Jalan Terang Bagian 2

“Apa seperti ini, Pak Janum?” Sunta menunjukkan sarang burung yang dibawanya.
Pak Janum memeriksa sarang burung, “benar, inilah sarang burung yang aku maksud. Kapan adik membawa ke sini dalam jumlah besar?” berondong Pak Janum tidak sabar.

“Jangan khawatir masalah uangnya, aku sudah menyiapkan,” Pak Janum meyakinkan.
“Dua hari lagi, Pak,” kata Sunta.
“Baik, aku tunggu di penginapan terapung, ya,” kata Pak Janum.
“Ya. Kalau begitu, kami permsi dulu, Bapak-bapak,” Sunta mengajak bapaknya kembali ke Desa Melapi.

Bapaknya sendiri dari tadi hanya diam. Dia berusaha untuk memahami apa yang telah dilakukan oleh anaknya. Semua serba tidak amsuk akal. Setelah kembali dari menjalani hukuman, anaknya telah banyak berubah.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Sunta menghentikan sampannya.
“Ada apa, Nak?” Tanya bapaknya.
“Sebentar. Aku akan memanggil kawanku. Bapak tenang saja tidak usah terkejut atay heran kalau melihat aku berbicara sendiri,” kata Sunta.
“Ya,” jawab bapaknya singkat.

Sunta mengeluarkan buah tengkawang dari saku bajunya. Suntan memutar-mutar buah itu sambil memanggil Enggang kemudian melemparkannya ke atas.

Kaak! Enggang datang menangkap buah tengkawang itu kemudian menukik hinggap di bibir sampan.

“Aku minta tolong ambilkan sarang burung layang-layang yang banyak, ya. Tapi ingat, ambil sarang yang sudah kosong. Nanti kamu antarkan ke rumahku, ya!” pesan Sunta kepada Enggang.

Kaak! Enggang terbang lagi semakin tinggi dan kemudian menghilang.

“Kamu tadi berbicara dengan siapa, Nak?” Tanya bapaknya yang tidak bisa melihat Enggang.
“Tadi itu kawanku, Pak. Enggang namanya.”
“Burung Enggang maksudmu?”
“Iya.”
“Milik Datuk Gaeng?”
“Betul, Pak.”

Bapaknya Sunta sangat bersyukur memiliki anak seperti Sunta. Dia tidak pernah membayangkan kalau akan menjadi seperti ini.

Selama dua malam, Enggang dan kawan-kawannya mengantarkan sarang burung layang-layang ke rumah Sunta. Tentu saja yang dapat melihat mereka hanya Sunta. Bapaknya hanya dapat menemukan sarang-sarang burung pada pagi hari sudah menumpuk di pojok ruangan. Suntan dan bapaknya memasukkan sarang tersebut ke dalam karung.

Pada hari yang sudah dijanjikan, Sunta dan bapaknya ke Putissibau lagi untuk menjual sarang burung layang-layang. Begitu sampai di Putussibau, mereka langsung menuju penginapan terapung untuk menemui Pak Janum.

“Ini sarang burungnya, Pak Janum,” kata Sunta.
“Ya, aku timbang dulu, ya?” kata Pak Janum.
“Silakan, Pak,” Sunta dan bapaknya duduk di kursi ruangan penginapan.
“Sebentar, aku pesankan sarapan dulu ya.”

Sementara Pak Janum menimbang sarang, Sunta dan bapaknya sarapan. Pak Janum berhati-hati mengambil sarang burung dari karung karena kalau rusak harganya menjadi lebih murah.

“Sepuluh kilo dua ons,” kata Pak Janum setelah selesai menimbang.
“Sudah, dihitung sepuluh kilo saja. Yang dua ons, hitung-hitung untuk perkenalan kita,” kata Sunta.
“Wah, beruntung sekali aku hari ini. Terima kasih banyak, Dik.”

Pak Janum masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan membawa uang sejumlah tiga puluh juta. “Ini, Dik. Uangnya,” Pak Janum memberikan uang itu kepada Sunta.
“Minta rela, Pak,” kata Sunta menerima uang itu. Minta rela adalah ungkapan terima kasih yang paling dalam dan lebih dari sekedarucapan terima kasih.
“Sama-sama, Dik Sunta juga telah member aku Can,” kata Pak Janum.

Sejak saat itu, Sunta dan bapaknya sering berhubungan dengan Pak Janum untuk menjual sarang burung layang-layang. Hasil penjualannya di serahkan kepada kepala Desa. Melalui Rapat Dewan Adat, mereka sepakat membeli diesel ddan membuat jalan yang menghubungkan Melapi dengan Putussibau. Biayanya memang sangat besar. Akan tetapi mereka tidak khawatir karena hasil penjualan sarang burung layang-layang cukup banyak.

Dalam waktu satu tahun, wajah Desa Melapi berubah drastic. Kalau malam dulu sepi dan gelap. Sekarang sudah terang karena sudah ada diesel yang menghasilkan tenaga listrik untuk lampu. Perdagangan semakin lancar karena jalan ke Putussibau sudah jadi. Bahkan sudah ada mobil angkutan umum yang masuk ke Desa Melapi. Semua itu tidak lain berkat Sunta.

Meskipun begitu Sunta tetap seperti dulu, lugu, jujur, dan sederhana. Dan tidak menganggap dirinya yang hebat karena semua itu berkat bantuan Datuk Gaeng beserta rakyat dan binatang kasayangannya. Sunta sering mengajak Rangge ke Putussibau. Dia mengajarkan cara-cara berdagang sarang burung pada sahabatnya itu.

Pada saat yang telah ditentukan, Sunta melaksanakan tugasnya sebagai Raja Muda di Kerajaan Riam Matahari. Dia berpamitan dengan bapaknya, Pak Kanyawan, Para Dewan Adat Melapi dan seluruh warga Desa Melapi. Mereka melepas kepergian Sunta dengan upacara adat. Sekarang bapaknya Sunta ditemani oleh Rangge yang sudah seperti anaknya sendiri.

Ramai warga desa berkumpul di pinggir sungai Kapuas. Sunta turun dari Rumah BEtang dengan langkah pasti. Semua menyalaminya dengan penuh rasa haru. Pada saat dia masuk ke sampan, terjadilah keanehan.

Kaak! Suara Enggang yang tiba-tiba berada di atas Sunta keras sekali terdengar.

Nguk! Ternyata Lempiau sudah berada di belakang Sunta. Warga Desa terheran-heran, bahkan ada yang takut. Akan tetapi setelah dijelaskan oleh Pak Kanyawan, mereka baru mengerti.

Sunta meninggalkan Desa di damping oleh Lempiau dan Enggang. Sampai di Riam Matahari, Sunta disambut oleh rakyatnya.

Pada hari itu juga, Datuk Gaeng menyerahkan tahta Kerajaan Riam Matahari kepadanya. Sunta sebagai Raja Riam Matahari dan Datuk Gaeng sebagai penasehatnya. Dia masih memimpin Kerajaan Riam Matahari sampai sekarang. Bagi orang yang bersih saja yang dapat mencapai puncak Riam Matahari.