Penghuni Rumah Kontrakan

Di tengah malam itu aku gelisah tidak mampu memejamkan mata, karena memang hari itu adalah hari pertamaku tidur di tempat yang asing tanpa di temani istri dan canda tawa anakku. Kebetulan aku seorang pegawai yang mendapat tugas di salah satu universitas ternama di Magelang. Bersama 5 teman, kami memutuskan mengontrak sebuah rumah yang jaraknya lumayan jauh dari kampus. Awalnya kami cukup senang, karena rumah berlantai 2 tersebut tampak rapi dan bersih dengan ornamen jawa menghiasi pintu dan jendelanya.

Namun keanehan kami rasakan ketika malam hari. Bunyi orang berjalan di lantai atas sering kami dengar, padahal kami semua lagi ngobrol di lantai bawah. Begitu juga ketika semua masuk kamar, kudengar jelas suara langkah kaki orang turun naik karena memang kamarku tepat di bawah tangga. Aku coba hubungi teman-temanku lewat ponsel di grup, dan bertanya siapa yang berisik naik turun tangga.

Lalu jawaban mereka kompak “bukan aku”. Ternyata mereka semua gak ada yang keluar kamar. Teror berlanjut ketika aku lihat jam sudah lewat tengah malam, di tengah kesibukan kami membahas keanehan rumah kontrakan ini lewat grup. Terdengar suara gagang sapu di pukul-pukulkan ke lantai di ruang tengah, semakin lama semakin keras terdengar.

Aku tanya teman-teman dan semua mendengarnya. Lalu aku intip lewat ventilasi kamar, suaranya tiba-tiba hilang, terlihat sapu masih tersandar rapi di pojok ruang tengah. Mungkin sekitar jam 2 pagi aku baru bisa memejamkan mata. Dalam tidurku itu, aku bermimpi menemukan sebilah keris yang sangat indah bentuknya dan bertahtakan intan di gagangnya yang tergeletak di pojok ruangan rumah kontrakanku.

Selanjutnya penghuni rumah kontrakan bagian 2.