Jealous Saat Remaja Bagian 4

Lama semakin lama, waktu kian berlalu, perhatiannya terasa berlebih, belakangan dan sepandai apapun aku memungkiri tetap tak bisa tutupi perasaan di hati. ya aku rasa mulai menyukainya. Oh tidaaaak, tapi iya, eh tidak, iyaaa aku betul menyukainya, ya tuhan mengapa aku termakan kata-kataku sendiri benar kata Siska “sekarang saja kau benci nanti beralih kisah kasih”.

Aah tidak tidak, kuakui aku memang membencinya kala dulu tapi tidak akan beralih cinta. Cukup sampai titik suka ini. Aku menepis segala yang kurasa tapi hati dan lisan berlainan, makin hari semakin aku terlena perhatiannya, keseruannya.

Malah ia semakin menunjukan rasanya, di kelas, di lapangan dimanapun ada diriku pasti ada pula dirinya, kami sudah bagai benda dan bayangannya, tak terpisah kecuali di ruangan tak bercahaya. Lirikan mata, curi pandang disertai senyuman yang buat aku semakin salah tingkah. Tapi kurasa ia pun sama salah tingkahnya apalagi ketika kami beradu pandangan sepasang bola mata yang sejenak bertangkap kemudian saling membuang pandang, gemetar tangan, nada suara yang lewati kewajaran, kata teman yang berpengalaman mereka bilang itu cinta.

Tapi aku masih tak percaya, dan tetap menampiknya, jujur aku itu bohong aku tutupi semua. hingga suatu masa yang tak pernah kuduga dia nyatakan perasaan itu dengan sedikit ragu, aku terpaku membisu tak dapat berucap kali itu, entah harus jawab apa, akhirnya ia pun mengirim pesan.

“Ri kenapa sih kamu tadi pergi gitu aja”
“Bii sorry, bukan gak sopan tapi aku bingung harus jawab apa”, balas ku.
“Ri bingung kenapa? Padahal kamu tau aku udah ngumpulin keberanian ku buat nyatain perasaanku”, jelas habibi

“Ya, masih gak percaya plus gak nyangka aja, bi”, balas ku.
“Riri Azhari gue sungguh-sungguh tau, gue suka loe, loe menarik perhatian gue, loe beda Ri”.

Aku pun rasanya masih tak percaya, tapi membaca pesan nya terlihat beneran sih, jujur saat itu pun aku ingin mengatakan bahwa ku juga punya rasa yang sama, tapi ah tidak!! tidak!! jangan dulu percaya uji kesungguhannya. aku pun segera membalasnya

“hah? suka? Gak salah kamu bi, udah berapa banyak cewek sih yang kamu bilangin kaya gitu!”
“Riri loe pikir gue cowok apaan, mungkin dulu gue emang gak pernah seserius ini, tapi sungguh kali ini gue serius suka sama loe, mau gak jadi pacar ku Ri?” tanya habibi
“Buktinya apa coba, aku tak akan semudah itu percaya.” kucoba tahan untuk jangan dulu berkata ia meski ingin.