Semalam di Cianjur Bagian 2

Sore hari, Riska mengajakku ke kota Cianjur. Kami makan lontong di warung lontong sinar. “Ini lontong paling terkenal di Cianjur. Kata Kang Adit sudah ada sejak tahun 70-an, saat dia masih SD. Sampai sekarang tidak buka cabang di tempat lain. Suamiku bilang, belum lengkap ke Cianjur kalau belum makan lontong sinar.”

Riska juga mengajakku mampir di toko manisan buah.
“Ini salah satu oleh-oleh khas Cianjur. Kamu pasti suka.”
Kami membeli manisan salak, mangga, dan kedongdong.

Malam hari, kami makan bersama. Kang Adit membakar ikan mas yang diambil langsung dari kolam ikan di belakang rumah.

Riska membuat sumbu sambal tomat. “Mau tahu bumbunya? Gampang. Tomat mentah, dicampur cabai, bawang merah dan terasi goring, plus jahe. Jangan lupa garam secukupnya. Lalu tumbuk sampai halus. Siap dihidangkan,” kata Riska saat membuat sambal.

Riska menanak nasi di tungku dapur. “Kang Adit lebih suka nasi yang ditanak di atas tungku dapur. Katanya wanginya lebih alami, ketimbang yang pakai kompor minyak tanah atau kompor gas.”

Tak lama kemudian semua sudah siap. Nasi beras merah yang kata Riska padinya dipetik dari sawah sendiri. Ikan mas bakar dan sambal. Lalap waluh siam rebus dan daun cesin. Serta pisang ambon lumut.

“Berani taruhan, kamu pasti nambah, Mel. Mana ada makanan selezat ini di Jakarta?” goda Riska.

Selesai makan, anak-anak Riska segera tidur. Namun kami masih asyik mengobrol sambil menikmati wedang jahe dan kentang rebus.

“Kayaknya Kang Adit menikmati betul hidup sebagai petani. Saya lihat, Riska juga ikut-ikutan terpengaruh,” kataku.
“Profesi ini membuat saya bahagia,” sahut Kang Adit.
“Apa sih arti kebahagiaan dalam pandangan Kang Adit?” tanyaku penasaran.
“Sederhana saja. Hidup dalam sebuah lembaga bernama keluarga, dengan istri yang sholehah dan anak-anak yang cantik serta pintar. Memiliki pekerjaan yang halal dan mencukupi. Memiliki cukup waktu bagi istri dan anak, cukup waktu untuk ibadah, sehat jasmani dan rohani. Kalau kita memiliki semua hal tersebut, berarti kita menguasai dunia ini dan seluruh isinya.”
“Kenapa Kang Adit memilih pekerjaan sebagai petani?”
“Menjadi petani adalah pekerjaan yang terindah dalam hidup ini. Kita bisa setiap waktu bersentuhan langsung dengan alam dan menikmati kebesaran Tuhan. Lagi pula, biarpun tinggal di desa, tidak berarti kita harus ketinggalan pergaulan internasional. Sekarang zaman internet. Di manapun kita tinggal, selama ada saluran listrik dan telepon, kita dapat mengikuti perkembangan dunia dari sudut kamar kita.”
“Ngomong-ngomong, kenapa Kang Adit tidak membeli mobil? Saya yakin, Kang Adit mampu. Kata Riska sawah yang dimiliki lebih dari satu hektar.”
Kang Adit tertawa. “Apakah seorang petani butuh mobil? Pekerjaan saya ada di sawah, bukan di jalanan. Jadi, sepeda motor saja cukup. Kalau perlu ke mana-mana, tinggal sewa mobil saja, beres.”

Pukul 10 pagi aku pamit pulang. Riska dan Kang Adit memnuhi bagasi mobilku dengan segala macam oleh-oleh. Ada pisang ambon lumut satu tandan, kentang setenagh karung kecil, bawang daun, cesin, wortel, seledri, kubis, labu siam, buah kaboca, bahkan 10 liter beras merah.

“Waduh, bisa-bisa aku disangka mau dagang nih.”
“Tenang saja, Mel. Kapan kau datang lagi ke mari, akan aku isi mobilmu sampai ke kursi penumpang,” gurau Riska.

Sepanjang jalan pulang aku senantiasa terkenang pada kedamaian, keteduhan dan kemesraan yang menggayuti kehidupan Riska dan keluarganya. Aku merasa iri kepada mereka.

Umurku sudah 29 tahun. Namun aku masih sendiri. Aku hinggap dari satu lelaki ke lelaki lain. Termasuk bosku. Posisiku cukup mapan sebagai seorang sekretaris direktur salah satu perusahaan konglomerat.

Tadinya aku mengira dengan petualangan cinta dan seks itu aku dapat merengkuh kebahagiaan. Namun, yang kuperoleh hanya kehampaan. Jika tengah malam tiba, dan aku mendapati diriku sendirian di kamar tidurku, alangkah sunyi. Kebahagiaan itu begitu jauh untuk kugapai.

Tiba-tiba saja ada perasaan rindu yang menyelinap. Sebuah perasaan indah tentang hidup, cinta, keluarga, dan… Mike.

Mendadak wajah lelaki itu menghiasai seluruh relung hatiku. Lelaki yang teguh pendirian, punya wawasan luas, memiliki selera humor yang baik, rajin shalat, dan selalu mengejar-ngejarku namun tak pernah sekalipun berbuat kurang ajar padaku. Kami berteman baik, namun aku tak pernah berpikir untuk menikah dengannya.

Pekan lalu kami baru saja bertengkar hebat. Dia menawarkan, dan bahkan ‘setengah memaksaku’ untuk menikah. “Aku ingin mengajakmu menelusuri kebahagiaan hidup dalam bahtera pernikahan. Kamu tak boleh menolak, Mel.”

Tentu saja aku berontak dan marah. “Kau mau merampas kebebasanku ya? Kamu pikir, kamu ini apa dan siapa ku?” teriakku sambil menggebrak meja.

Aku meraih telepon genggam. Lalu mencari-cari nomor telepon Mike. Terdengar nada masuk, namun tidak ada yang mengangkat. Tiba-tiba terdengar suara, “Maaf, saya sedang sibuk mencari wanita yang bersedia untuk kunikahi. Tinggalkan nama dan nomor telepon anda, saya akan menghubungi segera.”