Rumah Tua Berhantu

“Apa? Aku mendapat sebuah rumah?” kataku dengan suara tinggi. Mengalahkan suara petir dan guntur di sore itu.

Hari belum lagi malam tapi awan gelap sudah menyelimuti langit hingga malam tampak menjelma. Rasa penasaran kian menyelimuti hatiku. Rumah warisan. Siapa pula orang yang murah hati di zaman sekarang yang mau meninggalkan warisannya pada orang yang tak dikenalnya.

Astaga, aku bahkan tidak mengenalnya, siapa pula orang itu? Aneh. Apa ada orang yang sama persis denganku atau, salah orang. Entahlah, aku sudah pusing memikirkan semua kemungkinan tersebut. Saat ini yang harus aku lakukan, haruskah aku gembira atau bersedih.

Saat ini aku hanya ingin tidur agar besok bisa bangun dengan lebih segar. Rasanya tak sabar menunggu esok hari. Niatku semula, ingin segera bisa tidur agar besok bisa bangun lebih awal tak tercapai. Aku sama sekali tak bisa tidur, walaupun hanya terpejam sesaat saja mata ini enggan terpejam, sedangkan pikiran ini terus berkecamuk. Beragam pertanyaan yang aku sendiri bahkan tak tahu jawabannya.

Ah, semua ini terlalu rumit. Waktu terasa lambat berputar, jam baru menunjukkan pukul 12 malam. Aku tau dari bunyi jam dinding kamarku yang berdentang 12 kali. Bunyi-bunyian binatang malam menambah kengerian malam ini. Untunglah, aku sudah terbiasa dengan bunyi-bunyian itu sekaligus berada dalam kegelapan kamarku.

Aku memang tak bisa tidur dalam keadaan terang benderang. Silau. Mataku sepertinya enggan terpejam. Tak berpihak padaku. Akhirnya, pagi pun tiba mata ini tetap terbuka lebar. Mungkin ada lingkaran hitam di bawah mataku, entahlah.

Aku enggan untuk bercermin di saat justru wajahku sudah pasti kusut. Aku segera mandi ketika waktu sudah menunjukkan pukul 5:30 pagi, aku tak mau berlama-lama di tempat tidur. Tak sabar rasanya untuk segera melihat rumah warisan itu.

Seperti apa ya rumahnya? Apa bagus rumahnya? Bermacam pertanyaan mulai berkecamuk lagi dalam pikiranku. Setelah mandi rasanya pikiran dan tubuhku lebih segar. Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat rumah itu seperti apa? Apakah megah seperti istana? Entahlah, mungkin khayalanku terlalu tinggi.

Aku memang sengaja mempersiapkannya sepagi mungkin karena perjalanan memang cukup jauh dari rumahku ini. Aku akhirnya segera berangkat sekarang dengan membawa mobil sendiri. Jalanan Jakarta yang tidak pernah sedetikpun macet bukanlah hal yang aneh bagiku.

Selanjutnya rumah tua berhantu bagian 2.