. Yang paling kecil, Dinar, umurnya baru tiga tahun. Dia tiap hari kit ayahnya ke sawah. Betul-betul anak petani.”
Ada nada bangga dalam suara Riska.

Aku diajak ke sawah. Riska begitu lincah melintasi pematang sawah yang sempit.

“Pelahan sedikit, Ris. Aku hampir kecebur ke sawah.”
“Oh, sorry. Orang kora kan tak terbiasa berjalan di pematang sawah.”
“Ayah, masih ingat Amel? Temanku waktu SMA dulu.”
Yang dipanggil tampak tengah asyik mencangkul tanah. Dia segera mendongak. Tubuhnya bermandi peluh. Namun dia kelihatan sehat, gagah, fan bugar.

Dia segera mencuci tangan di sungai kecil yang mengalir di samping petakan swah. Kemudian berjalan menghampiri kami.

“Apa kabar, Mel?” ujarnya seraya menjabat erat tangnku. Alangkah kokoh jabat tangannya. Betapa beruntung wanita yang memilikinya.
“Baik, Kang Adit. Kayaknya makin sukses saja sebagai petani.”
“Alhamdulillah.”