Wak Yani Pergi Bagian 4

“Saiful, Nimas… Kalian Akan mengurus seluruh ladang Dan Rumah panggungku.” Wak Yani menyela ujung matanya. Urusan ini berat sekali bagi Wak Yani, seharusnya dia menyampaikan wasiat ini dalam situasi yang lebih baik, bukan di atas kereta API yang melaju kencang siap melewati terowongan.
“Hentikan!” Bapak menghardik Wak Yani, “Apa pula yang sedang Ayuk bicarakan.”
Wak Yani tersenyum dalam tangisnya. ” Kau tahu, aku selalu senang berada di antara anak-anak kau, Saiful. Mereka Menjadi pengganti yang baik anak-anakku yang lebih dulu meninggal. Aku yakin sekali, suatu saat kelak, mereka Akan tumbuh Menjadi orang-orang yang hebat dengan perangai tidak tercela.”
“Hentikan!” Bapak tersengal menahan emosinya.
POOOONG!
Kereta api sekali lagi melenguh panjang. Seperti biasa, masinisnya tidak lupa memberikan sinyal kalau kereta bersiap memasuki terowongan. Suara klakson kereta yang menahan kelanjutan kalimat Wak Yani, serta seruan marah Bapak.
POOOONG!
Selepas gaung lenguhan Itu hilang ditelan deru kereta, maka saat Itu juga seperti Ada berlembar-lembat kertas karbon tipis yang menutupi sekitar. Perlahan-lahan semua benda di sekitarku mulai terlihat remang. Aku melihat lenganku yang semakin buram. Dan dalam hitungan sepersekian detik, cahaya seperti ditelan kesaktian terowongan. Splassh. Gulita sudah. Seperti Ada yang menampar lembut perasaanku. Kami sudah masuk ke dalam terowongan. Bagian paling misterius, paling ditunggu dalam setiap perjalanan kereta.
Suara roda Baja batangan rel sekarang terdengar berbeda. Lebih keras. Menggema. Meski tidak sesegar sebelumnya, udara terowongan tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Tidak terdengar kelepak kelelawar di Luar sana. Boleh jadi memang Ada ribuan di langit-langit terowongan, tapi suara berisik mereka jelas kalah dengan deru gagah kereta.
“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkok… Hutan menghijau seperti zamrud… Sungai mengalir ibarat Naga… Tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh Tak terbilang.”
Dalam gelap, aku menoleh ke arah Wak Yani, tangan Wak Yani lembut merengkuh bahuku.
“Ini teka-teki Wawak yang paling hebat, Badim. Inilah teka-teki Wak Yani ciptakan sendiri, bukan dari dongeng-dongeng tua kakek-nenek kau.” Wak Yani tersenyum meski aku tidak bisa melihatnya, aku tahu Wak Yani sedang tersenyum. Suara seraknya bergetar, menahan rasa haru.
“Schat, Wawak percaya, kau Akan tahu jawabannya. Kau selalu tahu jawaban semua pertanyaan, bukan? Berjanjilah, kau Akan datang secepat mungkin ke sini jika kau sudah tahu jawabannya. Bahkan kalau jasad Wawak sudah dikuburkan di tanah pemakaman kampung… Kau Akan tetap menyebutkan jawabannya di atas pusara Wawak.”
Aku sungguh tidak mengerti apa maksud Wak Yani, tidak paham kenapa di tengah gelapnya terowongan dia justru mengingatkanku kembali atas teka-teki yang hampir Dua tahun tidak kunjung kutemukan jawabannya. Terdiam sejenak.
“Berjanjilah, Badim.” Wak Yani menunggu janjiku.
Aku meneguk ludah, “Badim berjanji, Wak.”
Aku tidak bisa mendengarkan ya, aku kaku, diam bergerak dari posisi duduk. Cahaya ujung-ujung batang rokok penumpang seperti kunang-kunang terbang. Ada yang memainkan pematik api. Cahaya biru bercampur merah terlihat indah. Orang-orang dewasa yang tetap berbincang santai dalam gelap. Tidak terganggu, apalagi takut. Tertawa gelak. Berbisik-bisik, tertawa lagi. Aku menelan ludah, entahlah apa yang dilakukan Amel, Ismail, Ayuk Lia, Mamak Dan Bapak saat ini.
Saat cahaya kembali, saat kereta keluar dari terowongan sepanjang Lima pal Itu, Wak Yani, tetua kampung yang paling bijak, pandai berbahasa Belanda, tahu banyak Hal Dan dekat sekali dengan kami, sudah pergi selamanya. Terkulai di sebelahku.
Amel berseru kencang saat Wak Yani tetap tidak bergerak meski digerak-gerakkan. Ayuk Lia loncat dari bangkunya, berusaha membantu Wak Yani bernafas. Ismail takut-takut mendekat. Bapak memeriksa denyut Nadi Wak Yani, Mamak berseru-seru memanggil petugas, meminta pertolongan.
Aku tertunduk dalam-dalam di kursi, menahan tangis. Sejatinya, seluruh kisah Masa kecilku adalah tentang teka-teki Wak Yani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *