Rumah Tua Berhantu Bagian 2

Sebelumnya rumah tua berhantu.

Perjalanan menuju kota Sukabumi memakan waktu kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 11 pagi mungkin aku baru akan tiba di rumah warisan itu pun jika tidak kena macet. Untunglah sudah keluar tol Ciawi dan sejauh ini jalanan masih lancar-lancar saja.

Aku sungguh tidak sabar menunggu lebih lama lagi, tapi mau bagaimana lagi aku tetap harus sabar jika tak mau celaka. Untunglah dewi keberuntungan sedang berpihak pada tempat yang kutuju. Sebuah rumah tua, tampak tak terawat.

“Astaga ! Rumah inikah yang akan di wariskan padaku? Rumah tak terawat seperti ini. Fiuh, jauh-jauh aku datang hanya untuk sebuah rumah yang tak terawat seperti ini. Benar-benar menyebalkan” kataku sembari mengutuk perihal warisan itu.

“Dasar kurang kerjaan. Siapa sih, orang yang tidak bertanggung jawab yang telah memberitahuku kalau aku dapat warisan” gumamku pelan.

Akhirnya, dengan terpaksa aku beranjak menuju pintu masuk rumah itu. Ku ketuk pintu rumah itu beberapa kali. Sampai terasa pegal jariku mengetuk pintu itu namun tidak ada yang membukakan juga. Dengan rasa kesal aku baru saja akan beranjak dari rumah menyebalkan itu. Ketika kudengar ada langkah kaki yang sedang berjalan, sepertinya akan membukakan pintu ini. Benar saja, beberapa saat kemudian pintu tersebut dibuka oleh seorang laki-laki tua. Wajahnya menyeramkan menyerupai vampire. Hantu-hantu di film Cina itu.

“Maaf, mbak siapa? Ada perlu apa datang kesini?” tanya si laki-laki tua.

Astaga! Dia lupa kalau kemarin baru saja menghubungi aku dan mengatakan kalau aku mendapat warisan rumah ini. Mungkinkah orang ini atau mungkin ada orang lain di rumah ini selain dia.

“Maaf pak. Saya Andini, kemarin ada laki-laki yang menghubungi saya dan mengatakan kalau saya mendapat warisan rumah ini, pak. Apakah itu bapak? Atau ada orang lain mungkin di rumah ini?”.

Tiba-tiba, sebuah angin halus mengenai tulangku. Bulu kudukku spontan berdiri. Aku merasakan kengerian yang amat sangat pada rumah ini. Entah apa yang akan menantiku di dalam rumah ini.

“Oh, mbak Andini. Maaf saya lupa, saya yang menghubungi mbak kemarin. Iya, benar rumah ini adalah warisan untuk mbak”.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah rumah ini aman? Apakah ada jaminan tidak berhantu? Kalau dilihat dari rumahnya yang sudah tua kelihatannya sudah pasti ada penunggunya maksudku bukan laki-laki tua itu melainkan hantu.

Aku sudah bisa merasakan rasa horor yang mencekam. Tanpa sadar aku bergidik ngeri. Baru saja aku melangkah memasuki ruang tamu rumah tua itu, tiba-tiba saja ada sesosok vampire. That’s real. Vampire yang biasa aku lihat di televisi kini nyata, ada di hadapanku. Spontan, tanpa aba-aba aku langsung ambil langkah seribu.

“Hua, tolong ada vampire” teriakku histeris tanpa memperdulikan seringai seram si laki-laki tua.
“Neng, lho neng, mau kemana? Rumahnya gimana?” tanya si kakek tua.
“Buat bapak saja” teriakku.

Tentu saja aku tak sudi memiliki rumah berhantu. Walaupun itu sebuah warisan tapi kalau berhantu, lebih baik tidak.