Wak Yani Pergi Bagian 3

POOOONG!
Suara ‘klakson’ kereta terdengar membahana. Dan belum habis gaungnya, kereta berderak mulai melaju. Masinisnya sudah menarik tuas kemudi.
Hari ini Wak Yani pulang.
Terlepas dari ulah Ismail yang sengaja menceritakan kisah-kisah seram ‘terowongan’ untuk menakut-nakuti Amel, perjalanan kami menyenangkan. Dari jendela kereta, langit terlihat mendung, membuat udara di dalam kereta tidak terlalu gerah. Wak Yani lebih banyak tertidur, Bapak Dan Mamak berbicara tentang urusan kampung, sementara kami lebih asyik memperhatikan sekitar. Sekali-dua menunjuk elang yang sedang terbang, bergegas pindah ke sisi Ismail.
“Oi, Kalian bisa membuat kereta miring.” Bapak tertawa melihat ulah kami, saling sikut melongok dari jendela kereta.
Kondektur yang bernama Sodikun Itu, melewati kami setengah jam kemudian. Tertawa lebar memeluk Bapak, mengobrol sebentar, menyapa ramah Mamak Dan Wak Yani. Dan melanjutkan tugasnya sama sekali tanpa perlu memeriksa karcis-karcis kami. Ismail mendengus kesal, padahal dia sudah berkali-kali memastikan karcisnya Aman, sudah menjulur-julurkan karcisnya ke arah Sodikun agar dibolongi, ternyata diabaikan.
Kereta api gagah mendaki bukit-bukit, menuruni lembah-lembah. Kelok sungai terlihat elok dari ketinggian, juga air terjun di kejauhan. Mamak benar, dari sisi Mana Saja pemandangan di Luar sana terlihat hebat. Pohon-pohon berpilin seperti berlari. Pedalaman sumatera yang masih permai.
“Sebentar lagi, Amel.” Bapak memecah keasyikan kami memperhatikan ekor kereta yang meliuk di belakang.
“Sebentar apa?” Amel menoleh.
“Terowongan kereta Itu.” Bapak mengedipkan Mata.
Amel sudah loncat ke sebelah Bapak, mendorong Ismail yang semestinya duduk di situ. Wajahnya berubah Menjadi tegang.
“Oi, ini tempat dudukku, Amel.” Ismail mendelik.
Amel tidak mendengarkan keluhan Ismail, dia sudah erat-erat mencengkram lenganku Bapak.
“Kau pindah ke sini, Ismail.” Mamakn segera menarik tangan Ismail yang bersiap mengusir Amel pindah, “Kau duduk dekat Mamak.”
“Tidak mau. Itu kan tempat duduk Ismail sejak dari kota.”
“Alasan, bilang Saja kau juga takut masuk terowongan kereta. Mau duduk dekat Bapak, kan? Biar Aman.” Ayuk Lia nyengir.
Puuh, Isnail melotot ke arah Ayuk Lia, siapa pula yang takut. Bersungut-sungut duduk di sebelah Mamak. Sengaja duduk sedemikian Rupa untuk memperlihatkan kalau dia tidak takut sama sekali.
“Terowongan Itu tidak Ada seram-seramnya, Amel.” Suara serak Wak Yani terdengar, dia sudah bangun dari tidur. “Schat, kau sebenarnya beruntung sekali. Siang ini Kau melewati terowongan bersama kakak-kakak Dan Mamak-Bapak kau. Andaikata terowongan Itu benar-benar setam, andaikata terjadi sesuatu, kau setidaknya bersama orang-orang yang selalu menyayangi Dan menjaga kau.”
Aku menelan ludah, bukan karena suara Wak Yani semakin serak, tetapi karena merasa aneh dengan kalimat Wak Yani. Bingung, menebak-nebak maksudnya.
“Ta- ta-pi katanya di Sana Ada ribuan romusha yang meninggal, Wak… Si Mata merah… Tidak bisa bernafas… Tiba-tiba pindah ke gerbong lain…” Amel bertanya takut-takut.
“Tidak Ada yang perlu ditakutkan, Mijn lieve.” Wak Yani merengkuh bahu Amel, “Sayangnya kau lupa bagaimana pengalaman Pertama Kali melewati terowongan Itu, kadi Aku tidak bisa menceritakannya lagi dengan baik. Itu selalu spesial. Tetapi Hari ini juga spesial, amat spesial. Sepertinya, ini untuk terakhir kalinya aku melewati terowongan kereta.”
Kami terdiam mendengar ujunh kalimat Wawak.
Bapak ikut menoleh ke arah Wak Yani, “Oi, Ayuk tidak boleh berkelakar seperti Itu.”
Wak Yani tertawa pelan, melambaikan tangan rentanya, “Aku tidak berkelakar. Kau lihat Saja, aku sudah tua, tujuh puluh tahun. Ini mungkin Saja jadi perjalanan terakhirku dengan kereta api.”
Wak Yani lamat-lamat memperhatikan seluruh gerbong. Bangku panjang yang berhadapan. Lorong gerbong yang dipenuhi barang bawaan. Kipas angin karatan di langit-langit. Kaca jendela yang retak.
“Lia, kalau aku sudah meninggal, kau boleh mengambil alat tenunku.” Wak Yani berkata pelan.
“Oi, Ayuk bilang apa?” Kali ini Mamak yang menyela, terperanjat.
“Ismail, aku tahu kau suka sekali dengan tongkat tua ini… Kau boleh mengambilnya.” Wak Yani tidak peduli, tetap melanjutkan kalimat, “Dan kau Amel, kau boleh memiliki seluruh permainan di rumah Wawak.”
Wajah-wajah kami tertoleh sempurna, meski kami tidak mengerti maksudnya, intonasi suara bergetar Wak Yani terdengar menusuk, membuat nyilu dada. Amel bahkan sekarang pindah memegang lengan Wak Yani, lupa sudah soal cerita seram terowongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *