[Kutukan] Purnama Berdarah

Malam itu…Dua orang lelaki paruh baya mengenakan pakaian serba hitam dengan perbandingan kurus dan cukup gemuk satu dengan yang lain. Menelusuri kebun karet yang sangat sepi dan gelap mereka terlihat sangat hati-hati serta mereka sedang membawa sesuatu hendak menguburkannya disini.”Sar… Yakin nih kita mau buang dia disini?” Suara lelaki bertubuh kurus panik tak karuan dengan melihat keadaan kanan-kiri.

“Udah tenang aja,saya sudah merencanakan ini semua sejak awal! Kamu tinggal nurut apa susahnya sih..!”

“Tapi gimana nih kalau kita ketahuan warga sekitar?”

“Sudahlah, kamu tinggal ikuti saja perintahku! tidak perlu memikirkan yang tidak-tidak,lagipula ini sangat jauh dari lingkungan warga desa,jadi tak mungkin ada yang tahu!” Pria itu menimpali dengan nada yang sedikit ditekan.

Tak jauh dari lokasi kedua pria tersebut sesosok perempuan memperhatikan gerak-geriknya, sosok itu tidak bergerak sama sekali jika mereka melihat ke arah sosok tersebut mereka mungkin tidak akan menyadari kehadirannya sama sekali.

Wajahnya tampak pucat,namun senyum sedikit kejam dan dingin tersungging dari sosok wanita itu.

“Udah gali buruan,kita akan menguburkannya disini! cepat sedikit atau kita akan berada dalam bahaya nanti!” Teriak lelaki yang bertubuh agak gempal tersebut.

Lelaki berbadan kurus segera meletakan yang dibawanya dan mengambil cangkul yang diberikan oleh temannya,tanpa membuang waktu ia langsung mulai menggali tanah yang berada tepat di bawahnya.

“Srrkk..Srrkk…”

Mereka berdua bergidik mendengar suara itu,dan mereka memperhatikan ternyata hanya beberapa daun yang jatuh tidak jauh di belakang mereka.

“Hufft” lelaki bertubuh gempal menghela nafas lega setelah mengetahui itu hanya daun jatuh dari pohon dibelakang mereka.

“Sudah lanjut lagi menggali! Tidak ada yang perlu ditakuti itu cuma daun kok!” perintahnya untuk meyakinkan sedang temannya masih dengan jantungnya berdetak cepat serta keringat mengucur deras dari pelipisnya.

Akhirnya mereka selesai menggali tanah di depan mereka cukup dalam lalu tanpa sepengetahuan lelaki berbadan gemuk langsung mengangkat dan memberi tahu kepada rekannya untuk segera naik dari liang galian tersebut.

“Naik buruan!” Tegasnya.

Namun rekannya hanya terdiam seperti patung.

“Wusshh” Angin bertiup awan bergeser dan membuka sinar terang dari bulan purnama yang hadir saat itu.

“Tss~” Tetesan air terdengar dari liang galian tersebut,sinar dari bulan perlahan merambat dan mulai menyinari tubuh yang kaku diam seperti patung tepat di bawahnya.

Lelaki gempal tersebut ternganga melihatnya,ia tampak kaget dengan mata yang membelalak keluar. Seolah-olah bola matanya bisa jatuh dan menggelinding kapanpun itu.

“Pur!” Sambil terhuyung mundur kebelakang ia lelaki gempal tersebut berteriak ke arah temannya,ia melihat darah mulai mengalir melalui tujuh lubang temannya;yaitu mata,telinga,mulut,dan hidung.

“Purnomo!!” Teriaknya histeris.

“Kutukan! Ini Kutukan!”

“Tidak!”

“Tidak!”

Lelaki itu menjadi kehilangan kewarasannya,ketenangan yang dimiliki sebelumnya menjadi lenyap sepenuhnya dan ketika ia melihat benda itu di genggamannya yang tadi hendak ingin dikuburkan,’Boneka’ ini,ia langsung melemparkannya sejauh yang ia bisa dengan seluruh tenaganya.

Tiba-tiba sosok perempuan dari yang sebelumnya muncul tepat di depan matanya. Ia menyeringai terhadap lelaki gempal tersebut dengan tatapan tajam penuh niat membunuh,lalu sosok perempuan itu mengangkat tangan kanannya dan mengayunkan nya menuju kepala lelaki itu.

“Slrrghh” Cipraratan darah terbang dimana-mana.

Bengis! Pisau itu langsung mengiris kedua tubuhnya menjadi dua bagian,dari kepala hingga selangkangannya. Kemudian perempuan itu menengok ke tempat boneka itu dibuang dan dengan sendirinya boneka tersebut melayang dan menghampiri sosok itu.

Perempuan itu pun tertawa dengan kejam dan darinya bisa terlihat kesedihan,kemarahan,keputusasaan serta kepuasan. Lalu suaranya perlahan menghilang di ikuti dengan sinar rembulan yang perlahan kembali redup tertutup oleh awan.

“…”

“WIusshh~” Angin bertiup sekali lagi namun kali ini ia membawa aroma darah yang cukup menyengat dan daerah itu pun kembali tenang sekali lagi..

-END-