Belum Terlambat

“Hidup seakan tidak adil. Saat orang lain tertawa, mengapa harus aku yang menderita? Apakah belum cukup penderitaan ini menimpaku?” aku masih menangis meratapi kuburan ayahku. Di sana di atas batu nisan tertulis nama orang yang sangat aku kasihi.

Aku masih menangis, ketika banyak tangan yang merengkuh bahuku. Mengungkapkan bela sungkawa atau sekedar memberiku semangat agar tabah dan bersabar. Aku tersenyum sinis di balik pipiku yang telah basah oleh air mata. “Semudah itukah kalian menyuruhku untuk bersabar? Karena kalian tak pernah tahu bagaimana rasanya di tinggal oleh seseorang yang sangat kalian sayangi!” batinku.

Hatiku masih menjerit. Namun, sekuat tenaga aku berusaha untuk tersenyum. Menganggap semuanya tak pernah terjadi, menganggap semuanya hanya mimpi buruk. Aku berjalan keluar pemakaman. Memandang batu nisan milik ayahku sekilas, lalu terus berjalan melewati orang-orang yang memandangku iba.

Aku berjalan gontai ke rumahku. Memasuki kamarku, lalu menenggelamkan wajahku di balik bantal. Menumpahkan segala isi hatiku, menjerit sekeras-kerasnya, mengeluarkan semua emosiku tanpa ada yang mengetahuinya. Tiba-tiba, memori itu seakan datang lagi. Seperti dejavu yang terus menghantuiku. Bayangan itu terus berputar di kepalaku, menciptakan potongan-potongan puzzle yang mulai tersusun rapi.

Aku adalah seorang gadis yang cukup pendiam, tak pernah menceritakan apapun tentang diriku kepada orang lain, memiliki kepribadian yang gelap, egois, pendengar setia dan pecundang sejati. Kegagalan selalu saja merengkuhku. Kalah dalam lomba cipta puisi, gagal meraih juara dalam lomba menulis cerpen, jatuh dari panggung saat lomba menyanyi, bahkan aku harus membuat orang tuaku malu karena nilai ujianku yang benar-benar buruk. “Biarkan! Setidaknya aku sportif dalam mengikuti lomba itu dan jujur dalam mengerjakan soal-soal ujian, walaupun hasilnya belum memuaskan” batinku membela diri.

“Tapi apakah itu cukup? Bahkan sampai ayahmu meninggal, kamu belum bisa membuatnya bahagia!” kata sisi hatiku yang lain. Kata-kata itu terus menggema dikepalaku, menyindirku dengan ironi yang benar-benar menyakitkan, menggoreskan luka yang teramat dalam tepat dijantungku. “Apa yang sudah aku lakukan untuk kedua orang tuaku?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku terus mengulang pertanyaan itu di dalam otakku, menyimpannya dalam hati, dan merekamnya dalam ingatan. Ya. Apa yang sudah aku lakukan untuk kedua orang tuaku? Selama ini, aku hanya bisa meminta uang dan uang. Menyusahkan mereka untuk memenuhi segala kebutuhanku. Bahkan aku tak pernah membantu mereka. Jangankan membantu, berpikir apakah mereka sudah makan atau belum saja aku tak pernah memikirkannya. Aku bahkan tak pernah memperhatikan kesehatan mereka, hingga ayahku harus meninggal karena penyakit yang di deritanya. “Betapa buruknya aku. Aku bahkan tak pernah membuat mereka bahagia. Aku selalu saja menyusahkan mereka dan membuat mereka kecewa”

Air mataku mulai jatuh di pipi, membuat pipiku yang telah basah oleh air mata semakin sembab. Aku mulai mencari ibuku yang sedang termenung dalam kesedihannya. Memeluknya dan menciumnya. “Maafkan Aira bu…, selama ini Aira selalu saja membuat ayah dan ibu kecewa. Aira janji, Aira akan berubah. Aira akan tumbuh menjadi gadis dewasa yang akan terus membuat ibu bahagia. Jangan pernah tinggalin Aira ya bu, seperti Ayah yang meninggalkan Aira. Berikan Aira kesempatan untuk membuat ibu bangga dan bahagia memiliki anak seperti Aira” aku menangis di pangkuan ibuku. Ku pandangi wajahnya yang telah keriput di makan usia, lalu sebuah senyum mengembang di bibir mungilnya, “Ibu sayang Aira.”

Tak ada kebahagiaan yang paling indah selain membuat orang tua bahagia, selagi mereka masih ada jangan pernah mengecewakan mereka. Berhentilah menyia-nyiakan waktu. Bahagiakanlah mereka, sebelum ajal menjemput mereka.