Kembali ke Desa Bagian 1

Sampan Sunta berhenti di depan Rumah Betang. Sebelum keluar dari sampan, Sunta menatap Rumah Betang penuh kerinduan.

“Sunta datang! Sunta datang!” teriak warga Rumah Betang. Satu persatu keluar dan menuju Sungai Kapuas. Sunta di sambut dengan meriah, semua orang menyalaminya. Meskipun sekarang tubuh dan wajah Sunta sudah berubah, tetapi mereka mengenalinya.

Malam harinya para warga mengadakan pesta penyambutan atas kembalinya Sunta.

Dalam pesta itu Sunta diminta menceritakan pengalamannya selama menjalani hukuman. Dia menceritakan apa adanya kecuali pertemuannya dengan Datuk Gaeng. Para warga sangat tertarik mendengar ceritanya. Dari tadi, Rangge terus berada di sebelah kiri Sunta dan bapaknya mendampingi di sebelha kanan.

Di rumah, barulah Sunta menceritakan kepada bapaknya tentang pertemuan dengan Datuk Gaeng, pertapaannya, ilmu-ilmu yang diperoleh dan kerajaan Datuk Gaeng. Mendengar cerita Sunta, bapaknya menjadi sedih.

“Berarti kamu akan meninggalkanku lagi, Ta,” kata bapaknya sambil menangis.
“Mengapa begitu Pak?”
“Kalau kamu sudah diangkat menjadi Raja Muda, tentu kamu harus bertanggung jawab memimpin rakyatmu.”
“Yah, itu semua sudah menjadi garis hidupku, Pak. Tetapi aku masih mempunyai tugas di sini, yaitu membangun desa kita, mudah-mudahan aku mampu.”
“Aku siap membantumu, Ta,” kata bapaknya, tangisnya sudah mulai reda.

Keesokan harinya, Sunta bersama bapaknya berziarah ke makan ibunya. Dia menggunakan ilmu dari Datuk Gaeng agar dapat berkomunikasi dengan ibunya.

“Waktu dua tahun, telah merubah kamu menjadi seorang pemuda yang hebat nak,” kata bapaknya di depam makan ibunya.
“Semua sudah ada yang mengatur, Pak,” jawab Sunta merendah.
Sunta dan bapaknya kemudian pulang.

Ketika bapak Sunta ditinggalkan untuk melaksanakan hukuman adat, dia jadi jarang berdagang, paling hanya satu kali dalam dua bulan. Itu pun barang dagangannya hanya sedikit. Semangat hidupnya menurun seketika manakala dia hidup seorang diri. Dia menganggap tidak ada gunanya bekerja, karena tidak ada lagi yang dia carikan nafkah.

“Bapak harus tetap berdagang. Jangan kemudian menjadi tidak semangat kerja hanya karena aku tak di rumah.” Kata Sunta pada waktu makan siang bersama.
“Kamu tahu dari siapa Sunta?” Tanya bapaknya heran.
“Jika sudah menguasai ilmunya Datuk Gaeng, tempat dan waktu tidak menjadi masalah,” Sunta menjelaskan dengan serius.
Bapaknya manggut-manggut, “Apakah aku bisa bertemu dengan Datuk Gaeng?” tanyanya ragu-ragu.
Sunta tersenyum, “Sebenarnya untuk bertemu Datuk Gaeng ada aturan-aturan tertentu. Bapak pasti sudah tahu itu, tetapi karena Bapak adalah orang tuaku, semua bisa terjadi.”
“Kapan kamu mempertemukan aku dengan Datuk, Nak?” Tanya bapak tergesa-gesa.
“Maaf, Pak. Selama Bapak masih punya rasa ingin bertemu dengan Datuk dan niatnya tulus, aku kira bisa saja. Nanti malam bersama-sama kita ke Sungai Kapuas,” Sunta berjanji.
“Mudah-mudahan, Datuk mau menemuiku.”
“Aku mau ke rumah Rangge dulu, Pak.”
“Apakah dia akan kamu ajak?”
“Tidak, aku Cuma mau bertandang saja. Permisi dulu, Pak,” Sunta keluar mencari Rangge. Pintu kamar Rangge tidak jauh dari kamar Sunta.
“Ada Rangge tidak, Bi?” Tanya Sunta kepada emaknya Rangge.
“Mancing, apa perlu aku panggilkan?”
“Tidak usah. Biar aku mencarinya. Permisi, Bi,” Sunta berpamitan dengan sopan.
“Kamu sekarang sudah berubah ya, Ta. Badanmu besar dan sudah mulai berkumisan.”
Sunta hanya tersenyum sopan. Dia turun dari Rumah Betang untuk menemui Rangge.
“Bagaimana, Ge? Dapat banyak tidak ikannya?” Tanya Sunta sambil duduk di lanting dekaat Rangge memancing.
“Kecil-kecil, Ta,” jawab Rangge malu.
“Jangan pilih yang kecil. Pilih saja yang besar,” Sunta masih senang bercanda seperti dulu.
“Kamu ini ada-ada saja. Sekarang badanmu bisa sebesar ini, kamu makan apa selama di hutan, Ta?”
“Pokoknya apapun yang dimakan binatang, itu makananku,” jawab Sunta seenaknya.
“Kamu memang hebat,” puji Rangge.
“Aneh, orang bersalaha kok dikatakan hebat. Justru kamu jangan sampai seperti aku. Kamu harus menjadi orang yang baik, selalu berhati-hati dalam bertindak.”
“Masih saja kamu seperti dulu,” kata Rangge sambil mengangkat kailnya. Ternyata dapat ikan kecil lagi. Rangge mengeluh dan Sunta merasa kasihan melihatnya.
“Kamu mau dapat ikan besar?”
“Ini sifat manusia yang aneh, sudah tahu masih saja bertanya,” Rangge bersungut-sungut. Dia mengulangi kata-kata Sunta dulu.
Sunta tersenyum. “Sebentar ya!”