Undian Bagian 1

“Yesss!!! Alhamdulillah!” Abqori mengepalkan tinju kanannya sambil tertawa senang. Ia berjalan masuk kamar diiringin senandung ciptaannya sendiri.

Di ruang makan, aku mengikuti tingkahnya dengan gelengan kepala. Sudah jadi kebiasaan Qori, begitu adik lelaki itu dipanggil, untuk menebak atau menjawab suatu sayembara atau pertanyaan, meski tidak ditujukan untuknya. Jawaban tebakan itu ia tulis di sebuah buku harian kecil, tidak akan diubah lagi. Ketika jawaban yang benar diumumkan di media cetak atau elektronik, ia akan mencocokkannya dengan buku kecilnya. Dan, subhanallah, hampir semua tebakan dan jawabannya benar. Menurut perhitungan Qori sendiri hanya dua belas persen tebakannya salah. Ih, bagaimana dia menghitungnya aku tak tahu!

“Mulai lagi deh, dia!” ejek Yani, adik bungsuku sambil menyendok nasi ke piring. “Lama-lama bakal sintung tuh anak!”
“Astagfirullah, Yani! Kau tak boleh berkataa begitu! Dia itu kakakmu!” sergahku tidak suka. Kuhentikan acara makanku untuk berbicara. “Bagaimana pun dia, kamu harus menghormatinya! Dan… hentikan bicara yang tidak enak didengar, lebih baik dzikir, meski hanya satu kata!”
“Baik, baik, Bu Guru…” Yani tersenyum kepadaku, meluluhkan rasa marah yang hampir memuncak.
“Biarkan dia dengan keasyikan sendiri…” kata-kataku terputus dengan kehadiran Abqori tiba-tiba.
“Wah… time for lunch! Sayur lodeh kesukaanku!” Qori mengambil tempat di sebelah Yani. Sikapnya yang optimistis mengingatkanku pada sosok ayah kami yang telah tiada empat tahun lalu. Keriangan dan keramahan Qori juga mencerminkan sikap Ibu almarhumah menurun padanya.
“Tadi itu sayembara apalagi, Kak?” Tanya Yani sambil mencolek sambal terasi.
“Oh,… itu, pemilihan penyanyi favorit versi obat batuk!” kata Qori tenang.
“Kakak memilih siapa?” usik Yani.
Qori menatapnya agak jengkel. “Pokoknya ada, sudah tertulis. Benar atau tidak kita lihat saja nanti!”
“Kirim saja tebakannya, Kak! Kalau menang, hadiahnya lumayan lho!”
“Eee… ini anak mulai mata duitan, ya! Ikut undian kayak gitu haram, tau! Mending cari uang dengan cara halal, meski sedikit tapi barokah!”
Aku tersenyum melihat tingkah kedua adikku.

Aku masuk kelas agak terlambat. Karena bangun kesiangan. Murid-muridku sudah menunggu di dalam kelas sambil mengobrol ramai.

“Assalaamu’alaikum!” salamku begitu memasuki kelas.
“Waalaikum salam warah matullaahi wabarakatuuuh!” serentak mereka menjawab. Setelah itu biasanya kelas menjadi hening, lalu dilanjutkan berdo’a. tapi pagi itu anak-anak sangat ramai. Terutama di bangku Aliya, murid paling kaya di kelasku. Kulihat Aliya masih sibuk bicara dengan teman sekelilingnya.

“Anak-anak! Mari kita berdo’a dulu! Kataku tegas. Tapi gumam suara masih terdengar dari arah yang sama. Aku melangkah mendekat. Anak-anak itu cepat terdiam melihatku menghampiri mereka.
“Ada apa, Aliya? Reina? Syarifah? Adyana?” tanyaku pada anggota genk kecil itu.
“Nggak, Bu, nggak ada apa-apa,” jawab Reina, pentolah genk yang paling berani.
“Mama Aliya menang mobil, Bu!!” teriak Bekti, murid paling badung di kelas. Anak-anak mulai ramai. Aku mengangkat tangan, mengisyaratkan agar tenang. Kutoleh Aliya.
“Benar begitu, Aliya?” tanyaku arif.
“Benar, Bu. Mama ikut undian sabun mandi, dapat juara satu, hadiahnya mobil. Lusa mama mau ke Jakarta ambil mobilnya…” jelas Aliya. Anak itu cukup cerdas, tapi juga manja.
“Ya sudah, ibu turut senang… dan sekarang kita akan berdoa dulu!” aku memulai rutinitas sebagai guru wali kelas tiga sebuah sekolah dasar favorit di kota kecilku.

Demam undian ternyata mewabah hingga ke kantor guru, bahkan kantor kepala sekolah. Obyek diskusi adalah Mama Aliya yang mendapatkan hadiah sebuah mobil keluaran terbaru, yang jika diuangkan mencapai ratusan juta rupiah harganya! Aku beristighfar, belum pernah aku melihat uang sebanyak itu.

“Bu Hana, kok melamun saja!” tegur Pak Eman, kepala sekolah.
“maaf, Pak, saya tidak melihat Bapak…”
“Besok anak-anak sekolah setengah hari, Bu. Kita diundang ke rumah keluarga Sudibyo, ada syukuran kecil katanya. Bu Dwi Sudibyo mendapatkan hadiah mobil…”
“Dan anak-anak harus diliburkan setengah hari?”

Aku mulai tidak percaya dengan apa yang kudengar. Tapi anggukan kepala sekolah itu menyadarkanku. Bukan hanya guru-guru yang ingin menikmati kegembiraan ini, tapi juga anak-anak, teman-teman Aliya.