Ibu

Segenggam doa yang belum usai sejak tadi malam. Ia masih mengenakan mukena, lengkap dengan tasbih yang beruntai ditangannya. Ia ketiduran. Cintya bahkan melewatkan shalat subuh yang seharusnya telah ia lakukan fajar tadi. Beberapa kali ia mengucap istighfar sembari membenahi tempat tidurnya yang berantakan. Ia sangat menyesal telah melewatkan pertemuannya dengan Tuhan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang telah tertidur pulas. Dengan langkah terburu-buru, ia segera mandi dan membawa beberapa buku yang ia selipkan ditas birunya yang telah kusam. Ia segera berangkat ke suatu tempat yang ia rindukan.

Dalam perjalanan yang penuh kesendirian, ia masih memuji keagungan Sang Pencipta. Menikmati cahaya aruna yang menerpa kepalanya. Ia bersyukur karena masih diberi kehidupan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ia bersyukur karena masih bisa merasakan hangatnya cakrawala. Ia bersyukur karena bisa melihat segala keindahan yang telah Tuhan ciptakan. Ia tidak bisa membayangkan jika satu persatu indera yang dimilikinya tidak berfungsi untuk melihat kebesaran Allah, Tuhan Semesta Alam.

Hamparan sawah yang menjingga semakin menyejukkan hati. Membawa semilir lembut ketenangan yang menyentuh kalbu. Meluapkan segenap kesedihan yang mendera pikirannya. Ia larut dalam kenangan, membuat pikirannya yang telah penuh semakin sesak dengan potongan-potongan memori yang tersusun rapi.

“Ibu, bolehkah Cintya bertanya sesuatu?” Cintya meletakkan kepalanya dibahu sang Ibu, sengaja menyandarkan tubuhnya yang telah letih dipenuhi dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.

Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk, memandang gadis mungil di depannya dengan perasaan penasaran.

“Mengapa Ayah memberikanku nama Acintya? Bukankah selama ini hidup kita tidak pernah dipenuhi dengan cinta?” Cintya semakin menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. Membuat ibunya menghela napas panjang, dielusnya rambut panjang milik putrinya yang nyaris sepunggung.

“Apa kamu merindukan Ayahmu, Cintya?” tanya ibu dengan suara parau, seakan menahan sakit yang menusuk hatinya.

“Tidak! Sampai kapan pun Cintya tidak akan merindukan ayah” Ya, sampai kapan pun Cintya tidak akan merindukan orang yang telah meninggalkannya, menyi-nyiakannya dalam kesendirian. Bahkan sekarang, ia dan ibunya harus menanggung utang-utang yang telah ayahnya bebankan kepadanya dan sang ibu. Cintya sangat membenci ayahnya.

“Ayahmu memang bukan orang yang sempurna, sama seperti kita. Dia tak luput dari salah dan dosa. Jangan pernah menyalahkan kematian, karena kematian merupakan bagian dari takdir yang harus kita jalani. Ayahmu memang telah meninggalkan kita dalam kehidupan yang susah, tapi kita masih memiliki Tuhan sebagai tempat bersandar, tempat menumpahkan segala keluh-kesah dan bersyukur. Kita harus bersyukur dengan hidup yang kita jalani meskipun didalamnya penuh dengan kepedihan. Apa Cintya tahu mengapa ayah memberikanmu nama Acintya?” tanya ibu pada Cintya, ditatapnya sepasang mata cokelat itu lekat-lekat. Cintya hanya menggelengkan kepala, seolah-olah memberikan isyarat bahwa ia tidak tahu alasannya.

“Acintya berarti yang melampaui batas. Ayahmu selalu berharap, kamu bisa menjadi orang-orang yang mampu melampaui batas, menjadi orang-orang yang berhasil melampaui kegagalan dalam hidupnya dan berusaha bangkit” Ibunya tersenyum dan memeluk Cintya.

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Cintya, ditatapnya jalanan kosong yang kini penuh dengan kendaraan. Lampu hijau telah menyala. Cintya kembali melanjutkan perjalanannya ke sebuah kampung tua, tanah kelahirannya.

Cintya menatap gubuk tua yang tengah reyot dengan tatapan berbinar. Sepasang kelopak matanya melebar, ketika seseorang keluar dari dalam rumah. “IBU” teriaknya dari kejauhan. Diciumnya kaki sang Ibu, sayup-sayup suara lirih itu keluar dari mulutnya yang bergetar.

“Cintya telah sukses bu, Cintya ingin ibu tinggal bersama Cintya di kota”

Ada yang bilang, ‘Jalan terjal masih panjang, kamu hanya butuh seseorang untuk menemanimu sampai ke pelabuhan masa depan’ dan orang itu adalah Ibunya. Seseorang yang telah melahirkannya, menjaga dan merawatnya, yang telah mengorbankan sebagian waktunya untuk mendukungnya. Dan Cintya ingin, menyempurnakan keberhasilannya bersama sang Ibu.

Mungkin Tuhan tidak membiarkan Ayahnya untuk hidup lama bersama Cintya, menemani hari-harinya, mendukungnya ketika rapuh. Namun, Tuhan telah memberikan karunia yang sangat berharga di dunia yang fana ini, sesosok malaikat tak bersayap yang bernama Ibu.