Wak Yani Pergi Bagian 1

“Habiskan nasinya, Ismail!” Mamak mendelik.
“Ismail sudah kenyang, Mak.”
“Oi, kau baru makan dua sendok sudah bilang kenyang?”
Ismail mengangguk, seperti biasa memasang wajah tidak berdosanya. Semoga dengan begitu Mamak tidak memaksanya menghabiskan sarapan.
“Sepertinya tahun depan Kita harus membuka hutan lagi.” Mamak menoleh ke arah Bapak, “Lebih luas, bila perlu membuka hutan sungguhan, biar lebih berat mengerjakannya. Ismail sepertinya belum paham benar kalau setiap butir nasi Itu berharga.”
Pantat Ismail kembali terhenyak ke kursi, bergegas meraih sendok. Tidak mau, cukup sudah pengalaman membuka hutan, dia bergegas mengunyah nasi yang tersisa. Apalagi aku sudah sekolah SMP di Kota kabupaten, Itu artinya dia sendirian membantu Bapak menebas semak belukar, menebang pohon, melakukan pembakaran, menjaga ladang Dan sebagainya.
Aku terbahak mendengar cerita Itu. Ayuk Lia, Bapak Dan Mamak juga ikut tertawa. Hanya Ismail yang wajahnya terlipat, sebal dijadikan olok-olok Amel. Hari Itu, semua datang ke Kota kabupaten, kami beramai-ramai menjemput Wak Yani pulang dari Rumah sakit.
Tiga bulan lalu, ladang padi Bapak sukses besar. Tidak kurang seratus karung goni besar hasil panennya. Butuh seminggu lebih untuk mengani-ani pucuk batang padi, hilir mudik tetangga bergotong-royong. Dikurangi dengan zakat, jatah untuk tetangga yang selama ini membantu, hasil panen tetap menyisakan puluhan karung, Bapak menyimpannya separuhnya di gudang, separuhnya lagi dijual ke Kota, biaya melanjutkan sekolahku.
Tiga bulan itu aku sibuk. Setiap lepas sekolah bergegas menyusul ke ladang, baru pulang ketika jalan setapak mulai remang. Belum lagi persiapan ujian kelulusan SD. Mamak jika siangnya berteriak menyuruh mengerjakan apalah, malamnya tidak pernah lupa berseru tentang, “Kau sudah belajar, Badim? Kau sudah mengerjakan PR Pak Bejo, Badim?”
Tiga bulan berlalu, ladang Itu sudah ditanami dengan bibit kopi. Di kampung kami, jarang ladang ditanami padi Dua Kali, hasil panennya tidak sebaik yang Pertama. Tiga bulan berlalu, aku juga Lulus dari SD, dengan nilai yang baik. Ayuk Lia menemaniku mendaftar sekolah di Kota kabupaten. Dan tidak terasa, tahun ajaran baru dimulai, aku hanya bisa pulang ke kampung setiap sabtu petang, menumpang Mobil Colt yang tersengal melintasi bukit, kembali ke Kota ahad sore.
Meski aku ingin sekali sekolah di Kota provinsi atau bahkan di pulau seberang sana, aku tetap bersyukur dengan hanya melanjutkan di Kota kabupaten. Dari Lima belas teman sekelasku, hanya separuhnya yang melanjutkan SMP, termasuk Malik Dan Bunga. Beberapa orang memang tidak berminat lagi sekolah, lebih banyak yang tidak punga uang untuk ongkos hidup di kota. Aku tahu, Mamak Dan Bapak bekerja semakin keras untuk membiayai aku Dan Ayuk Lia. Belum lagi tahun depan Ismail juga menyusul ke Kita Dan Ayuk Lia melanjutkan SMA.
Semua berjalan lancar, tiga bulan berlalu sejak panen Besar, hanya Satu kabar buruknya. Wak Yani jatuh sakit. Tubuh rentanya terjatuh saat membantu panen, segera dibopong pulang. Bakwo Jar mengomel panjang lebar, bilang seharusnya dia tidak perlu memaksakan diri, bilang kenapa tidak menunggu kiriman padi Saja.
“Oi, kau sejak kapan berani memarahi aku, hah?” Wak Yani yang duduk bersandar di beranda rumahnya, kelelahan, memukul kaki Bakwo Jar dengan tongkatnya, mendelik kesal, “Gosh, siapa pula yang may jatuh di ladang tadi. Ini penyakit tua, mau bilang apa lagi. Kau berisik sekali protes, seperti aku ini masih kanak-kanak saja.”
Aku tertawa melihat Bakwo Jar yang salah tingkah. Meski sudah sama-sama tua, kedekatan Wak Yani Dan Bakwo Jar tidak Ada bedanya seperti Ayuk Lia denganku atau Ismail.
Sejak jatuh di ladang, kondisi Wak Yani memburuk. Sudah Dua Kali dia dibawa ke Rumah sakit, Bapak memaksanya membawa ke dokter. Tidak terhitung, Bu Bidan yang ringan kaki mengunjungi Rumah panggungnya, menyarankan banyak Hal. Dua minggu lalu, Wak Yani kembali terjatuh di balai-balai kampung. Kali ini Bakwo Jar tidak sempat protes panjang lebar soal dia terlalu memaksakan diri ikut rapat kampung, Wak Yani terlanjur dibawa ke Rumah sakit. Pingsan, tubuhnya berpeluh dingin.
Karena kami sekolah di Kota, aku Dan Ayuk Lia bergantian menunggui. Wak Yani sebenarnya punya anak, tetapi meninggal saat masih kecil, suaminya juga telah meninggal. Tidak Ada yang tahu cerita detail ya, tetapi menurut bisik-bisik Nur, anak Wak Yani meninggal bersamaan dengan suaminya, dalam peristiwa Besar kampung. Lebih dari Itu, Nur menggeleng tidak tahu lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *