Hidayah Dan Rizkinya

 

Hihihi……ceritanya Puput ngagetin. Sejak jam waktu istirahat, Puput jadi kepikiran terus tentang rizki. Gara-gara sewaktu di kantin, Puput nggak sengaja dengar curhat seorang kakak kelas tiga ke temannya tentang keinginan berjilbab.

Waduh, langsung deh Puput pasang kuping lengkap.

Soalnya jadi ingat pertama Puput pakai jilbab. Hati ini rasanya nggak sabar pengin cepat sampai di rumah. Dari sekolah Puput udah nahanin air mata yang kayaknya pada balapan pengin cepat keluar. Begitu sampai di rumah Puput cari Mama. Eh ternyata Mama lagi ke luar, ke supermarket. Untung ada Bang Hamka di teras belakang. Begitu lihat, langsung saja Puput tubruk terus nangis kencang banget. Sampai-sampai Bang Hamka menjadi khawatir.

“Kenapa Put?”

Puput ngak bisa jawab. Malah nangisnya makin kencang saja. Dada rasanya penuh luapan cinta terhadap Yang Maha Kuasa, dan rasanya ingin Puput buktikan.

“Eh, kenapa si Puput?”

Suara tangisan Puput yang ngak reda akhirnya bikin ke tiga abang Puput yang lain pergi ke teras belakang. Semua menatap Puput dengan sorot mata khawatir yang sama.

“Ada yang jahatin kamu, Put?” tanya Bang Iid dengan tinju yang terkepal.

Puput mengeleng.

“Atau ada yang jahilin? Kalau cewek mungkin karena dia sirik sama kamu, nah kalau yang cowok mugkin karena dia senang sama kamu Put. Kadang aku begitu sih…”

Kontan aja abang-abang Puput yang lainnya menjitak Bang Harap.

“Atau Puput sakit?”

Kali ini suara lembut dari Bang Vince, yang calon dokter itu, sambil tangannya meraba dahi Puput dan meletakkan telunjuknya di nadi.

“Agak cepat denyut jantungmu,” imbuhnya serius.

Puput masih sesegukan. Sesekali dia mengelap air matanya yang bercucuran.

“Puput cuma sedih,”

“Sedih?”

Keempat abang Puput waktu itu kontan aja mengerubungi Puput. Dy.

“Tapi sedih kenapa? Dimarahin guru?”

“Di jitak teman, kayak aku tadi di jitak si Harap?”

“Atau …ada teman yang meninggal? Yuk Bang Iid anterin kalau memang iya. Mumpung carry tua kita juga pengin jalan-jalan. Hihihi.”

Puput hanya diam aja. Dy. Lalu setelah beberapa saat baru menatapi wajah abang-abang Puput yang macam-macam tipe itu (halah, kayak rumah aja, pake tipe!), lalu…

“Puput pengin pakai jilbab! Huhuhu…”

Tangis Puput tumpah lagi, tetapi kali ini ternyata Puput ngak sendiri. Setidaknya Hamka dan Harap kontan menitikkan air matanya, seraya mengusap-usap kepala Puput. Sementara Vincent terdiam, begitu pun dengan Iid. Mungkin terkejut tetapi tidak lama kemudian mereka memeluk Puput sambil ngomong.

“Terus kenapa?”

“Boleh?” tanya Puput pelan.

“Ya, boleh. Siapa berhak melarang perintah Allah SWT?” Bang Hamka mengecup kening Puput. Abang Puput yang ke dua ini memang alim-alim gitu dari dulu. Dy. Mungkin karena dia kuliah di IPB yang sering di plesetin Institut Pesantren Bogor itu kali ya? Hehehe.

Terus Bang Iid masih tampak tepekur. Bang Harap dengan riang menyahut.

“Yang penting ngak minta aku pakai jilbab juga ya! Hehehe….nanti gantengku hilang!” nggak lupa sambil mengelus kepalanya yang licin itu

Tapi bagaimana kalau Mama tidak setuju?

Puput khawatir banget. Dy. Untungnya Bang Vince, seperti bisa membaca kekhawatiran Puput, cepat menenangkan.

“Nanti kita ngomongin sama-sama ke Mama.”

Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kemudahannya kepada Puput untuk berjilbab, Dy. Sedangkan kakak kelas Puput yang lagi curhat itu masih ragu ternyata. Bukan karena orang tua melarang, tapi karena.

“Aku takut ngak dapat kerja setelah lulus. Gimana ya?”

Ingin sekali Puput membacakan sebuah ayat Allah yang indah, Dy. Agar dia tidak khawatir mengenakan pakaian takwa itu, sebab bukankah Allah telah berjanji?

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka”(QS.At Thalaaq:2-3)

Ingin Puput bisa memberi ketenangan. Lagi pula bukankah Allah SWT pemilik langit dan bumi, lagi Maha Kaya? Kenapa kita tidak meminta kepadaNya?

Kenyataannya Puput hanya diam dan memandangi hingga si kakak kelas dan temannya itu pergi meninggalkan kantin. Baru sudah nggak kelihatan lagi. Puput sadar harusnya  membantunya, ya, Dy? Paling tidak dengan memberitahu sebait Doa ini?

“Ya, Allah! Cukupilah aku dengan rezekimu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu”.