Enggang Dan Lempiau Bagian 2

Tempat Sunta berada sekarang bernama Hutan Kalis. Menurut cerita, Hutan Kalis sangat angker karena dihuni makhluk halus. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Riam Matahari merupakan kerajaan para jin. Berbagai macam binatang ada di Hutan Kalis. Sampai sekarang jarang ada orang yang berani ke tempat itu, kecuali orang yang benar-benar siap fisik dan mental, atau orang-orang yang ingin menuntut ilmu kesaktian dengan bertapa di Riam Matahari.

Orang Desa Melapi yang pernah ke sana adalah para Kepala Desa. Syarat untuk menjadi Kepala Desa Melapi harus diuji mentalnya dengan berani hidup di Hutan Kalis atau Riam Matahari selama 40 hari. Sedangkan Sunta harus hidup sendiri selama 2 tahun.

Badan Sunta terasa segar setelah mandi. Dia berpikir, apa yang harus dikerjakan. Seraya memandang Riam Matahari, dia terus berpikir.

BRUK…!!!
Terdengar ada sebuah benda jatuh dari atas pohon. Suntan menoleh ke arah datangnya suara itu. Dia jadi penasaran kemudian mendekatinya. Ternyata buah durian yang masak. Kulit durian menjadi retak karena jatuh dari pohon yang tinggi. Sebelum mengambil durian, Sunta melihat ke pohon, siapa tahu ada orang atau binatang lain. Ternyata tidak ada siapa-siapa.

“Terima kasih, Datuk,” kata Sunta pelan. Dia segera membuka durian karena sudah lapar. Tidak sulit membukanya karena kulitnya ada yang retak. Suntan makan durian dengan lahapnya. Durian itu hanya dimakan setengah karena perutnya sudah kenyang. Sebagian lagi disimpan.

Dia kemudian berpikir untuk membut gubuk tetapi tidak ada parang. Lama berpikir, barulah teringat bahwa biasanya dia menyelipakn parang di dinding sampan. Dia bergegas menengok ke sampannya. Ternyata memang masih di situ. Dengan perut kenyang, badan segar, Sunta mulai membuat gubuk.

Gubuk tersebut dibuat menempel ke pohon tengkawang. Dindingnya memakai kulit kayu dan atapnya dari anyaman daun sagu. Tali yang dipakai untuk mengikat tiang dubuk yaitu rotan. Kegiatannya hari ini adalah menyelesaikan gubuk. Sore setelah mandi, Sunta makan durian sisa tadi siang. Hari mulai gelap, Sunta jadi mengantuk dan akhirnya tertidur.

Bangun pagi, seperti kemarin Sunta mandi di sungai. Tidak lama kemudian, ada buah durian jatuh. Buah tersebut dimakan dan sisanya di simpan untuk sore nanti. Hari ini, dia berencana hendak melihat dari dekat Riam Matahari. Selesai sarapan durian, berangkatlah Sunta ke Riam Matahari. Dia melangkah pasti dengan berbekal parang. Dia merasa penasaran karena cerita tentang Riam Matahari ini bermacam-macam.

Air terjun semakin jelas dihadapannya. Suara air bergemuruh. Embun yang dihembus angin membuat sekitarnya menjadi basah. Dia harus melewati bebatuan yang tajam untuk mencapai bukit. Pada waktu mulai menginjakkan kaki ke Riam Matahari, tidak lupa dia minta ijin terlebih dahulu, “Permisi, Datuk.”

Suntan mendaki bukit dengan merangkak dan berpegangan pada batu-batu yang ada. Dia tidak menghiraukan pakaiannya yang basah kuyup. Tekad untuk mencapai puncak Riam Matahari sudah bulat. Terkadang harus berhenti dahulu untuk mencari batu yang tidak berlumut. Tiap tingkat tingginya sekitar 5 meter dengan kemiringan 60º. Suatu perjuangan yang berat bagi Sunta. Pada tingkat ke 5, Sunta berhenti sejenak kemudian mengatur nafas yan sudah ngos-ngosan. Dia melihat ke atas, tidak begitu jelas karena silau oleh sinar matahari. Pada waktu dia mendongakkan kepala, mulutnya kemasukan air. Pegangannya hampir saja terlepas karena terkejut. Untunglah tangan satunya masih berpegangan. Air yang masuk ke mulutnya terasa berbeda dengan air biasa. Suntan mengecap-ngecapkan mulutnya. Dia menadahkan telapak tangannya ke air kemudian diminum. Ternyata memang lain rasanya.

“Manis,” kata Sunta sendiri kemudian dia minum lagi. Kebetulan dia sedang haus. Suntan berrtambah heran setelah minum air pada tingkat 5, karena tenanganya pulih kembali. Badannya terasa lebih segar. Tanpa pikir panjang lagi, Sunta meneruskan pendakiannya ketingkat paling atas. Sunta mendaki agak cepat karena mendapat tenaga baru.

Sesampainya di tingkat paling atas atau yang ke 7, Sunta melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Di tempat itu tidak ada pohon, yang tumbuh hanya lumut dan rumput hijau. Rumput yang ada pun, baru sekali ini dia melihatnya. Tidak terlalu tinggi, rapi dan bersih. Suntan merasa sangat letih kemudian dia merebahkan badan ke rumput.

“Kaak! Kaak! Kaak!” suara burung enggang terbang berputar-putar di atas tempat Sunta berbaring.
“Ini mungkin yang dinamakan burung enggang,” kata Sunta dalam hati.