Kasih Seorang Ibu Bagian 2

Sebelumnya kasih seorang ibu.

Aku semakin besar, dan mulai masuk SD, aku mulai nakal. Teringatku saat jatuh dari pohon rambutan setinggi 2 meter.  Rumah kita yang banyak pohon buah menjadi tempatku bermain. Engkau langsung berlari menghampiriku yang sudah menangis kesakitan, kaki dan tanganku terluka serta keseleo.

Engkau marah kenapa aku memanjat pohon, kenapa aku nakal, tetapi yang kutahu engkau sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada diriku.

Hal itu tetap tidak membuatku kapok, aku masih nakal, di sekolah aku kerap berkelahi dengan anak laki-laki yang usil, pulang dengan baju kotor. Bahkan aku sempat minggat keluar dari sekolah melalui pagar, sayang rok sekolahku terkait di pagar kawat, aku memaksakan untuk tetap keluar melalui pagar itu. Dan akhirnya pagar kawat itu merobek pahaku.

Ibu terkejut melihat aku pulang dengan darah mengalir di  kakiku, lagi-lagi, aku membuatmu khawatir dan sedih. Aku berjanji untuk menjadi anak baik dan tidak membuat ibu khawatir lagi.

Meski nakal aku tetap menunjukkan bakti dengan prestasi sekolah dengan meraih Rangking 1 dari SD sampai kini SMP. Namun Ibu terkadang masih menemukan diriku pulang dengan baju kotor karena aku berkelahi dengan teman lelakiku.

Perjuangan Ibu masih panjang, aku mulai dewasa, setelah berhasil menyekolahkanku di SPK Perdhaki Palembang, Ibu menerima pembangkanganku dengan tidak menjadi perawat dan memilih atlet Taekwondo sebagai jalan hidup. Tapi Ibu tetap sabar dan berbesar hati merelakanku tidak menjadi perawat.

Selanjutnya kasih seorang ibu bagian 3.