Desi Anak yang Pengertian

Saat pengumuman juara kelas, seisi kelas lima itu tegang. Berkali-kali mereka melirik Desi. Soalnya, semester kemarin Desi yang menjadi juara pertama.

“Pasti kau lagi yang jadi juara, Desi” kata Erna yang duduk di sebelahnya. “Ya, siapa lagi yang bisa mengalahkan Desi” kata Uni yang duduk di depan mereka sambil menoleh. Desi hanya tersenyum.

“Kalaupun aku menjadi juara, itu karena aku lebih rajin saja mungkin”.
“Oh, ya kau akan meminta hadiah apa dari orang tuamu?” Kata Erna kemudian.
“Hadiah?” Desi tertegun.
“Ya. Ayahku sudah menjanjikan, kalau aku menjadi juara, akan di belikannya sepeda”.
“Kalau aku, biarpun juara ketiga, akan di ajak wisata ke borobudur” kata Uni. “Duh, inginnya aku ke sana! Mudah-mudahan aku menjadi juara. Oh ya, kalau kau sendiri?”

Desi terdiam. Hadiah? Hadiah apa? Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Ibunya akan memberikan hadiah. Apalagi Ayahnya yang hanya penjual rokok di ujung jalan. Hadiah apa yang akan di mintanya? Sejak kelas tiga ia selalu juara pertama. Dan ia memang tak pernah mendapatkan hadiah apa-apa haruskah aku minta hadiah? Ya, bukankah aku sudah menjadi juara kelas dan aku harus minta hadiah. Seperti Erna dan Uni.

“Apa hadiah yang akan kau minta, Desi?” tanya Erna pula.
“Aku tidak tahu”.
“Kau tidak tahu?”.
“Ya”.
“Kenapa?”.

“Kenapa…. memang, orang tuaku tidak pernah menjanjikan akan memberikan hadiah bila aku menjadi juara kelas,” kata Desi pelan. Ada Nada sedih dalam ucapannya.
“Ya… sayang sekali. Padahal sudah sepantasnya kau meminta hadiah. Eh lihat tuh, Bu Rina akan mengumumkan para juara di kelas kita”. Guru yang cantik itu memang lagi mengumumkan para juara kelas.

“Nah, anak-anak semua. Kini tibalah saat yang paling menegangkan bukan? Seperti kalian ketahui, kalau di kelas ini semuanya naik kelas. Ibu akan mulai dari juara ketiga. Juara ketiga, jatuh pada Uni! Juara kedua, jatuh pada Erna. Dan seperti semester yang lalu, juara pertama masih di pegang oleh Desi!” Uni berbisik, “jadi juga aku pergi ke borobudur.”

“Dan aku,“ sambung Erna, “akan mendapatkan sepeda baru”. Sementara hanya Desi menundukkan kepalanya. Para juara itu pun di panggil ke muka kelas. Di beri ucapan selamat langsung oleh Ibu Rina. Di susul oleh para murid lainnya. Matahari meranggas panas. Desi pun melangkah pelan. Hadiah. Oh, alangkah bahagianya bila ia mendapatkan hadiah kenaikan kelas. Sudah seharusnya Ayah dan Ibu memberikannya hadiah.

Hadiah…. hadiah…. ah, betapa inginnya ia mendapatkan hadiah. Tetapi apa yang ia bisa dapatkan ia pun memikirkan keadaan di rumah. Ayahnya hanya penjual rokok yang tak seberapa untungnya. Ibunya suka mengambil cucian dengan upah yang tak seberapa pula. Sementara adiknya masih dua orang.

“Oh, apakah aku akan membebani hidup orang tuaku dengan rengekan hadiah?” desahnya pelan. Tiba-tiba dadanya terasa lega. Yah, untuk apa ia merisaukan tentang hadiah yang bisa jadi beban orang tuanya. Bukankah orang tuanya telah memberikan hadiah dengan jalan menyekolahkannya? Ya, ya…. sekarang justru dia lah yang pulang dengan membawa hadiah. Berupa rapot yang bagus dan juara pertama untuk Ibu dan Ayah! Langkahnya pun kini tenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *