Ilmu dari Datuk Gaeng Bagian 2

“Namanya Sunta, tetapi dia belum dapat berkumpul dengan kita sekarang, karena tugasnya masih banyak. Apakah kalian setuju?” Tanya Datuk Gaeng kepada rakyatnya.
“Setuju!!!” jawab mereka serentak disambung dengan tepuk tangan yang meriah.
“Apakah kalian siap membantunya?” Tanya Datuk lagi.
“Siaap!!!” jawab mereka bersamaan penuh semangat.
“Baiklah, sekarang silakan kalian melanjutkan pekerjaan masing-masing, tetapi sebelumnya kalian harus berkenalan dulu dengan Raja Muda kita!” kata Datuk Gaeng.

Satu persatu maju bersalaman dengan Sunta. Datuk Gaeng tersenyum puas melihatnya. Tua, muda, laki-laki dan perempuan menyalami Sunta cukup lama. Meskipun Sunta masih kebingungan, dia ikuti saja apa yang sedang terjadi. Setelah semua bersalaman, Datuk Gaeng mengajak Sunta masuk kembali ke istana.

Kali ini tidak duduk di kursi, melainkan di hamparan permadani. Lempiau dan Enggang tidak terlihat di situ, yang ada hanya dia dan Datuk Gaeng.

“Cucuku, mulai saat ini kamu resmi menjadi Raja Muda di kerajaan ini,” kata Datuk Gaeng yang duduk bersila di hadapan Sunta.
“Maaf Datuk, apakah semua ini kenyataan atau hanya mimpi?” Sunta bertanya dengan hati-hati pada Datuk Gaeng.
“Sejak kamu bertapa, sesungguhnya aku telah menurunkan berbagai macam ilmu kesaktian, yang kamu rasakan adalah terpaan air di Riam Matahari. Padahal sebenarnya itu ilmuku yang kuturunkan kepadamu. Maka sekarang kamu dapat melihat aku dan rakyatku. Itu karena kamu sudah mendapat ilmunya,” kata Datuk Gaeng.

Sunta mencoba mengingat-ingat kejadian yang telah dia alami selama tujuh hari tujuh malam.

“Lalu siapa mereka tadi?”
“Begini, mereka tadi bukan manusia biasa. Mereka adalah bangsa jin, karena kamu sudah mampu melihatku, berarti mampu juga melihat mereka.”
“Jadi sekarang ini aku berada di alam ghaib ya?” Sunta mencoba menganalisa.
“Benar. Memang kamu anak yang pintar,” puji Datuk Gaeng.
“Apakah aku sudah mati?”
“Belum. Sekali lagi aku katakana, bahwa kamu sekarang sudah memiliki berbagai kesaktian. Jadi kamu bisa melihat alam ghaib,” Datuk mengulangi penjelasannya.
Suntan berpikir sejenak, “Lalu bagaimana kalau aku ingin kembali ke alam nyata lagi?” Tanya Sunta pada Datuk Gaeng.
“Ada caranya. Sekarang apakah kamu siap untuk menghafal mantera-mantera?”
“Aku siap!” jawab Sunta mantap.

Datuk Gaeng mulai mengjarkan mantera-mantera kepada Sunta. Setiap ilmu ada manteranya sendiri. Jadi hari ini Sunta banyak sekali menghafal bacaan mantera dari Datuk Gaeng. Sunta mengikuti ajaran Datuk Gaeng dengan sungguh-sungguh. Satu persatu mantera yang diajarkan oleh Datuk Gaeng mulai dihafalnya. Setelah semua dihafalnya Sunta disuruh untuk mengulangi lagi. Kalau ada yang salah, dia akan mengulangi manteranya sampai benar. Selain menghafal mantera, Sunta juga diberitahu kegunaannya.

“Semua ilmu yang aku ajarkan telah kamu kuasai. Sekarang lanjutkan menjalani hukumanmu. Kesempatan itu dapat kamu pergunakan untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang telah aku ajarkan,” kata Datuk Gaeng.
“Baik, Datuk. Saya mohon diri,” Sunta berpamitan.
“Berhati-hatilah,” pesan Datuk Gaeng.

Setelah bersalaman, Sunta membaca mantera untuk kembali kealam nyata.
“Ada siang, ada malam
Ada gelap, ada terang
Cucumu permisi mau pulang”

Setelah membaca mantera, Sunta sudah berada di atas rerumputan. Dia memandang ke segala arah. Tiba-tiba, Lempiau dan Enggang datang. Tampaknya mereka sangat rindu dengan Sunta.

“Aku juga rindu dengan kalian,” kata Sunta.

Lempiau menarik tangan Sunta ke air yang mengalir menuju Riam Matahari, lalu mengikutinya. Setelah berjalan beberapa saat, Sunta melihat sebuah danau yang sangat luas. Ternyata air Sungai Kapuas berasal dari situ.

“Ini yang namanya Danau Sentarum? Mengapa baru sekarang mengajaku ke sini?”

Lempiau menjawab dengan bahasa isyarat. Maksudnya, waktu itu belum diijinkan oleh Datuk Gaeng. Suntan bisa memakluminya. Akhirnya mereka kembali ke Hutan Kalis.