Tinggal di Gua Bagian 1

Suntan menjalani hidup di Hutan Kalis seperti biasanya. Meskipun di alam ghaib dia sudah diangkat menjadi Raja Muda, sifatnya tidak sombong. Sebaliknya, sekarang dia menjadi lebih dewasa dan sabar. Dia tidak menggunakan ilmu kesaktiannya untuk sembarangan, karena ilmu tersebut hanya boleh digunakan jika dalam keadaan terjepit atau terpaksa. Sunta pun hidup secara wajar.

Kaak! Kaak! Kaak!
Enggang memanggil Sunta yang sedang menanam singkong.
“Ada apa?”
Enggang menggerak-gerakkan paruhnya, tanda dia ingin mengajak Sunta berjalan-jalan.
“Ke mana?”
Enggang menunjuk ke seberang sungai.
“Kita tunggu Lempiau dulu,” kata Sunta melanjutkan pekerjaannya. Enggang pun menunggu Lempiau yang sedang mencari buah-buahan. Dia bertengger di dahan kayu sambil menggosok-gosok bulunya. Tidak lama kemudian, Lempiau datang membawa buah-buahan.
“Simpan dulu buahnya di gubuk, kita akan ke seberang sungai,” kata Sunta kepada Lempiau.

Lempiau menyimpan buah ke dalam gubuk, kemudian mereka menyebrang sungai. Sunta dan Lempiau naik sampan, Enggang terbang mengikuti dari atas. Sesampainya di seberang sungai, Sunta menambatkan sampan dan masuk ke hutan. Sunta jadi penasaran, apa yang akan ditunjukkan oleh Enggang. Dia dan Lempiau mengikuti kemana si Enggang terbang. Mereka berjalan sudah agak lama tetapi Enggang belum juga berhenti. Baru saat menjelang sore, Enggang berhenti di sebuah batu yang besar. Sunta dan Lempiau duduk melepaskan lelah. Enggang menggores-goreskan paruhnya ke batu besar itu.

Kak! Enggang meminta Sunta mengangkat batu.
“Mana aku mampu mengangkat batu sebesar itu?” SUnta masih duduk.
Nguk! Nguk! Lempiau menepuk dada Sunta.
“Memang datuk sudah mengajarkan. Tetapi kita tidak dalam keadaan terpaksa,” kata Sunta.
Kaak!
“Benar juga, ya. Kalau aku tidak menggunakan ilmu, mana mungkin dapat mengangkat batu sebesar itu,” kata Sunta sambil tersenyum.

Sunta segera membaca mantera untuk mengangkat barang yang berat. Enggang menyingkir dari batu. Setelah membaca mantera, Sunta mengangkat batu yang besar. Sekali angkat batu tercabut dari tempatnya.

“Gua!” kata Sunta.

Ternyata batu itu menutupi sebuah gua. Bekas batu tadi merupakan pintu masuk gua. Enggang segera terbang ke dalam gua kemudian Sunta dan Lempiau mengikutinya. Ruangan gua sangat luas dan di bagian dalamnya terdengar suara riuh. Setelah didekati, ternyata banyak sekali burung kecil beterbangan kesana kemari, ada juga yang sedang mengeram di sarangnya yang menempel pada dinding gua.

“Dari mana masuknya burung-burung ini, ya?”
Nguk! Nguk! Lempiau menunjuk ke atas. Ternyata ada lubang di bagian atas gua, dari situlah burung-burung itu keluar masuk.
“Burung apa, ya, namanya?”
Kaak!
“Baiklah, karena dati tadi kulihat burung-burung itu terbangnya melayang-layang. Maka aku beri nama burung laying-layang atau bisa juga disebut dengan wallet karena sarangnya yang lengket menempel di dinding gua. Bagaimana, apa kalian setuju?”
Lempiau dan Enggang mengangguk.
“Sekarang kita mau ke mana?”
Kaak! Enggang berdiri di salah satu ruangan gua.
“Yah, aku setuju. Malam ini kita tidur di sini,” Sunta mengikuti saran Enggang.

Di dalam gua terasa dingin. Sunta menyuruh Lempiau membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh dan menerangi ruangan gua yang gelap gulita. Malam ini, mereka tidur di dalam gua. Enggang yang hanya berdiri di lantai gua karena tidak ada tempat untuk bertengger. Lempiau telah mencarikan rumput alang-alang yang tebal untuk alas tidur. Sunta hanya tidur sebentar, karena sebagian waktunya dihabiskan untuk mengamati tingkah laku burung laying-layang itu. Dia juga memperhatikan bentuk sarangnya. Bentuknya lucu dan berwarna putih bening menempel pada dinding gua dengan lekat.