Kebakaran Bagian 5

Hari sudah mulai gelap, Sunta tampak masih sibuk mengemas barang-barangnya. Sesekali dia memegang bambu-bambu yang sudah terisi air enau kental. Ternyata air enau tersebut masih panas jadi belum bisa dilepas.
“Sedang apa nak?” Sapa Pak Kanyawan, kepala Desa yang baru pulang dari ladang.
“Membuat gula. Bapak baru pulang ya?”
“Iya. Bagaimana, jadinya baik?” Tanya Pak Kanyawan sambil melihat-lihat gula enau dalam bambu.
“Lumayan, Pak. Tapi masih panas. Jadi belum dapat dilepas,” Sunta menjelaskan.
“Aku jadi ingat emakmu, Sunta. Di Desa ini yang paling mahir membuat gula enau hanya emakmu Dan ternyata sekarang menurun kepadamu,” Pak Kanyawan masih melihat-lihat. “Bapak pulang dulu, nak,” lanjutnya.
“Silahkan, Pak,” kata Sunta sopan.
“Jangan lupa matikan apinya, ya!” Pesan Pak Kanyawan sambil berlalu.
“Baik, Pak.”
Sebelum pulang, Sunta menyiramkan air ke tungku. Malam nanti baru melepaskan gula dari bambu.
Malam ini Sunta harus berjaga Dan mengambil gulanya karena kalau tidak diambil, bisa dimakan binatang. Akan tetapi ia tidak dapat menahan rasa kantuknya. Akhirnya ia pun tertidur.
Sementara warga Rumah Betang yang dihuni oleh 15 sampai 20 keluarga tersebut sudah terlelap. Mereka masih Satu keturunan dalam Satu Rumah Betang. Kalau sedang tidak ada acara, pada malam Hari Susana Rumah Betang sangat sepi terutama Bagian teras.
Rumah Betang terdiri dari Dua ruangan, ada teras di Bagian depan Dan ruang untuk tempat tinggal ada di Bagian tengah sampai belakang. Teras biasanya digunakan untuk menyelenggarakan acara adat, pesta-pesta, Dan pertemuan warga sebagai acara rutin. Ruang untuk tempat tinggal dibagi dengan sekat-sekat. Demi menjagaku keamanan, dalam Satu Rumah Betang hanya ada Satu tangga.
Sementara Itu, di Luar angin berhembus dengan kencang. Tungku api yang dipergunakan untuk membuat gula tadi, ternyata masih ada bara apinya. Bara api yang tertiup angin lama-lama menimbulkan api.
Api mulai menjilat kayu bakar di sekitar tungku. Api semakin besar, lidah api kesana-kemari. Angin semakin kuat meniup kayu-kayu yang sudah terbakar Dan terus bergerak sampai membentur tiang Rumah Betang.
Meskipun tiangnya menggunakan batang kayu pilihan seperti kayu belian atau kayu besi tua yang masih utuh, tetapi lama-kelamaan api dapat membakarnya. Api Naik sampai ke lantai Rumah Betang yang tingginya berkisar 4 sampai 5 meter, sedangkan tinggi atap dari lantai, 5 sampai 6 meter. Jadi dapat diperkirakan total tingginya sekitar 9 sampai 11 meter Dan panjangnya antara 60 sampai 80 meter.
Sunta tersadar bahwa dia harus mengambil gula-gula yang ada di bawah. Dia keluar dengan sempoyongan karena masih mengantuk. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat lantai teras Rumah Betang yang paling ujung sudah terbakar.
“Api! Kebakaran! Kebakaran!” Sunta berteriak sekuat tenaga.
Warga Rumah Betang keluar. Begitu melihat api membakarnya lantai teras, mereka segera berlarian mengambil ember Dan turun ke sungai. Susana hiruk pikuk Dan anak-anak menangis. Para orang tua saling membantu mengambil air until disiramkan ke api. Ada juga yang sibuk membawa barang-barang yang ada dalam rumah keluar. Tujuannya untuk mengamankan dari kebakaran.
“Bagaimana ini, Pak?” Tanya seorang warga kepada Pak Kanyawan yang sedari tadi berdiri tegak memperhatikan pergerakan api.
“Sudah, kamu tenang Saja. Semua turun!” Kata Pak Kanyawan.
Meskipun tampaknya beliau tidak berteriak, tetapi suaranya dapat didengar oleh semua orang yang berada di situ. Semua menoleh ke arah Pak Kanyawan. Semua diam setelah mengetahui bahwa yang berbicara adalah Kepala Desa. Satu persatu turun dari Rumah Betang dengan tenang. Warga yang tadinya sempat kalut, sekarang Menjadi diam.
Di depan Rumah Betang, warga melihat apa yang hendak dikerjakan oleh Pak Kanyawan. Mereka percaya kalau Pak Kanyawan dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapi.