‘Sorga’ Terkapar di Luar Jendela Bagian 2

Tapi, ah, kenapa pikiranku jadi demikian kotor, demikian dengki? Siapa tahu dia wanita baik-baik, wanita karier yang sukses, direktur bank atau perusahaan besar, dan masih lajang. Beruntunglah laki-laki yang berhasil menyuntingnya nanti, bisa tinggal ongkang-ongkan jadi ‘pejantan’ di rumah. Tinggal nunggu istri cantik pulang dari kerja, membawa oleh-oleh dan gaji besar.

Ya, aku tidak boleh mendengki orang-orang kaya hanya karena aku miskin, pikir lelaki kurus itu lagi, menyadari kekeliruan hatinya yang dengki, sambil melirik perempuan cantik itu lagi. Bagaimana jadinya negeri ini jika tidak ada orang kaya? Siapa yang sanggup menyantuni orang-orang miskin? Astagfirullah, ya Allah, ampunilah kedengkian hatiku. Ikhlaskanlah aku menerima kemiskinanku ini sebagai cobaan dari-Mu.

Lelaki kurus pucat itu terkantuk-kantuk di jo belakang Baby Benz, di sebelah wanita cantik berbau harum, dalam kenikmatan yang luar biasa, suatu kenikmatan yang sangat asing dan baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya. Perempuan cantik itu tiba-tiba mengambil kerudung dari tas dan mengenakannya.

Lelaki kurus ingin menyapa perempuan cantik itu, ingin minta maaf atas prasangka buruknya, atas kedengkian hatinya, dan memujinya, bahwaa dalam lingkaran kerudung cokelat muda wajah perempuan itu tambah mempesona. Tapi, tiba-tiba sopir sedan mewah itu memijak rem secara mendadak gara-gara ada sebuah jip putih yang memotong jalan di depannya tanpa member tanda-tanda.

Wanita cantik di jok belakang mobil mewah itu agak terguncang. Bibirnya terbentur sandaran jok di depannya. Sedang lelaki kurus pucat itu terlempar kembali ke dalam bus kota, dalam gencetan antara bingkai jendela bus dan lelaki berewok gemuk gempal di sebelahnya. Ia sangat tekejut karena tiba-tiba kembali merasakan nafasnya yang sesak dan seluruh otot serta tulang-tulangnya ngilu karena tergencet.

“Tuha, kenapa aku Engkau kembalikan ke nereka siksaan ini! Kembalikan aku ke sorga!!!” lelaki kurus itu tiba-tiba berteriak dengan seluruh kekuatannya yang mendadak terkumpul seperti ledakan dinamit. “Kembalikan aku ke sorga!!!” teriaknya lagi.

Seluruh penumpang bus kaget dan menoleh ke arahnya. “Wong edan! Ini bukan sorga. Ini bus kota! Ini Jakarta! Sudah, diam! Jangan teriak-teriak. Kalau mau turun, turun saja!” bentak lelaki di sebelahnya.

“Tuhaaan, bebaskan aku dari neraka ini!!!” teriak lelaki itu lagi dengan seluruh kekuatannya. “Bebaskan aku!!!”
“Sudaaah!!! Diaaam!!!” bentak lelaki gemuk di sebelahnya, tak kalah kerasnya.
“Kiriii!!! Ada orang gila dalam bus!!! Kiriii!!!” teriak penumpang yang lain.
“Kiriii!!!” teriak semua penumpang hampir berbarengan.

Namun bus terus melaju kencang karena kini sedang melewati jalan laying cukup panjang.

“Kembalikan aku ke sorga!!!” teriak lelaki kurus itu lagi.
“Diaaam!!!” bentak leaki gemuk di sebelahnya.
“Kiriii!!!” teriak yang lain.

Bus terus melaju makin kencang, karena kini telah masuk jalan tol kota Jakarta, menuju priok.

“Kembalikan aku ke sorga!!!” teriak lelaki kurus itu lagi sambil memberontakkan tubuhnya dari gencetan lelaki gemuk yang di sebelahnya dengan seluruh kekuatannya.
“Diaaam!!!” bentak lelaki gemuk itu dengan suara menggelegar.
“Kembalikan aku ke sorga!!!” teriak lelaki kurus itu lagi.

Dan, pas di ujung teriakan itu tiba-tiba lelaki gemuk gempal di sebelahnya berdiri dan melayangkan kepalannya tiga kali ke wajahnya. Lelaki kurus pucat itu pun seperti terlempar dan kepalanya langsung membentur jendela kaca bus kota. Kepala lelaki kurus itu memuncratkan darah dan kaca jendela bus pecah berkeping.

Persis ketika bus kota itu berhenti di sebuah halte, tak jauh dari pintu keluar tol, lelaki kurus itu jatuh menggelosot ke bawah jok, tanpa bersuara lagi. Semua penumpang berebutan turun, takut keributan itu berimbas pada mereka.

Usai meng-KO si lelaki kurus, leaki gemuk kekar itu pergi begitu saja. Kernet dan kondektur bus cepat-cepat menolong lelaki kurus itu dengan menariknya dari bawah jok. Namun, ia sudah tidak bernafas lagi. Lelaki gemuk itu agaknya telah benar-benar mengembalikan si kurus ke “sorga”.

TAMAT