Ilmu dari Datuk Gaeng Bagian 1

Melalui mimpi, Datuk Gaeng memerintahkan Sunta untuk bertapa selama tujuh hari tujuh malam di Riam Matahari. Dimulai dari tingkat pertama, satu hari satu malam. Selanjutnya ke tingkat dua, tiga, empat, lima, enam, dan terakhir di puncak Riam Matahari.

Selama bertaapa, Sunta dilarang makan tetapi boleh minum hanya dari air hujan. Itu pun harus langsung ke mulut. Maksudnya, jika hujan, mulut Sunta dibuka sehingga air hujan masuk. Akan tetapi jika tidak hujan, dia tidak dapat minum. Karena bertapa si Riam Matahari, maka Sunta harus berendam di air.

Sungguh berat ujian Sunta. Dia harus terendam air setiap hari di Riam Matahari dan tidak makan. Dia bertekad untuk menyelesaikan pertapaannya. Hitung-hitung untuk menebus kesalahan pada masyarakat Desa Melapi. Hari pertama sampai hari ke tiga, Sunta masih dapat bertahan. Menginjak hari ke empat, tubuhnya mulai lemah tetapi terus dia paksakan. Tekadnya sudah bulat, seberat apa pun dia akan berusaha. Tubuhnya kurus dan matanya merah karena sering terkena air. Kulitnya putih keriput dan rambutnya bertambah panjang. Dari wajah Sunta, tumbuh kumis. Dia tidak lagi menghiraukan keadaan dirinya. Pada hari ke enam, mata Sunta mulai kabur. Dia melihat hanya samar-samar.

Pada hari ke tujuh, Sunta benar-benar tidak dapat lagi menggerakkan tubuhnya. Dia hanya duduk dengan mata terpejam. Pikirannya melayang entah kemana dan tidak mampu berpikir lagi.

“Bangunlah, cucuku!” sapa Datuk Gaeng yang tengah berdiri di depan Sunta. Berulang kali Datuk Gaeng memanggilnya tetapi tidak didengar.

Datuk Gaeng memegang kepala Sunta. Pelan-pelan, matanya terbuka dan samar-samar terlihat wajah Datuk Gaeng. Akan tetapi tenaganya benar-benar habis. Membuka mata saja, rasanya tidak mampu.

“Bangun, cucuku,” kata Datuk Gaeng lagi sambil memegang kepala Sunta agak lama.

Ada hawa panas masuk ke tubuh Sunta melalui kepalanya. Dia membuka mata dan melihat Datuk Gaeng dengan jelas seperti dalam mimpi-mimpinya. Datuk Gaeng masih memegang kepalanya. Sunta mencoba menggerakkan jari-jari tangannya. Hawa panas masih terus megalir sehingga tubuhnya terasa bertenaga lagi. Datuk Gaeng menarik tangannya dari kepala Sunta.

Perlahan-lahan Sunta berdiri dan menyalami tangan datuk Gaeng dan menciumnya.

Kaak! Kaak! Kaak! Enggang mengepakkan sayapnya tanda gembira.
Nguk! Nguk! Nguk! Lempiau pun turut merasa bahagia dengan keberhasilan Sunta menyelesaikan pertapaannya. Datuk Gaeng membimbing Sunta berjalan. Sunta diajak menuju sebuah bangunan megah seperti kerajaan. Dia didudukkan di kursi yang bagus. Datuk duduk berhadapan dengan Sunta.

“Apakah aku sedang bermimpi?” Tanya Sunta pelan seperti berbisik.
Nguk! Lempiau memegang tangan Sunta sambil menggeleng.
“Kamu tidak sedang bermimpi, cucuku. Kamu telah lulus ujian. Selama tujuh hari kamu berendam di air terjun Riam Matahari,” kata Datuk Gaeng sambil tersenyum.
“Di mana aku, Datuk?”
“Inilah kerajaanku. Coba lihat kesana!” datuk menunjuk keluar istana.
Suntan menolehkan kepalanya, terlihat orang-orang sedang berkumpul.
“Siapa mereka?”
“Rakyatku, mereka ingin melihatmu.”
Sunta hanya mengangguk tetapi dia masih bingung.
“Apa badanmu sudah merasa baik?”
“Sudah, Datuk,” jawab Sunta sambil menggerak-gerakkan badannya.
“kalau begitu, mari aku perkenalkan dengan rakyatku!” Datuk Gaeng berdiri sambil menggandeng Sunta. Lempiau dan Enggang mengikuti dari belakang.

Datuk Gaeng dan Sunta berdiri di depan pintu istana. Sunta mencoba mengenali orang-orang yang sedang berkumpul di halaman istana. Namun tidak satu pun yang dikenalnya.

“Wahai rakyatku! Inilah Raja Muda kalian!” Datuk Gaeng memperkenalkan.

Orang-orang bersorak-sorai menyambut Sunta. Semua pandangan tertuju padanya. Sunta masih kebingungan hanya tersenyum dan mengangguk.