Seorang Penyair Dan Pendongeng Ulung Di Kerajaan Bagian 9

Sebelumnya seorang penyair dan pendongeng ulung di kerajaan bagian 8.

Bagaimana mungkin kucing yang lemah ini mampu menyeret satu karung penuh yang berisikan uang logam yang sangat berat.

Dengan cengkeraman gigi dan cakarnya, kucing itu membawa naik karung itu lewat yang tinggi menuju ke tembok benteng. Para prajurit itu dengan kagum mengikutinya terus. Lalu kucing itu mengikat karung itu dengan tali dan menurunkannya pelan-pelan ke luar benteng.

Kucing itu lalu menyusul karungnya, menuruni tali itu sampai selamat di tanah. Para perjurit itu seperti tersihir melihat adegan itu dengan takjud. Dengan sigapnya si pencuri itu menaikkan karungnya ke dalam gerobaknya dan memecut untanya supaya ngebut. Ia pacu terus kendaraannya itu sampai secepatnya masuk ke dalam sebuah gua.

Ia taruh karung emas itu tersembunyi di balik batu. Sambil menggaet satu dua keping, ia lalu bergegas ke luar. Alangkah bahagianya ia sekarang, bisa membalaskan dedamnya kepada Raja. Satu karung itu nilainya 500 juta dinar. O, alangkah banyak uangnya sekarang. Ia bisa membeli apa saja yang ia suka. Ia bisa setiap hari makan makanan di restorant yang mahal-mahal. Ia bisa membangun villa dengan kolam renangnya. Ia bisa piknik keluar negeri yang jauh –jauh sekali pun.

Setiap hari, si pencuri itu menengok karungnya dengan sangat rahasia sekali. Tak ada seorang pun yang tahu. Hingga pada suatu hari, ketika ia mengendap-ngendap ke gua kesayangannya, ia sangat kaget dan cemas karena karungnya bertambah menjadi tiga.

‘Aduuuhhh,’ desahnya ketakutan. ‘Ampun, mati aku!’

Di rumahnya ia tak berhenti memeras otak. Siapa yang menaruh dua karung itu? Siapa pencuri lihai yang mengetahui gua kesayangannya itu?

Beberapa hari kemudian si pencuri itu mampir ke guanya. Bukan main kagetnya ia, ketika ia menengok kekayaannya. Sekarang bertambah menjadi lima karung. Ya, Tuhan! Siapa pencurinya yang gagah berani itu? Apakah para prajurit penjaga gudang itu? Tapi kenapa mereka tahu gua rahasianya? Ini pasti tak tik untuk mengelabuiku.

Jika ia tertangkap maka ia akan menjadi tertuduh tunggal, mengingat semua hasil curian berada di guanya. Kembali ia menunggu seminggu kalau-kalau tersiar  desas-desus tentang pencurian harta Raja. Ternyata tetap sepi. Dengan marah besar si pencuri itu mengintip di balik batu di dalam gua itu berhari-hari supaya bisa menangkap basah sang maling itu. Tapi usahanya sia-sia. Tak seorang pun yang muncul. Lalu ia ngeloyor pulang ke rumah dengan hati kesal. Di rumah ternyata ia sudah ditunggu surat undangan Baginda supaya datang ke istana.

‘Matilah aku’ desah si pencuri itu cemas. ‘Kejadian ini semua barangkali memang Raja yang membuatnya. Beliau sudah tahu, kalau aku pencuri hartanya. Karena marah besar baginda menambah berkarung-karung supaya aku puas dan bertambah besar dosaku.’

Maka berangkatlah si pencuri itu ke istana dengan murung. Di sana Baginda langsung berkata:

‘Aku kecurian lima karung emas. Dua puluh satu prajurit penjaga gudang kekayaan itu sudah ditanya. Mereka menjawab bahwa pencurinya itu adalah seekor kucing.’

‘Lho, kenapa kucingnya tidak ditangkap saja Baginda.’

‘Mereka tersihir. Mereka terkagum-kagum setiap melihat kucing yang lemah itu datang kembali untuk menyeret karung-karung yang sangat berat itu.’

‘Barangkali penjaganya kong kali kong dengan kucing itu.’

‘Itulah dugaan kami semua. Tapi para penjaga sanggup di hukum apa saja untuk membuktikan diri kalau mereka bersih. Kesa-lahan mereka, ke 21 penjaga gudang itu tidak mengindahkan aturan berjaga di malam hari. Aku mewajibkan bagi yang berjaga di malam hari untuk tidak menghabiskan waktu dengan perbuatan yang bukan-bukan. Dan kudengar mereka, pada malam kecurian itu, malahan banyak yang bercanda  dengan kucing, tidur, main catur. Mereka lupa salat malam dan membaca al-Qur’an.’

Si pencuri itu tertunduk. Perasaannya bercampur baur. Takut. Marah. Cemas. Kecewa. Putus asa.

‘Aku undang engkau kemari untuk aku mintai tolong untuk menangkap pencuri itu. Seorang prajurit yang tidak melanggar aturanku diam-diam membuntuti kucing itu. Dan rupanya binatang aneh itu berjalan menuju rumahmu.’

‘Siap, Baginda,’ seru si pencuri itu sambil minta diri berlari keluar istana.

Ia pacu gerobak untanya menuju gua kesayangannya. Dengan mengendap-ngendap ia masuk ke gua. Ia gembira karena Raja tidak tahu bahwa ia salah satu pencurinya itu. Tapi ia juga cemas kalau pecurinya itu terus-menerus menambahkan karung-karungnya di sini. Begitu sampai di dalam gua dan menjenguk dibalik batu itu, ia pingsan seketika.

Beberapa saat kemudian ia siuman, ia tercenung merenungi nasib sialnya. Sial amat. Perlahan ia jenguk lagi karung-karung dibalik batu itu. Ia jatuh sedih dan murung sekali. Apa sebab? Seluruh karungnya telah lenyap! Tak sekeping pun di sisakan untuknya. Betul-betul kejam. Dan raja tega!

‘Ya, Tuhan! Teriaknya sambil berlari keluar gua. Dan secepatnya ke gerobak untanya dan ngebut ke satu sasaran: si tukang sihir!

‘Yaaa! Ketahuan kamu!’ teriaknya dengan kemarahan yang menyundul langit. Dirumah si tukang sihir itu ia cuma menemukan seekor kucing. Dengan marahnya di bentak-bentak  pula kucing itu tapi binatang itu cuma mengeong-ngeong saja. Si pencuri itu binggung, ini kucing betulan atau kucing jadi-jadian?  Dari tetangganya si tukang sihir itu, si pencuri itu diberi tahu bahwa orang yang yang di carinya itu sudah pindah jauh, ke Yordania.

“Begitulah, Baginda. Baginda tentunya paham se-paham-pahamnya mengapa si Raja itu tidak pernah membagikan makanan dan uang kepada si pengembara itu,” kata si Abu Nawas dengan takzim.

“Terima kasih atas ceritamu yang sungguh menarik. Dan ngomong-ngomong, sebelum engkau juga ikut-ikutan jadi kucing, sebaiknya kuberi engkau sekarang hadiah uang 50 juta dinar!” kata Baginda Raja Harun al-Rasyid sambil tersanyum simpul.

“Alhamdullilah,” sahut si Abu Nawas dengan napas yang panjang.*