Kembali ke Desa Bagian 2

Sunta membungkukkan tubuh ke sungai. Tangannya dimasukkan ke dalam air sambil bibirnya komat-kamit membaca mantera, kemudian tangannya dipukul ke air tiga kali.
Plak, plak, plak.
“Ikan besar kemarilah, kalian dicari Rangge sahabatku…”
Range melihat gaya Sunta menjadi tertawa, dia belum tahu bagaimana Sunta sekarang.
“Sudah. Coba kamu masukkan kailnya,” kata Sunta.
Rangge senyum-senyum. “Tambah aneh saja kamu ini.”
“Coba saja dulu. Siapa tahu mereka mendengar panggilanku,” kata Sunta tersenyum, seperti main-main. Padahal dia benar-benar memanggil ikan yang besar dengan manteranya. Rangge melempar kailnya dengan enggan.
“Selama di hutan kamu tinggal di mana?” ujar Rangge tidak memperhatikan kailnya.
“Di gubuk dan di dua. Tuh, lihat tali pancingmu lurus. Coba tarik,” kata Sunta terus mengawasi tali pancing Rangge.
Rangge mengerutkan dahinya ketika joran pancing terasa berat kemudian pelan-pelan diangkatnya.

Klopak! Klopak! Seekor ikan besar bergerak kesana kemari. Mulutnya sudah tersangkut mata kail, jadi dia tidak dapat lepas lagi.

“Bagaimana ini! Lama-lama talinya bisa putus!” Rangge tampak kebingungan.
Dia menhan jorannya sekuat tenaga dan ikan itu menarik-narik juga dengan kuat.
“Sini! Coba aku pegang jorannya!” Sunta meminta joran yang masih dipegang dengan kedua tangan Rangge. Sunta memegang joran hanya dengan satu tangan, berangsur-angsur ikan menjadi tenang dan tidak lagi berontak.
“Nih, tarik!” Sunta memberikan joran kepada Rangge lagi.
“Nanti dia meronta lagi?” Rangge ragu.
“Sudah, yang penting tenang.”

Range dengan pelan menarik tali pancingnya. Ian yang didapat sebesar paha orang dewasa. Rangge cuup kewaahan mengangkat ikan itu.

“Bantu aku, Ta!” Rangge minta tolong.
Sunta memegang kepala ikan, “Meskipun besar tapi kamu ringan,” lalu diangkatnya ikan itu dengan mudah.
“Yuk, kita pulang,” ajak Sunta sambil menenteng ikan besar itu. Rangge benar-benar heran dengan kemampuan Sunta. Dia mengemasi barang-barangnya, kemudian mengikuti Sunta dari belakang.
“Sekarang kamu sakti, ya?”
“Ah, hanya kebetulan saja.”

Warga desa terkagum-kagum melihat Sunta menenteng ikan besar itu.

“Dapat ikan besar?” Tanya seorang warga.
“Bukan saya, tapi Rangge,” jawab Sunta sambil tersenyum.

Di rumah Rangge bercerita tentang kehebatan Sunta kepada emaknya dengan penuh semangat.

Malam telah tiba, Sunta dan bapaknya bersiap-siap pergi ke Sungai Kapuas. Tujuannya yaitu untuk menemui Datuk Gaeng. Sesampainya di tepi sungai, Sunta berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Dia mulai membaca mantera kemudian menepuk-nepukkan tangannya kea it sungai dengan irama yang teratur.

Setelah itu, dia mengajak bapaknya untuk duduk menunggu. Sunta dan bapaknya duduk bersila di pinggir sungai. Mereka menunggu kehadiran Datuk Gaeng dalam suasana malam yang hening. Tiba-tiba di atas Sungai Kapuas ada asap putih. Mulanya tipis, lama kelamaan menjadi tebal dan tidak lama kemudian asap itu membentuk manusia. Ternyata itu Datuk Gaeng datang.

“Apa kabar Sunta? Ada apa kamu memanggilku?” Tanya Datuk yang masih berdiri di atas asap putih tebal.
“Baik-baik saja Datuk. Mohon maaf, tetapi bapak saya ingin sekali bertemu dengan datuk. Mudah-mudahan Datuk berkenan,” kata Sunta sopan.”
“Sampe, apa yang mau kamu katakana?” Tanya Datuk sambil menatap wajah Pak Sampe, bapaknya Sunta.
“Begini Datuk,” suara bapak Sunta agak bergetar.
“Saya hanya ingin berterima aksih pada Datuk, karena Datu telah mmeberikan bantuan dan banyak hal pada anak saya,” lanjutnya.”
“Yah, kamu adalah orang tua yang beruntung mempunyai anak seperti Sunta. Dia anak yang baik. Dan sekarang dia sudah menjadi Raja Muda di kerajaanku. Apakah Sunta sudah bercerita?” Tanya Datuk.
“Sudah,” jawab bapak singkat.
“Apakah kamu keberatan, Sampe?” Tanya datuk.
“Tidak, Datuk,” jawab Pak Sampe mantap.
“Sunta, sebaiknya kamu segera pergi ke Putusibau dengan bapakmu,” kata Datuk.
“Ada apa di sana?” Tanya Sunta.
“Ke sana saja, nanti kamu akan tahu apa yang akan terjadi,” jawab Datuk Gaeng.
“Baik, Datuk.”
“Aku pulang dulu, hati-hati Sunta!” datuk Ganeg hilang dari pandangan mata.

Bapaknya Sunta merasa lega setelah bisa bertemu dengan Datuk Gaeng. Sunta berpikir, apa kira-kira tujuan Datuk menyuruhnya pergi ke Putussibau.

Malam telah larut, Sunta dan bapaknya bercerita panjang lebar sambil mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa besok ke Putussibau. Bapaknya Sunta tampak bersemangat sekali.

“Aku siap membantumu, Nak,” ujar bapaknya berulang kali.
“Terima kasih, Pak. Sekarang kita tidur dulu, supaya besok tidak kesiangan,” ajak Sunta.