Tinggal di Gua Bagian 2

Clit! Clit! Clit! Suara burung tersebut bersahut-sahutan.
Pluk! Sebuah sarang yang sudah kosong itu jatuh ke bara api. Bara api memanaskannya kemudian berangsur-angsur warnanya berubah menjadi cokelat muda. Asap mengepul dari sarang yang terpanggang. Bau harum memenuhi ruangan gua. Suntan dan Lempiau saling berpandangan. Lempiau memungut sarang itu dan mendekatkan kehidungnya, kemudian dijilatnya. Rasanya gurih. Lalu ia memakannya sedikit. Nguk! Lempiau mengacungkan jempol. Sunta pun ikut mencicipi sarang tersebut.

“Gurih, ya. Coba rasakan!” Sunta memberikan sepotong pada Enggang. Diterima dengan paruh dan semuanya dimasukkan ke mulut, dan Enggang mengangguk-angguk.
“Enggang, coba ambil lagi sarang yang sudah kosong!”

Enggang segera mencungkil sarang burung laying-layang dengan paruhnya. Ternyata sarang yang sudah kosong cukup banyak. Satu persatu Enggang mengambil dan menjatuhkannya ke bara.

“Sudah dulu, Enggang!”

Enggang kembali berada di dekat Sunta dan Lempiau. Ada Sembilan sarang yang dipanggang. Setelah semuanya masak, masing-masing mendapat tiga buah sarang.

Setelah makan sarang burung itu, tubuh Sunta menjadi hangat dan tidak lagi kedinginan.

“Berarti sarang burung ini selain enak, juga bisa membuat tubuh kita hangat,” kata SUnta berkesimpulan. Hal ini merupakan pengalaman baru bagi mereka. Malam telah larut, akhirnya mereka pun tertidur.

Lempiau yang pertama kali bangun, kemudian membangunkan Sunta dan Enggang. Badan mereka menjadi segar, karena tadi malam makan sarang burung layang-layang panggang. Hari mulai terang, mereka kembali ke gubuk di Hutan Kalis.

Setelah berunding, akhirnya mereka sepakat untuk pindah ke gua sebelumnya, Enggang bertugas untuk melihat lingkungan sekitar gua. Apakah ada yang dapat dimakan? Enggang memeriksa lingkungan sekitar gua dari pagi sampai siang. Ternyata banyak pohon buah-buahan dan juga mata air. Tidak jauh dari gua, ada sungai kecil yang bersambungan dengan sungai Kapuas. Berdasarkan hasil penelitian Enggang, akhirnya mereka pindah ke dalam gua.

Sunta membawa beberapa batang singkong untuk ditanam. Sekarang mereka tinggal di gua, maka menu makanannya bertambah satu, yaitu sarang burung layang-layang panggang. Ada sedikit peningkatan dengan tinggal di gua, mereka tidak khawatir jika hujan atau angin besar. Kalau siang, Sunta menanam singkong atau membersihkan lingkungan di sekitar gua. Sedangkan kalau malam, dia menghafalkan mantera-mantera yang diajarkan oleh Datuk Gaeng.

Tidak terasa waktu terus berlalu. Sunta meninggalkan desanya sudah dua tahun, jadi masa hukuman telah berakhir. Pertentangan di hatinya terjadi. Di satu sisi, dia ingin berkumpul kembali dengan bapaknya serta warga Desa Melapi. Akan tetapi di sisi lain, dia juga enggan berpisah dengan Datuk Gaeng, Lempiau dan Enggang serta kehidupan yang tenang tenteram. Dengan perasaan yang tidak menentu, datanglah Datuk Gaeng.

“Aku datang, Sunta,” Datuk Gaeng menyapa SUnta yang sedang duduk sendirian di depan gua.
“Apa kabar, Datuk Gaeng?” Sunta menyalami.
“Baik. Kamu sedang kebingungan, ya?”
“Benar.”
“Kamu harus pulang dulu ke Desa Melapi. Supaya mereka tahu bahwa kamu masih hidup. Jika mereka bertanya, ceritakan saja apa adanya. Tetapi tentang pertemuanmu dengan aku, tidak perlu kamu ceritakan kecuali kepada bapakmu. Berusahalah untuk membangun desamu.”
“Bagaimana caranya?”
“Pasti ada caranya, kalau kamu mempunyai niat.”
“Baiklah. Lalu bagaimana dengan Lempiau dan enggang?” Sunta mengkhawatirkan kedua sahabatnya.
“Mereka akan kembali kekerajaanku. Kamu tentu sudah tahu cara untuk bertemu denganku kan?”
“Sudah.”
“Nah, jika kamu ingin menemui mereka, caranya sama. Hanya berbeda pada nama yang kamu panggil saja,” jelas Datuk Gaeng.
“Baik. Kalau begitu, besok saya akan berangkat ke Desa Melapi,” Sunta meminta ijin.
“Ya, hati-hati. Aku pulang dulu,” Datuk Gaeng menghilang setelah menyalami Sunta.

Keesokan harinya, Sunta berangkat ke Desa Melapi dengan berat hati. Lempiau dan Enggang tampak sedih berpisah dengan Sunta. Bagaimanapun juga, dia harus kembali ke Desa Melapi. Ketika melepas kepergian Sunta, Lempiau dan Enggang meneteskan air mata. Sampan yang dipakai Sunta melaju dengan tenang. Dia menggunakan ilmunya untuk mengayuh sampan dengan ringan. Hatinya berdebar-ddebar saat memasuki Desa Melapi.