Aku Anak Mamah dan Ayah Bukan? Bagian 2

Sebelumnya aku anak mamah dan ayah bukan?

“Adik nih, ayah belikan mainan yang kamu pinta semalam” ucap ayahku kepada adikku sambil ngasih mainan.
“Mah, yah kok aku tidak di belikan apa-apa sih? Aku juga kan mau seperti kakak dan adik” ucapku dengan muka yang kesal.
“Halah kamu, ami percuma di beliin apa juga gak mungkin kamu gunakan dengan baik” ucap mamah.
“Iya, lain kali kalau di kasih sama orang hargai dong” ayah menyahutinya.

Aku masuk kamar dan mengunci pintu kamarku, lalu aku pun menangis.

“Ya Allah apa benar aku ini bukan anak mamah dan ayah?” ucapku sambil menangis.

Tepat di hari sabtu sekolahanku sedang ada acara pengambilan rapot dan bapak ibu guruku juga mengadakan curhatan hati anak-anak. Namun aku di panggil ke panggung, mamah dan ayahku nonton di bangku para wali murid.

“Mah, yah banyak yang bilang rumahku istanaku bukankah berada di dalam istana suatu kebahagiaan yang luar biasa? Tapi mah, yah mengapa aku tidak pernah temukan kebahagiaan di dalam istanaku? Mah, yah andai kalian tahu di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan kasih sayang dari mamah dan ayah, mungkin hanya disini aku bisa mengucapkan curahan hati aku untuk mamah dan ayah” ucapanku sambil menangis.

Lalu aku pun pergi dari lingkungan sekolah, hatiku sangat senang karena sudah mengeluarkan curahan hatiku di depan mamah dan ayahku.

Kriing, kringg (bunyi handponeku), telepon dari mamah, aku angkat atau tidak ya. Aku bingung ya sudah lah aku angkat saja.

“Ami kamu sekarang dimana cepat kamu pulang mamahmu dan ayahmu sudah mencarimu kemana saja tapi tidak menemukan kamu” ucap bibiku dengan suara yang cemas.
“Iya bi aku pulang” mematiakan telepon langsung lari kencang.

Sesampainya di rumah aku tidak masuk kedalam rumah, aku menunggu saja di depan pintu rumahku lalu bibiku menyuruhku masuk.

“Ami ayo masuk” ucap bibiku.

Aku pun masuk ke rumah saat di ruang tamu mamah dan ayah langsung menghampiriku dan memeluk aku sambil menangis.

“Ami nak maafiin mamah sama ayah ya nak, karena sudah mengucilkan kamu, dan juga selalu membiarkan kamu tanpa kasih sayang kita berdua. Sekali lagi mamah, sama ayah minta maaf ya nak” ucap mamah sambil memelukku dan menangis.

Aku pun terharu melihat mamah dan ayah memeluku dan menangis tidak biasanya mereka seperti ini. Keesokan harinya ayah dan mamah sudah tidak cuekin aku lagi seperti biasanya, aku sangat senang karena ayah dan mamahku sudah sayang sepenuhnya sama aku. Hampir setiap hari mamah, ayah, kakak dan adik bermain denganku tanpa kata-kata yang menyakiti hatiku.