Enggang Dan Lempiau 5

“Tolong carikan korek apiku di dekat sampan!” pinta Sunta.
Lempiau segera melompat menuju sungai. Sunta tersenyum sendiri dan bertanya dalam hati, apa Lempiau tahu bentuknya korek api? Dia ingin tahu, apa yang akan dibawa Lempiau. Ketika Lempiau kembali, perkiraan Sunta benar. Bahwa Lempiau tidak tahu yang namanya korek api. Lempiau datang membawa dua buah batu yang berwarna hitam.

“Itu bukan korek api,” kata Sunta.
“Itu namanya, batu,” tambahnya.
Nguk! Nguk! Lempiau menunjukkan kedua batu itu kepada Sunta.
“Mana mungkin batu dapat untuk membuat api?” Sunta menerima batu hitan dari Lempiau. Dia mengamati batu itu. Bentuknya bulat pipih dan halus serta warnanya hitam pekat. Baru pertama kali Sunta melihat batu seperti ini.

Nguk! Lempiau tiba-tiba merebut batu dari tangan Sunta. Sambil membawa batu itu, Lempiau mengambil kuit kayu kering. Sunta hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan Lempiau. Lempiau menggesekkan batu didekatkan pada kulit kayu. Kulit kayu kemudian terbakar dan Lempiau teriak kegirangan.

“Luar biasa! Betul-betul hebat kamu, piau!” Sunta menggeleng-geleng kepala melihat terampilnya Lempiau membuat api.

Lempiau memberikan kedua batu itu kepada Sunta. Nguk! Maksudnya supaya Sunta mencoba. Sunta mencoba menggesekkan batu hitam tersebut.

Trak! Trak! Trak! Berhasil. Lempiau melompat-lompat mengejeknya.

“Yah, beginilah nasib orang bodoh, selalu diejek. Tolong beri contoh lagi!” Sunta memberikan batu kepada Lempiau. Lempiau segera memberi contoh lagi cara yang benar. Sunta memperhatikan dengan seksama dan mencobanya lagi.

Trak! Trak! Keluarlah percikan api. Sunta menggesek lagi sambil mendekatkan ke kulit kayu kering.

“Aku berhasil! Terima kasih ya, Lempiau. Kamu telah mengajari aku sebuah keterampilan lagi,” Sunta mengelus-elus Lempiau. Dia sudah melupakan korek apinya. Dengan adanya batu hitam dari Lempiau ini, dia tidak memerlukan korek api lagi.

Kayu-kayu yang telah disiapkan Sunta sudah terbakar. Kobaran api dibiarkan membesar, lama-kelamaan mengecil dan padam. Tinggallah baranya. Tiga singkong diletakkan di atas bara api.

“Enggang, turun sini. Kita di sini hanya bertiga. Aku dan Lempiau di bawah, kamu di atas terus. Sini berkumpul!” panggil Sunta.

Kaak! Kaak! Kaak! Enggang turun sambil berteriak.
Nguk! Nguk! Nguk! Lempiau juga berteriak sambil menggelengkan kepalanya.

“Siapa lagi?” Sunta mengeri maksud Lempiau dan Enggang, bahwa mereka tidak hanya bertiga.
Nguk! Lempiau menunjuk ke batu yang agak besar di depannya.
“Itu kan batu,” Sunta memandang batu yang ditunjuk oleh Lempiau.
Kaak! Enggang mengibas-ngibaskan sayapnya sambil mendekati batu itu.
“Betul, ada aku di sini,” terdengar suara yang berat.
“Datuk, ya?” Tanya Sunta sambil mencari dari mana asal suara itu.
“Ya, dari tadi aku di sini,” jawab Datuk Gaeng.
“Mengapa saya tidak bisa melihat!” Tanya Sunta bingung.
“Sekarang belum saatnya kamu melihatku secara langsung.”
“Mengapa?”
“Karena memang belum waktunya. Untuk sementara, kamu bisa melihat aku hanya dalam mimpi saja.”
“Sampai kapan, Datuk?” ujar Sunta kurang sabar.

“Pohon durian tumbuh dari biji
Hujan dan panas, jadilah tunas
Jangan diusil, berubah pohon kecil
Jika besar, bungapun keluar
Kulitnya tajam, manis isiya”

Suara Datuk Gaeng melantunkan kata-kata sindiran.

“Aku bisa memahaminya, Datuk,” kata Sunta yang benar-benar memperhatikan kata-kata Datuk Gaeng.
“Aku pergi dulu,” ujar Datuk Gaeng pamitan.
“Silahkan dan terima kasih, Datuk,” Sunta membungkukkan tubuhnya, walaupun tidak dapat melihat Datuk Gaeng. Sunta, Lempiau dan Enggang untuk beberapa saat terdiam. Sunta masih terus memperhatikan batu di depannya.