Enggang Dan Lempiau Bagian 1

Suntan mengayuh sampannya sekuat tenaga. Sampannya terasa berat, karena melawan arus Sungai Kapuas. Dia tidak lagi menengok ke belakang. Tujuannya sudah bulat, dia harus segera sampai ke Hulu Kapuas sebelum malam tiba. Dari pagi sampai siang, dia terus mengayuh sampannya. Jika haus, ia tinggal mengambil air Kapuas dengan tangannya. Sesekali dia teringat wajah bapak dan emaknya, Rangge dan para sesepuh desa serta para tetangganya. Penyesalan akan apa yang telah dilakukan, membuat dia kembali menyalahkan dirinya sendiri. Akan tetapi jika ingat pesan Ketua Adat, timbul lagi semangat hidupnya.

Suntan sudah merasa sangat lelah sehingga kayuhannya melambat. Akan tetapi tiba-tiba sampan menjadi oleng, ternyata dia mulai melewati riam. Jika melewati riam, sampan bisa karam apabila tidak berhati-hati dan dikendalikan dengan benar. Untungnya Sunta sudah sering mendengar bapaknya bercerita tentang riam sehingga dia tidak begitu terkejut.

“Permisi, Datuk,” secara spontan Sunta mengucapkan kata-kata itu. Aneh, sampan yang tadinya oleng berangsur-sngsur stabil. Akan tetapi Sunta tetap berhati-hati, karena di tengah belantara tidak ada yang bisa menolongnya. Pada sebuah tikungan, kembali dia melewati arus sungai yang tidak beriam. Sambil beristirahat, sesekali dia mengayuh sampannya. Perutnya mulai lapar karena dari pagi dia belum makan. Dia tidak diperbolehkan membawa bekal makanan dan hanya dibekalkan sepotong pakaian, garam, dan korek.

Menjelang petang, Sunta melihat air terjun di depannya. Suara air bergemuruh. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada aliran sungai. Hari mulai gelap, dia menepikan sampannya. Sambil terus memandang air terjun, Sunta mencari jalan keluar. Akhirnya dia memutuskan untuk bermalam di hutan ini. Pada saat keluar dari sampan, tidak lupa dia mengucap, “Permisi, Datuk.” Sampannya diikatkan pada sebatang pohon. Dia masuk hutan untuk mencari pohon yang besar untuk berlindung.

Akhirnya, dia menemukan sebuah pohon besar. Suntan merasa sangat lelah, dia segera menyandarkan tubuhnya ke batang pohon itu. Perutnya semakin perih karena lapar. Dia menengok sekelilingnya tetapi tidak melihat ada pohon buah. Lama-kelamaan sulit untuk melihat karena sudah malam. Dia mau membuat api unggun tetapi koreknya basah. Dia hanya pasrah dan tertidur di bawah pohon besar.

Orang desa menyebut pohon tersebut pohon tengkawang. Ukurannya besar dan akarnya menjulur ke segala arah. Akan tetapi buahnya tidak enak dimakan. Buah tengkawang hanya dimakan oleh burung. Baik siang atau malam, banyak burung yang hinggap di pohon itu.

Suntan terrtidur sambil memanggil perutnya. Sendirian di hutan yang belum pernah diinjak manusia. Bisa jadi, dia adalah orang yang pertama bermalam di hutan itu.

Beberapa kali dia dilewati babi hutan yang sedang mencari makan. Ketika di depannya, si babi hutan hanya menengok sebentar kemudian berjalan lagi. Suntan sendiri tidak memperdulikan sekelilingnya. Rasa capek, lapar, dan sedih bercampur baur. Hingga jalan satu-satunya adalah pasrah. Perasaan berserah diri inilah yang membuat tidurnya nyenyak. Malam pertama bagi Sunta dalam masa menjalani hukuman dilalui di hutan yang belum dikenalnya.

Suntan terbangun dan terkejut ketika melihat hari sudah pagi. Terdengar kokok ayam hutan bersahut-sahutan. Dia duduk dan menggerakkan badannya. Seluruh persendian bergemelutuk karena capek. Badannya terasa kaku, kemudian dia memutuskan untuk mandi. Suntan berjalan menuju sungai di mana sampannya ditampat. Ketika berada di tepi sungai, dia berdiri tegak memandang ke depan. Mulutnya menganga tanpa keluar kata-kata. Ternyata air terjun itu bersusun tujuh. Orang desa menyebutnya Riam Matahari karena pada tingkat paling atas terlihat matahari terbit.

Pemandangan yang luar biasa. Air mengalir dari bukit dan berkilat-kilat terkena sinar matahari. Suntan menghitung lagi tingkat pada air terjun itu.

Tujuh, jadi inilah Riam Matahari itu. Terima kasih, datuk,” Sunta berbicara sendiri karena memang di situ tidak ada siapa-siapa. Perasaannya sedikit lega.

Sebelum berangkat kemarin, Pak Kanyawan berpesan bahwa untuk menjalani hukuman, sebaiknya Sunta tinggal di hutan dekat Riam Matahri. Ciri-ciri Riam Matahari juga dijelaskan Pak Kanyawan. Menurut petunjuk yang diterima dari para leluhur, jika ada warga yang diusir dari desa, hutan dekat Riam Mataharilah tempatnya. Oleh karena itu, ketika Sunta berangkat meninggalkan desa, tujuannya hanya satu yaitu Riam Matahari. Hatinya menjadi tenang karena sudah sampai tujuan. Dia menceburkan diri ke sungai dan mandi sepuas-puasnya. Dia bernyanyi untuk menghilangkan kesepian.

“Nasih manusia di tangan penciptanya
Baik buruk tak ada bedanya
Manusia lemah tak ada daya
Yakin dan percaya jangan lupa…”