Enggang Dan Lempiau 6

“Apa datuk sudah tidak di situ lagi?” Tanya Sunta.
Nguk! Lempiau menggelengkan kepalanya sambil mengejek.
“Teruslah mengejek. Nanti singkong ini aku habiskan sendiri,” kata Sunta sambil hendak mengambil buah singkong dari bara api.
“Aduh!” Sunta kepanasan, sambil menarik dan meniup-niup tangannya.
Lempiau dan Enggang kembali mengejeknya.
“Kalian ini melihat kawan sakit, malah senang,” Sunta mencari daun untuk dipakai sebagai alas supaya tidak kepanasan. Ketika sudah membawa selembar daun, dia menjadi heran. Terlihat Lempiau mengambil singong-singkong itu dengan tenang. Dia tidak merasa kepanasan.
“Kamu tidak kepanasan, ya?” Tanya Sunta sambil memegang telapak tangan Lempiau.
“Coba, kamu pegang baranya. Berani apa tidak?” lanjutnya.
Lempiau memegang bara api tanpa rasa panas dan bulunya pun tidak terbakaar.
“Ternyata kamu kebal api juga ya? Siapa yang mengajarimu?”

Lempiau menunjuk ke atas. Maksudnya Datuk Gaeng yang mengajarinya. Lempiau mengupas semua singkong yang masih panas. Setelah itu dibagikan kepada Sunta, Enggang dan untuk dirinya sendiri. Bertiga makan singkong bakar dengan lahapnya.

Sebelum singkongnya habis, Sunta sudah merasa haus. Dia mengambil parang untuk menebang bamboo. Dipotong pada ruasnya kemudian dibersihkan, untuk dijadikan tempat minum atau gelas.

“Tolong carikan air. Aku haus.”

Lempiau mengambil parang kemudian memijit-mijit akar pohon yang timbul. Setelah menemukan akar yang lembut, crat! Dia memotong akat itu dengan parang dan keluarlah air yang jernih. Dia menampung air itu dengan potongan bamboo. Bamboo yang pertama sudah penuh diberikan kepada Sunta. Sunta segera meneguknya sampai habis. Sementara bamboo yang satunya diminum berdua oleh Lempiau dan Enggang.

Sunta duduk bersandar di pohon. Lempiau dan Enggang masih makan. Sunta memperhatikan kedua binatang itu. Asyik sekali makannya. Binatang kesayangan Datuk Gaeng memang aneh. Si Enggang katanya makan buah tengkawang tetapi singkong bakar juga mau. Hidup ini terkadang tidak masuk akal dan membingungkan, katanya dalam hati.

Mulai sekarang Sunta tidak lagi kesulitan mencari makanan. Setiap hati dia makan singkong bakar dan buah durian, terkadang Lempiau juga mencarikan buah-buahan lain.

“Apakah sungai ini ujung dari Sungai Kapuas?” Tanya Sunta kepada Lempiau.
Lempiau menganggukkan kepalanya.
“Pantaslah orang desa menyebutnya Hulu Kapuas. Artinya Sungai Kapuas yang paling ujung,” kata Sunta berbicara sendiri.

Pada suatu pagi, Enggang terlihat sibuk. Dia terbang berputar-putar di atas sungai. Sunta yang sedang mandi, tidak begitu memperhatikannya.

Crub! Tiba-tiba Enggang masuk ke dalam air. Beberapa saat kemudian, Enggang keluar dari air sambil menjepit seekor ikan di paruhnya. Ikan itu kemudian di letakkan ke dalam sampan. Setelah ditengok Sunta, ternyata ikan toman. Sejenis ikan habus tetapi ukurannya lebih besar. Hebat! Pikir Sunta. Berulang kali Enggang menangkap ikan kemudian disimpan ke dalam sampan.

“Cukup, Enggang! Kalau terlalu banyak nanti tidak termakan,” kata Sunta selesai mandi. Berarti sekarang menu makanan Sunta bertambah, yaitu ikan toman.

Hari-hari Sunta menjalani hukuman dilalui bersama kedua sahabatnya. Dia telah banyak belajar dengan Lempiau dan Enggang. Dari manjat pohon sampai cara membuat api dari batu. Terkadang mereka menelusuri Hutan Kalis yang luas. Dia tidak khawatir dengan binatang yang ada di Hutan Kalis, karena semua binatang dapat ditundukkan oleh Lempiau dan Enggang. Sesekali mereka mengunjungi puncak Riam Matahari.

Sampai saat ini, Sunta belum dapat melihat Datuk Gaeng secara langsung tetapi dia tetap bersabar. Dia tidak akan melupakan gambaran yang diberikan Datuk Gaeng tentang hidup. Bahwa segala sesuatu harus melalui tingkatan.