Kebakaran Bagian 6

Dengan langkah pasti, Pak Kanyawan mendekati api yang sedang menyala. Ketika kurang Satu langkah dari api, Pak Kanyawan berhenti. Tangannya bersedekap, matanya menatap api Dan mulutnya komat-kamit sedang membaca mantera. Tidak lama kemudian kedua telapak tangannya mengarah ke api. Terjadillah Hal yang aneh, dari kedua telapak tangannya keluar asap putih. Mula-mula tipis, lama-kelamaan jadi tebal bergumpal-gumpal. Asap-asap putih Itu menerpa api. Setiap api yang terkena asap, langsung padam. Begitu seterusnya sehingga api padam semua. Bekas lantai yang terbakar basah seperti embun. Serentak warga yang dari tadi memperhatikan Pak Kanyawan bertepuk tangan.
“Kami boleh Naik, Pak!” Tanya seorang warga Rumah Betang.
Pak Kanyawan mengangguk. Semua warga Naik ke Rumah Betang. Mereka semua bersalaman dengannya.
Pada saat Itu juga diadakan rapat Dewan Adat Melapi. Pada rapat tersebut membahas tentang kebakaran yang terjadi. Merusak Rumah Betang merupakan pelanggaran yang besar. Kalau pelakunya tidak segera dijatuhi hukuman Adat para leluhurnya bisa marah. Semua warga mengikuti dengan seksama kecuali para ibu Dan anak-anak.
Warga Desa Melapi memiliki hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat, yaitu hukum adat Melapi. Seperti hukum adat lainnya, hukum adat Melapi today tertulis. Hukum ini diajarkan secara turun-temurun.
Warga Desa Melapi membentuk Dewan Adat yang bertugas mengadili warga yang melanggar hukum adat. Selain Itu Dewan Adat juga mengurus masalah kepentingan orang banyak, seperti; perkawinan, perceraian, warisan, upacara adat kematian Dan lain-lain. Sanksi hukum adat ini berupa denda, yang paling berat diusir dari Desa. Isi hukum adat Melapi biasanya disampaikan dalam bentuk syair.
Misalnya :
“Yang berani mencuri
Dia harus ganti
Senilai barang yang dicuri
Ditambah kerja tujuh Hari
Jangan mengharap gaji”
Maksudnya :
“Barang siapa yang telah terbukti mencuri hukumannya adalah mengganti barang-barang yang telah dicuri Dan ditambah dengan bekerja sukarela selama tujuh Hari kepada orang yang barangnya dicuri.”
Akan tetapi, jika dengan Dewan Adat menemukan kesulitan dalam memutuskan suatu kasus, maka mereka akan bersama-sama mengadakan upacara pemanggilan Roh nenek moyang. Melalui upacara pemanggilan tersebut, maka hadirlah para leluhur mereka yang akan memberikan Jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapi warga.
Akhirnya, dalam rapat Dewan Adat tersebut diputuskan bahwa pelaku pembakaran adalah Sunta. Hukumannya yang harus diterimanya yaitu diusir dari Desa selama Dua tahun.
“Apakah kamu menerima hukumannya ini, nak?”
“Bersedia, Datuk,” jawab Sunta.
“Sebenarnya kami juga tahu bahwa kamu tidak sengaja melakukannya, tetapi bagaimana lagi, hukum harus ditegakkan. Sebenarnya hukumannya bagi orang yang merusak Rumah Betang adalah diusir dari Desa selama sepuluh tahun, tetapi karena selama ini kamu menunjukkan sikap yang baik Dan kamu berbuat ini tidak sengaja, maka hukumannya Menjadi lebih ringan. Sebelum kamu melaksanakan hukumannya, app permintaanmu, nak?” Tanya ketua Adat.
“Sebelumnya say mohon maaf kepada semua warga Rumah Betang, karena kelalaian say maka terjadi kebakaran. Kalau diijinkan, sebelum saya pergi dari Desa, saya ingin bertemu dengan bapak saya Dan berziarah ke makam email saya,” suara Sunta pelan namun jelas.
Mendengar perkataan Sunta, yang hadir Menjadi tersentuh. Mereka menunduk bahkan beberapa ada yang meneteskan air mata.
“Kamu memang anak yang baik. Permintaanmu dikabulkan. Percayalah, hidup adalah perjuangan Dan perjuangan perlu pengorbanan. Hikmah di balik semua kejadian pasti ada. Mudah-mudahan kamu akan menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi hidupmu Dan Kita semua. Kuncinya, Jalan hukumannya dengan ikhlas meskipun menyakitkan. Ingat, kamu adalah laki-laki. Hadapi semua dengan jiwa yang besar. Kami Dewan Adat Dan seluruh warga Desa Melapi tetap menyayangimu. Jika sudah selesai Masa hukumanmu, kami akan tetap menerimamu dengan tangan terbuka,” kata ketua Dewan Adat.
Sesuai dengan permintaan, sebelum meninggal Desa, Sunta akan menemui bapaknya Dan berziarah ke makan emaknya. Ia meninggalkan Desa Melapi dengan sampan. Semua warga mengantar keberangkatannya, ada yang berdiri di tepi sungai Kapuas Dan ada juga yang berdiri di teras Rumah Betang. Semua melambaikan tangan pada Sunta. Para ibu banyak yang menangis. Dari semua orang, yang paling bersedih adalah bapaknya Dan Rangge sahabat karibnya.
Tuhan telah menggariskan nasih hidup Sunta. Masih kecil ditinggalkan emaknya. Sekarang harus menerima human yang cukup berat. Apa mau dikata, nasib manusia Tuhan yang menentukan. Sepahit apapun resiko hidup, nasib tetap dihadapi dengan sabar.