Wak Yani Pergi Bagian 2

Nahas bagi dokter Dan suster yang merawatnya, setiap Hari Wak Yani sibuk mengeluh ingin pulang. Dia tidak betah tinghal di rumah sakit. Bilang semua pengobatan ini tidak cocok baginya, “Percuma Saja kau menyuntikku siang malam. Penyakitku ini tidak Ada obatnya. Ini penyakit tua.” Dan persis di Hari keempat belas, permintaan pulang Wak Yani tidak tertahankan lagi.
“Kalau aku ditakdirin mati, aku tidak mau mati di ranjang ini. Oi, apa indahnya mati di rumah sakit? Tergolek lemah tidak berdaya.” Wak Yani mendelik ke arah dokter yang berusaha membujuknya, bersabar, “Aku pernah berlayar dengan kapal Belanda, pergi ke negeri seberang. Aku tidak Akan memilih tempat ini untuk mati. Kau camkan Itu. Aku ingin pulang. Hari ini juga!” Wak Yani berseru-seru kesal, sambil berusaha melepas brlalai infus di tangan.
Kami terdiam mendengar kalimat-kalimat menusuk Wak Yani. Ayuk Lia terlihat menyeka ujung matanya, menatap sedih tubuh tua Wak Yani yang berontak di atas tempat tidur. Saat dokter ke Luar date ruangan, Ayuk Lia berlarian mengejarnya di lorong bangsal, “Bisakah… Bisakah Wawak kami diijinkan pulang?” Doktet menghela nafas, akhirnya mengangguk.
Maka Hari ini, Bapak, Mamak, Ismail Dan Amel pergi ke Kota, menjemput Wak Yani. Aku Dan Ayuk Lia juga Alan ikut pulang ke kampung. Sabtu ini tanggal merah.
“Tolong tongkatku, Amel.” Wak Yani menyuruh.
Amel bergegas menyerahkan tongkat yang sama tuanya dengan Wak Yani, membantu turun dari tempat tidur. Ayuk Lia Dan Mamak membawa tas berisi pakaian, Ismail membawa kantong plastik berisi obat-obatan. Urusan di meja administrasi Rumah sakit sudah diselesaikan Bapak. Sejak kami datang, Wak Yani terlihat lebih riang.
“Aku sehat-sehat Saja, Badim. Tidak perlu kau papah.” Wak Yani menolak uluran tanganku, melangkah perlahan ke halaman Rumah sakit, Dua dokar sudah menunggu.
Sepanjang perjalanan menuji stasiun kereta, di antara derap suara kaki kuda, Wak Yani satu-dua Kali tertawa, menceritakan empat belas harinya di rumah sakit kepada Amel, “Bukan tempat bertandang yang menyenangkan, Amel. Puuh, makanannya tidak enak, kau tidak Akan suka. Kencing di baskom, semuanya di tempat tidur.”
Aku menatap lamat-lamat wajah Wak Yani, tidak terlihat lagi kepayahan. Air mukanya cerah, lipatan keriputnya merah tidak pucat, Dan deru nafasnya terkendali. Syukurlah, Itu berarti Wak Yani memang sudah sembuh seperti yang dia bilang.
Siang yang menyenangkan, gumpalan awan di atas sana membuat jalanan Kota terasa sejuk. Semilir angin memainkan ujung-ujung tudung. Aku mengeluarkan Kepala dari bawah atap dokar, mendongak, rombongan burung terlihat terbang, warnanya putih, melenguh lantang. Menatap ujung-ujung atap Rumah, bukit yang melingkari Kota. Sepertinya ini Hari yang baik untuk melakukan perjalanan, Dan ternyata Wak Yani memang bersiap melakukan perjalanan jauh terakhirnya.
Meski setiap minggu bolak-balik pulang, aku Dan Ayuk Lia jarang menaiki kereta api. Kami lebih suka menumpang Mobil colt, lebih cepat Dan praktis. Dalam sehari, hanya Ada Satu kali jadwal perjalanan kereta penumpang yang melintasi kampung, jika kami terlambat, maka harus menunggu besok. Beda halnya dengan Mobil, Ada belasan yang menunggu penumpang di terminal Kota.
Wak Yani tidak mau menumpang Mobil, dia lebih suka kereta api. Ke sanalah dokar tiba setengah jam kemudian dari halaman Rumah sakit.
“Aku tidak perlu dibantu, Ismail.” Wak Yani menepis tangan Ismail yang hendak memapahnya menaiki gerbong kereta, “Lebih baik kau pastikan Saja karcis kau Aman. Kalau sampai hilang, nanti kau diturunkan petugas di jalan.”
Ismail buru-buru memegang sakunya, memastikan karcis Itu masih Ada di sana, segera menghela nafas Lega. Kami tertawa melihat tampang Ismail. Teringat, Dua tahun silam, saat Pertama Kali menaiki kereta api, Ismail nekad melepas seluruh baju untuk mencari karcisnya. Takut benar diturunkan kondektur di tengah terowongan.
Wak Yani tertatih berjalan di lorong gerbong, kepalanya menoleh kesana-kemari. “Gosh, sudah lama sekali aku tidak menaiki kereta. Sudah banyak sekali yang berubah.”
Ayuk Lia melambaikan tangan di ujung gerbong, menunjuk bangku yang kosong untuk kami bertujuh. Penumpang kereta tidak padat. Amel segera berlarian mendekat, ini untuk Pertama kalinya Amel menaiki kereta api. Wajahnya antusias, segera mencari posisi duduk terbaik, seperti bersiap menonton pertunjukan hebat.
“Kau lebih baik di sebelah sini. Pemandangannya lebih bagus.” Isnail menyeringai, menunjuk sebelahnya yang kosong.
Sungguh? Amel memastikan lewat ekspresi wajah. Ismail mengangguk. Tanpa menunggu lagi, Amel bergegas pindah ke sebelah Ismail.
“Kata siapa di sebelah Sana lebih bagus? Kau tidak bisa melihat sungai berkelok-kelok dari sebelah Sana.” Ayuk Lia membantah Ismail.
Sungguh? Amel menoleh Ayuk Lia, yang ditoleh mengangkat bahu. Terserah kalau today percaya. Tanpa menunggu lagi, Amel sudah loncat, melangkahi barang bawaab penumpang yang diletakkan di tengah lorong, pindah duduk di sebelah Ayuk Lia.
“Oi, di sebelah Sana hanya sungai berkelok-kelok. Di sebelah sini kau bisa melihat air terjun di kejauhan. Belum lagi elang-elang yang terbang di atas lembah.” Ismail tidak mau kalah.
Sungguh? Amel menoleh ke arah Ismail, yang ditoleh mengangguk mantap.
“Kau sebenarnya mau duduk di Mana, Amel?” Mamak melotot, terganggu dengan ulah Amel yang seperti setrikaan, bolak-balik.
“Amel mau duduk di sisi yang pemandangannya lebih bagus, Mak.”
“Sama Saja. Apalagi kalau sudah di terowongan, semua terlihat gelap.”
Amel meneguk ludah mendengar nama Itu disebut. Sama seperti aku Dan Ismail Dua tahun lalu, Dan juga anak-anak kampung yang Pertama Kali menaiki kereta. Bagian paling ditunggu-tunggu, membuat penasaran sekaligus, penuh misteri, apalagi kalau bukan ‘terowongan kereta’ sepanjang Lima pal Itu. Amel akhirnya beringsut duduk lebih rapi di sebelah Ayuk Lia. Wajah antusiasnya sesikit terlipat, digantikan seringai tegang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *