Akibat Pernikahan yang di Paksakan Bagian 2

Cerita sebelumnya akibat pernikahan yang di paksakan.

Tepat seperti dugaannya. Melinda hanya bisa pasrah ketika keluarganya menuntut ia membuang semua ilmu yang dimilikinya ke tempat sampah. Kesarjanaan itu hanya membuat Melinda menjadi perempuan yang tinggi hati. Ia di rengut dari tempat yang di cintainya  dan di paksa menempati ruang sempit yang ia rasakan bagaikan penjara. Disinilah segala kekuatannya yang ia miliki dilucuti sehingga segala bentuk pikiran yang pernah dimilikinya dipaksa hanya bisa meringkuk di sudut.

Melinda tahu bahwa suatu saat nanti pikiran itu akan sekarat dan mati. Dan semua orang disekelilingnya bersorak dengan segala derita yang dialaminya. Seolah-olah Melinda bukan seorang anak manusia. Melinda selalu ingin bertanya-tanya dalam hati mengapa laki-laki selalu mendapatkan pembelaan yang berlebih-lebih?

“Suamimu memintamu untuk berhenti bekerja, Melinda. Dia bilang begitu pada Ibu.”
“Kenapa dia tidak bicara langsung pada saya? Bukankah dia masih punya mulut.”
“Dia takut kamu menjadi marah karena ia tahu kamu adalah perempuan yang keras.”
“Apakah dia memang seorang laki-laki?”

“Kenapa kamu mengatai-ngatai suamimu sendiri?”
“Suami pilihan Ibu tepatnya.”
“Kenapa kamu masih saja suka membangkang seperti dulu. Apa umur belum juga bisa mendewasakanmu?”
“Menurut saya Ibulah yang belum dewasa di umur Ibu yang sekarang. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai dosen. Mengapa saya harus berhenti? Bukankah saya bisa membantunya secara ekonomi?”

“Suamimu merasa kau lebih mencintai pekejaanmu daripada dirinya. Dia cemburu pada pekerjaanmu.”
“Laki-laki kurang kerjaan.”
“Belajarlah menghargai suamimu!”
“Mas yosep yang tidak menghargaiku sebagai perempuan. Kenapa aku tidak boleh mengembarakan pikiranku? Apa yang dia inginkan dari aku?”

“Dia ingin kamu lebih banyak dirumah untuk menemaninya, bukannya sibuk dengan urusanmu di kampus. Lagipula pekerjaan rumah jadi terbengkalai. Urusan dapur saja harus minta tolong sama orang lain. Bukankah seorang istri yang seharusnya mengerjakan semua itu?”

Melinda hanya bisa mendesah panjang. Ia sama sekali tak setuju dengan kalimat terakhir Ibunya. Sebuah keluarga yang harus mengerjakan semuanya. Sebuah keluarga yang terdiri dari Istri dan Suami. Mengapa semua orang tidak pernah berubah? Apakah ketika seorang perempuan dilahirkan kedunia ia terlahir sebagai manusia atau hanya sebuah barang yang kebetulan bernyawa?

“Bagaimana kalau saya menolak?”
“Ibu dan seluruh keluarga tidak akan menjadi keluargamu lagi. Ibu tidak mau anak Ibu menjadi tinggi hati karena pendidikannya.”
“Bukankah Ibu adalah keluarga saya. Mengapa Ibu malah membela mas Yosep?”
“Karena kamu menyimpang dari kewajiban kamu sebagai seorang istri.,”

Melinda meradang. Namun ditekannya kuat-kuat segala amarah jauh didasar hatinya. Bahkan untuk marah saja Melinda tahu ia tidak memiliki tempat. Ibu yang dikenalnya sejak bocah tidak pernah berubah. Seorang Ibu yang terus-menerus mengkritik anak perempuannya. Melinda selalu merasa menjadi anak yang penuh kesalahan dihadapan Ibunya

Sejak kecil Ibu selalu mengata-ngatai. Melinda dengan ksta-kata yang menghancurkan harga dirinya. Perempuan kok bangun siang. Makan kok belepotan seperti babi. Itu badan apa gentong air. Mana ada sih laki-laki yang mau naksir padamu. Sekali-kali pergi ke salon dong biar tidak dikira babu. Dihadapan Ibu. Melinda merasa menjadi manusia yang paling gagal.

Melinda tahu ini bukanlah kesalahan Ibunya semata-mata. Barangkali seluruh cakrawala pikiran Ibu di penuhi oleh kepercayaan bawa sumber kebahagian perempuan adalah apabila ia memuaskan kebutuhan laki-laki. Ibu tidak ingin putrinya gagal memenuhi kewajiban itu. Mungkin itulah satu-satunya yang dimengerti Ibunya mengenai peranan perempuan. Karena Ibunya juga pernah merasakan semua yang Melinda rasakan.

Bukankah Ibu lahir dan dibesarkan dengan luka batin yang sama dilubuk hatinya? Sebagai perempuan ia selalu di pandang sebagai barang, sebagai obyek. Yang menjadi berharga sejauh mana ia bisa memuaskan laki-laki. Hanya saja Ibu tidak pernah menyadarinya. Ia terus saja menuntut Melinda untuk mengamini nilai-nilai yang dipercaya oleh Ibunya. Hanya saja bagi Melinda, ia tidak sudi mengamini nilai-nilai itu. Sebagai manusia ia berhak diperlakukan sama dengan laki-laki.

“Baiklah saya menuruti Ibu sekarang, tapi bukan merasa ibu benar. Saya akan berhenti bekerja tapi jagan harap saya akan menghormati Mas Yosep. Pernikahan ini memang masih ada, tapi bagi saya ini bukan pernikahan saya. Saya sudah mati dalam pernikahan ini. Yang tinggal hanya raga saya.”

Wajah ibu terlihat memerah. Dengusan napasnya terdengar keras. Melinda hanya memandangnya dengan mata tenang. Melinda tahu hanya ketenanganya yang membuat ia menjadi pemenang.

Hari-hari berikutnya Melinda memusatkan perhatiannya pada setumpuk pekerjaan rumah tangganya yang harus dikerjakannya. Melinda bangun subuh dan mulai menyiapkan masakan di dapur dan menyapu halaman rumah yang penuh dengan dedaunan layu, Tepat jam tujuh pagi  ia menyiapkan kopi untuk suaminya.

Yosep terlihat menyeruput kopinya dengan begitu nikmat. Tidak pernah ada senyum atau sapa yang diperlihatkan Melinda untuk suaminya, namun Yosep kelihatannya tenang-tenang saja. Dia sibuk mengoceh mengenai pekerjaan sendiri. Melinda semakin sadar bagi suaminya,  ia bukanlah seorang istri, namun tak lebih dari perhiasan rumahnya saja. Perempuan yang akan mengabulkan seluruh mimpi-mimpinya akan kesempurnaan dan kekuasaan sebagai laki-laki.

Melinda selalu mengingat dirinya dengan posisi yang sama. Ia dengan mata yang kosong memandang keluar dari jendela dapur. Ia merasa terkurung dalam penjara yang disediakan untuk perempuan. Seolah dapur menjadi satu-satu takdir bagi perempuan sekalipun memasak bukan kegemarannya. Bukankah d luar sana ada begitu banyak macam warna-warni dunia yang bisa di coba oleh perempuan.

Namun ia dipaksa berada  ditempat yang tidak diinginkannya. Dan dia pun harus menyediakan waktunya dari subuh hingga malam hari untuk mengosongkan seluruh energi yang dimilikinya. Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan menghampakan dia sehingga tidak akan pernah ada ruang untuk berpikir. Mungkinkah dunia begitu takut pada pikiran perempuan? Betulkah pikiran perempuan akan menjelma menjadi bom waktu yang akan meledakkan dunia.

 

Leave a Reply