Akibat Pernikahan yang di Paksakan

Melinda sudah menduga dimana ia akan berakhir. Di tempat ini dan di posisi seperti ini. inilah alasannya Melinda selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya kecakrawala dunia, ia tahu semuanya akan terasa sia-sia belaka. Ketika ke dua orang tuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya. Melinda sangat meragukan anjuran itu.

Melida merasa tidak penting baginya untuk melanjutkan kuliah. Perkuliahan akan membuka pikirannya dan membuatnya mengembara ke tempat-tempat yang jauh. Buat apa? Toh pada akhirnya dia akan kembali ke tempat dimana dia berasal. Disini, dengan posisi seperti ini.

Melinda menyeka peluh yang membasahi pipinya. Tubuhnya sudah terasa begitu lengket. Kedua kakinya pegal luar biasa. Mukanya tentu saja terlihat berantakan. Melinda tidak ingat lagi berapa banyak pekerjaan yang sudah dikerjaknya sejak subuh tadi. Begitu satu pekerjaan selesai, pekerjaan yang lain menunggu. Begitu seterusnya seolah tak ada habisnya.

Melinda belum sempat mendudukan pantatnya barang sejenak pun sejak tadi pagi. Pekerjaan dapur dan tetek bengek rumah tangga ini seolah memutarnya seperti gasing yang tidak tahu kapan akan berhenti.

Suaminya, Yosep,  tampaknya baru bangun. Melinda mendengar suara gayung menciduk air di kamar mandi. Yosep pastinya sudah siap-siap, untuk berangjay kerja. Sebetar lagi ia akan mengenakan seragam coklatnya dan berangkat ke kantor.

Yosep seorang pegawai negeri. Pekerjaan yang selalu membuat suaminya itu membusungkan dada dan menegakkan bahu. Sebaliknya bagi Melinda pekerjaan itu tidak lebih hanya kulit. Yang penting adalah bagaimana orang itu menjalankan pekerjaannya.

Satu hal yang tidak di mengerti Melinda adalah suaminya tidak pernah betul-betul mengajaknya bicara. Yosep memang sering berkata-kata, namun kata-kata itu hanya membutuhkan pendengar, bukan lawan bicara. Yosep lebih sering terlihat seperti bermonolog, berbicara dan kemudian memberikan komentar sendiri  atas pembicaraannya. Dimanakah posisi Melinda pada saat itu, mungkin dia hanya menjadi cermin yang memantulkan bayangan suaminya.

Yosep juga sering terlihat terlalu sibuk dengan kegemarannya sendiri. Yosep betah seharian dengan permainan play station-nya dan tidak pernah memedukan apapun. Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng selalu menemaninya mengerjakan kegemarannya itu. Apakah laki-laki ini betul-betul membutuhkan seorang istri?

Melinda tidak ingat kapan terakhir dia betul-betul bicara dengan suaminya. Apakah Yosep mewakili kemiripan sifat oleh sebagian besar orang di kampung mereka?Lebih suka menutup mulutnya rapat-rapat dan pelit mengucapkan kata-kata. Bukankah bicara bisa memekarkan pikiranmu?

Ah sudahlah, tidak ada gunanya dia mengeluh tentang laki-laki yang sudah di pilihnya itu. Laki-laki yang dipilihkan oleh Ibu untuknya dan Melinda menerimanya ketika dia meras putus asa untuk menemukan seorang kekasih pada saat batang usianya semakin tinggi. Pernikahan ini mungkin hanya menjadi tempat berlindung baginya karena dia takut disebut perawan tua. Dulu, Melinda tidak pernah mencintai Yosep. Ternyata makin hari dia semakin membenci laki-laki itu. Masih layakkah apa yang sedang dijalaninya ini di sebut sebagai pernikahan?

Melinda menyesal dia tidak pernah memberi ruang pada perasaannya sendiri. Seharusnya dia biarkan perasaan itu memilih laki-laki yang menjadi pendamping dalam hidupnya. Cinta itu hanya untuk teman kuiahnya di malang. Seorang laki-laki jawa. Cinta itu terpaksa dia telan bulat-bulat kedalam kerongkogannya dan membiarkannya tersekap diruang yang sempit di dalam ususnya.

Ayah dan Ibu tidak pernah bisa menerima laki-laki jawa menjadi suami Melinda. Mereka tidak dapat menerima segala kerumitan yang mungkin terjadi bila dia menikahi  orang yang begitu berbeda latar belakangnya. Ratusan pertanyan pun bermunculan di benak mereka dan jawaba dari ratusan pertanyaan itu adalah tidak mungkin, tidak mungkin, dan tidak mungkin sebanyak seratus kali. Melinda seolah dibenturkan dengan dinding yang mahatebal.

Namun, dibalik itu, bagi Melinda, kedua orang tuanya itu selalu memiliki sikap yang mendua. Mereka begitu terobsesi  menambahkan hutup SH di belakang namanya seperti anak kecil yang begitu menginginkan mainan kegemarannya. Ayah dan Ibu terus mendorongnya rajin belajar dan meraih gelar sarjana hukum. Waktu itu, Melinda mengira kedua orang tuanya memang sungguh-sungguh berharap dia akan menjadi perempuan yang intelek. Kini dia tahu, apa yang Ayah dan Ibu lakukan tidak semata-mata demi gengsi bahwa anak-anak mereka adalah orang yang berpendidikan. Mereka sendiri tidak siap menerima anak-anaknya yang berubah karena pendidian yang telah mereka pelajari.

Ayah dan Ibu sangat menginginkan gelar itu di belakang nama Melinda, namun mereka tidak ingin dia lebih pintar dari yang mereka kenal dahulu. Melinda yang masih bocah dan masih mengenakan seragam sekolah dasarnya. Pada saat itu Ayah dan Ibu sering memarahinya karena belum  bisa menulis dan membaca. Mereka selalu mengenang Melinda sebagai anak mereka yang itu. Tidakkah mereka tahu bahwa pengetahuannya sudah jauh melesat keangkasa? Apakah gelar dapat dipisahkan dengan ilmu yang dimilikinya?

Cerita selanjutnya di akibat pernikahan yang di paksakan bagian 2.

Leave a Reply