Enggang Dan Lempiau Bagian 4

Tidak lama kemudian sampailah mereka di sungai. Sunta dan Lempiau berenang untuk menuju Hutan Kalis. Sunta mengganti pakaian dengan yang telah kering dijemur. Lempiau dan Enggang dengan setia menunggu Sunta yang sedang berganti pakaian. Lempiau duduk di atas batu dan Enggang bertengger di bibir sampan. Sunta tersenyum melihat kedua binatang itu. Pada saat dia memandang Lempiau tadi sepertinya ada yang aneh. Bulu-bulu Lempiau tidak basah tetapi tetap kering meskipun terkena air.

“Hai, bulumu tidak basah, ya?” Tanya Sunta sambil memegang bulu Lempiau.
Lempiau mengangguk sambil menunjuk ke atas.
“Ooo, Datuk yang memberi ilmu supaya tidak basah bila terkena air. Wah, beruntung sekali kamu, Lempiau,” Sunta mengelus-elus kulit Lempiau. Lempiau hanya diam.
“Ayo, kita ke gubuk!” ajak Sunta.
Lempiau dan Enggang mengikutinya. Tiba-tiba Sunta berhenti. Dia melihat ada seekor ular sebesar paha menghadang langkahnya. Ular itu mendongakkan kepalanya.

Nguk, Nguk! Lempiau segera mendekati Sunta yang berdiri di tempat.
“Awas, ada ular besar!” kata Sunta kepada Lempiau.
Lempiau melangkah mendekati ular. Nguk! Nguk! Nguk! Mata Lempiau melotot ke arah ular. Kepala ular perlahan-lahan diturunkan. Lidahnya menjulur-julur tanda ular itu tidak akan menyerang, kemudian merayap pergi menyingkir. Sunta segera mengelus-elus kepala Lempiau.

“Hebat, dapat mengusir ular yang besar,” kata SUnta. Lempiau menunjuk ke atas.
“Datuk juga yang mengajari? Wah, hebat.”

Sunta dan Lempiau masuk ke gubuk dan Enggang hinggap di atapnya. Durian sisa tadi pagi dimakan berdua. Lempiau makan dengan semangat.

“Kamu makan apa, Enggang?” Tanya Sunta.

Enggang terbang ke pohon tengkawang. Sunta merasa heran, ditanya malah pergi. Enggang mematuk buah tengkawang dan dibawa turun untuk diperlihatkan kepada Sunta.

“Ini ya, makananmu. Berarti selama kamu di sini tidak perlu khawatir mengenai makanan, karena buah tengkawang banyak sekali di sana,” kata Sunta menunjuk ke pohon tersebut.
Kaak! Enggang mengangguk.

Malam hari, Sunta tidur di gubuk bersama Lempiau. Sedangkan Enggang bertengger di dahan pohon tengkawang.

Sejak ada Lempiau dan Enggang, hati Sunta menjadi bahagia. Meskipun tidak ada yang dapat diajak berbicara secara normal, tetapi paling tidak ada dua sahabat yang memahami bahasa manusia. Mereka berbicara dengan hati nurani.

Pagi-pagi Lempiau sudah membangunkan Sunta. Dia mengajak Sunta ke sungai untuk mandi. Akan tetapi ketika Sunta mulai mandi, Lempiau melompat ke pohon dan pergi ke hutan.

“Hai! Mau ke mana?” Tanya Sunta dari sungai.
Lempiau sudah tidak tampak lagi. Dia bergelantungan dari pohon ke pohon. Dalam waktu singkat dia sudah tidak kelihatan.
“Kaak!” Enggang datang. Hinggap di bibir sampan sambil mematuk-matukkan paruhnya ke sampan.
“Cari makan?” Tanya Sunta.
Enggang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menemani Sunta mandi, Enggang membersihkan bulu dengan paruhnya. Sebelum kembali ke gubuk, Sunta melihat ada pohon singkong. Sunta berjalan lebih dekat agar lebih yakin. Pohon singkong ini agak berbeda dari yang biasa ditanamnya karena daunnya lebih kecil. Enggang mengikuti dengan terbang rendah.

“Ada umbinya apa tidak ya?” Sunta bertanya pada Enggang.
Enggang hinggap di pundak Sunta dan mengangguk.
“Permisi, Datuk,” kata Sunta sambil mencabut pohon singkong dengan susah payah. Sambil dogoyangkan ke kanan dan ke kiri, akhirnya tercabutlah pohon singkong.
“Pantas susah dicabut, umbinya ternyata besar-besar,” Sunta membawa dengan batangnya.

Umbinnya besar-besar dan berjumlah tiga. Dia meletakannya di depan gubuk. Sunta berpikir untuk membakarnya saja. Itu cara satu-satunya yang bisa dilakukan, karena untuk merebus tidak mungkin. Dia sama sekali tidak mempunyai alat. Suntan segera mencari kayu bakar.

Sejak di Hutan Kalis, setiap hari menu makanannya hanya buah durian. Suntan sangat gembira mendapat singkong. Di rumahnya dulu, apabila dia malas makan nasi sebagai gantinya dia makan singkong. Dia kadang merebus, menggoreng atau membakarnya. Tidak sulit mencari kayu bakar karena di Hutan Kalis banyak sekali dahan dan ranting yang patah dan sudah kering. Sunta memotongnya menjadi ukuran sedepa kemudian dia mengikat dan membawanya ke gubuk.

Sunta jadi termangu-mangu ketika dia membuat perapian. Pada saat itu, Lempiau datang dengan membawa buah durian yang sudah masak.
“Dari mana, kamu?” Tanya Sunta.
Lempiau menunjuk hutan sambil mengangkat-angkat durian yang cukup besar.
“Simpan saja dulu, aku mau membakar singkong.”
Lempiau segera menyimpan buah durian ke dalam gubuk dan keluar lagi duduk di dekat Sunta.