Jealous Saat Remaja Bagian 6

Mukaku memerah antara senang dan malu, menimpaku. Melihat Habibi berlutut di hadapanku sembari menyatakan perasaannya, tak tega juga bila menuai kecewa, akhirnya aku menganggukan kepalaku dengan perlahan dan berkata “dengan satu syarat”, jawabku.

“Apa ry loe mau syarat apa? Gue pasti lakuin apapun mau loe”, dengan nada penasaran ia menggerenyitkan dahi,
“aku mau kamu setia, jangan ulangin kesalahan kamu, selingkuh atau apakah itu.”
“Baik ry, gue janji dan teman-teman sebagai saksinya, gue akan merubah itu, gue gak akan pernah ngulangin itu, jadi loe terima gak Ri?”. dengan nada yang tegas dan meyakinkan.

“Iya, aku terima”, sambil mengangguk dan menerima bunga darinya.
Tiba-tiba Habibi memelukku dengan diiringi meriah tepuk tangn teman-teman. Sementara aku masih tersipu malu, kaku membisu seolah tak percaya dengan ini semua. dengan berbisik “bi kamu ngapain ini berlebihan”.

“Maaf, maaf ry.. Gue saking senengnya, karena akhirnya cinta gue loe terima, sekali lagi maaf Ri”, sembari melepaskan pelukannya dengan wajah yang berseri-seri. Hubungan kami pun terus berlanjut bahagia meski kadang diselingi pertengkaran karena cemburu itu biasa, suka duka bersama, dan benar semenjak bersamaku dia penjaga setia, dia tepati janjinya, dan dia mengatakan.

“Kamu merubah duniaku, sikapku dan kamu memperindah ketampanan hati ku. Ternyata benar kata kamu hasil tak kan menghianati prosesnya, segala perjuangan dalam proses penantian cintamu buat aku mengerti dan menghargai setiap perasaan dan kesetiaan dalam hubungan”. Itu yang selalu teringat di benakku.