Jalan Terang Bagian 1

Pagi hari, Sunta dan bapaknya berangkat ke Putussibau dengan menggunakan sampan. Sunta berada di depan dan bapaknya di belakang. Ketika sampai di belokan Sungai Kapuas, dia menepuk-nepuk air. Kemudian meletakkan kayuhnya, “tidak usah dikayuh, Pak,” kata Sunta.
“Maksudmu?” Tanya bapaknya tidak mengerti.
“Maksudku, sampan ini akan bergerak sendiri tanpa dikayuh.”

Bapaknya ragu karena merasa tidak masuk akal. Akan tetapi diletakkan juga kayuh itu. Ternyata benar, sampan terus melaju bahkan lebih cepat. Pak Sampe menengok kanan kiri, ke bawah, ke samping tetapi tidak ada siapa-siapa.

“Seperti ada yang mendorong ya, Nak?”
“Memang ada yang mendorong tetapi bapak tidak melihatnya.”
Bapak amnggut-manggut.

Biasanya untuk sampai ke Putussibau, memerlukan waktu paling tidak satu hari. Akan tetapi kali ini, karena dibantu oleh makhluk halus, maka dalam waktu satu jam saja sudah sampai ke Putussibau. Mereka langsung menuju warung Aciong. Warung makan langganan bapaknya Sunta.

“Lama tidak milir, Pak Sampe?” Tanya Pak Aciong sambil melayani.
“Ya, banyak kerjaan di desa,” jawab bapak.
“Siapa itu, Pak Sampe?” Pak Aciong memandang Sunta.
“Anakku,” jawab bapak mulai makan.
“Sudah besar ya?” kata Aciong.
“Ya,” jawab bapaknya sambil makan.

Bapak dan Sunta sekarang tingginya sama. Badannya justru lebih besar Sunta. Orang yang melihat, sulit untuk percaya kalau Sunta adalah anaknya.

“Permisi…” kata seorang laki-laki setengah baya masuk ke warung Aciong.
“Silahkan, mau makan apa Pak?” Tanya Aciong.
“Yah, apa adanya saja,” logat laki-laki ini berbeda dengan warga Putussibau.
“Silahkan,” Aciong memberikan nasi beserta lauknya.
“Minumnya apa, Pak?” Tanya Aciong penuh hormat.
“Ai’ putih,” jawab laki-laki itu.
Dia mengatakan Ai’ maksudnya air.
“Bapak orang Malaysia, ya?” Tanya Aciong.
“Ya,” jawabnya sambil makan dengan lahap.
“Apa Can?” Aciong yang pernah ke Malaysia menggunakan bahasa Malaysia sedikit-sedikit.

Can artinya bisnis. Laki-laki itu meneguk air putihnya. “Aku lagi mencari sarang burung. Kata para pedagang sarang burung di Malaysia di sini banyak guanya. Kalau memang benar-benar ada, bisa jadi kaya mendadak kita,” laki-laki itu kalau mengucapkan huruf “R” kurang jelas.

“Wah, selama ini aku belum pernah mendengar itu. Kalau sarang burung banyak di sini. Burung pipit dan burung tinjau,” kata Aciong.
“Bukan sarang burung itu. Bentuk sarangnya seperti ini,” laki-laki itu menguncupkan telapak tangannya, “Dan ukurannya juga kurang lebih segini,” lanjutnya.

Sunta dan bapaknya dari tadi ikut memperhatikan percakapan mereka. “Ini yang dimaksud Datuk,” kata Sunta dalam hati.

“Sebentar, Pak Sampe pernah apa tidak melihat sarang burung yang seperti itu?” Tanya Aciong kepada bapaknya Sunta.
“Tidak, apa kamu tahu, Nak?” bapaknya bertanya kepada Sunta.
“Pernah. Tetapi tempatnya cukup jauh di Hulu Kapuas,” jawab Sunta yakin.
“Betul!” laki-laki itu tiba-tiba berdiri, wajahnya berseri-seri.
“Menurut para pedagang di Malaysia, paling banyak di Hulu Kapuas. Kapan kita bisa ke sana, Dik?” laki-laki itu gembira sekali.
“Maaf, tetapi kita belum berkenalan,” Sunta kemudian menyodorkan tangannya, “Sunta” Sunta memperkenalkan diri.
“Janum,” laki-laki yang ternyata bernama janum itu menyambut jabatan tangan Sunta. Pak Janum berkenalan dengan bapaknya Sunta.
“Pak Janum menginap di mana?”
“Di penginapan terapung,” ujar Pak Janum.
“Apakah sarang burung itu dapat dijual ke Malaysia, Pak?” Sunta memperjelas.
“Ya, harganya mahal. Satu kilo harganya tiga juta rupiah,” Pak Janum menjelaskannya.
“Bagaimana caranya?” Tanya bapak.
“Sarang-sarang burung itu bawa saja ke sini, baru nanti aku akan menimbang dan membayar sesuai dengan banyaknya sarang. Tentunya aku akan menjual ke Malaysia lebih mahal. Namanya pedagang kan cari untung,” Pak Janum mulai asik berbicara.
“Pak, aku permisi sebentar,” Sunta berdiri.
“Mau kemana?” Tanya bapaknya.
“Ambil contoh sarang burungnya.”
“Bagaimana caranya?” Tanya bapaknya heran.
“Ada caranya. Sekarang Bapak di sini saja dulu, tanyakan selengkap-lengkapnya tata cara penjualan sarang burung itu. Tidak perlu khawatir, Pak Janum ini orangnya baik dan jujur,” kata Sunta setengah berbisik.
“Hati-hati, Nak?” pesan bapak.
“Saya permisi sebentar, Pak Aciong, Pak Janum,” Sunta membungkukkan badannya.

Sunta kemudian berjalan menuju Sungai Kapuas. Di aterus menyusuri tepi sungai mencari tempat yang sepi. Setelah menemukan tempat yang sepi, dia mengambil sesuatu dari saku bajunya. Ternyata buah tengkawang. Dia menggosok-gosokkan buah itu sambil memanggil Enggang kemudian melemparkannya ke atas.

Kaak! Tiba-tiba Enggang muncul langsung menangkap buah tengkawang itu.
“Enggang! Tolong ambilkan sarang burung layang-layang!” kata Sunta.

Kaak! Enggang terbang seperti kilat. Suntan menunggu di tepi sungai. Mudah-mudahan ini jalan yang terbaik, kata Sunta dalam hati.

Tidak lama kemudian, Enggang datang membawa tiga buah sarang burung di mulutnya.

“Terima kasih, Gang. Salam untuk Lempiau,” kata Sunta menerima sarang burung layang-layang itu.
Enggang segera melesat lagi dan kembali ke Riam Matahari.

Kaak!
Sunta melambaikan tangannya kemudian kembali ke warung makan Aciong.