Ketika Puput Pengen Marah

Tadi pagi, waktu Puput di sekolah. Put kesal banget sama Ayu dan Mimi, kok bisa-bisa sih mereka meledek Put di depan teman-teman sekelas pas lagi mau ngebahas acara pensi. Serius. Puput biasanya nggak marah kok, mereka meledek Put dengan sebutan apa saja. Malah seandainya dengan meledek Put hati mereka bisa happy. Put juga gak masalahin. Kan hitung-hitung menyenangkan hati orang lain, dan itu kan ibadah.

Mereka mau mengejek tampang Put mirip bintang film Dian Satro kek, mau bilang wajah Put tak beda jauh sama Keira Knigt kek, mau nyebut Put lebih pantes jadi bintang sabun wangi ketimbang sabun batangan kek, sumpah deh Put gak bakalan tersinggung. (hihihi…terang saja).

Tapi kali ini Put harus nunjukin bahwa Ayu dan Mimi sudah kelewat batas. Put mesti ngingetin mereka supsaya gak boleh sembarangan buka mulut. Apalagi kalau yang menyangkut hal yang sensitip.

Masa meledek Put sebagai cewek zaman pra sejarah. Cuma gara-gara Put pake jilbab, dan ogah banget-banget bergabung dengan mereka kalau lagi pesta gosip. Kalau ngejeknya gak di depan orang banyak sih masih mending, lha ini…

Asli, kali ini Put benar-benar marah. Put cari dua cewek bigos yang emang suka bikin huru-hara itu. Tetapi ternyata keduanya menghilang bak di telan gempa. Di kelas gak ada. Di lapangan basket juga mereka ngak nonggol. Put sumpah dalam hati bila bertemu Put akan melabrak habis-habisan.

Akhirnya Put mutusin nunggu di kantin, nunggu biang kutu itu nonggolin mukanya. Kalau perlu sampai bubaran sekolah. Put bertekad mati satu tumbuh seribu (Halah Apaan sih?) maksud Put sekali mendanyung dua tiga pulau terlalui (jeee…itu sih pelajaran perbahasa Indonesia lage)…Dah, ah!

Tau ngak? Elisa yang waktu itu ikut nemenin coba ngingetin, supaya tidak usah meladeni Ayu dan Mimi. Dan…(hiks ini yang bikin Puput malu karena Elisa yang cantik ternyata jauh lebih sabar dari pada Put), Elisa menganjurin supaya Put membasuh wajah Put dengan air wudhu.

Tadi nya sih, Puput merasa nggak ngeh maunya si mantan model itu? Tapi waktu dia bilang dengan membasuh wajah atau muka yang Insya Allah kemarahan kita akan mereda, baru deh Put nyadar maksudnya (mungkin karena lagi marah yah, Puput jadi gampang hang, hehe…)

“Nah, sambil berwudhu coba deh baca doa ini,” kata Elisa lagi.

Puput langsung cabut ke mushala. Mang Dirman marbot masjid yang merasa keheranan melihat kedatangan Put cuma berujar pendek. “Tumben jam segini  udah nongol, mau nyerepin Mamang adzan, yah?”

Yeee… siapa pula yang mau adzan.

Puput terus nyelonong ke tempat wudhu dan langsung membasuh muka sembari membacakan doa yang di anjurin Elisa.

Dan…Ya Allah, rasanya wajah dan hati Put  langsung segar. Put duduk sebentar di dalam mushala. Gak lama kemudian Put balik lagi ambil wudhu sambil mengulang doa yang tadi. Hal semacam itu Put lakukan sampai tiga kali, supaya Put merasa yakin kalau kemarahan yang ada di dalam hati Put sudah betul-betul hilang.

Hati Put sudah adem seadem es cendol yang di masukin ke lemari es, diam-diam ia bertanya juga, kenapa bisa begitu yah?

Eng…kira-kira gini kali ya, kita lagi marah, hati kita berarti sedang di pengaruhi oleh setan. Sedangkan si setan itu sangat identik dengan api. Nah, kalau si api disiram pake air, kan si apinya akan jadi padam. Apa lagi kalau di tambah doa. Iya kan?

Setelah hati tenang Put balik lagi ke kantin menemui Elisa yang masih menunggunya. Rasanya sudah tidak ada lagi kemarahan di hati Put. Si setan yang tadinya ngumpet di dalam hati, sekarang sudah nyingkir jauh-jauh. Alhamdulillah.

Setibanya di kantin Put pasang senyum lebar pada Elisa. Supaya dia tahu kalau kini ngak ada sedikit pun kemarahan di hati Put. Yang ada kini cuma si Puput dengan senyum manisnya (pohon rumput pohon buncis, eee..si Puput memang narsis,hehehe…maksa!)

Tapi saudara-saudara, eh…Dy. Puput sungguh heran melihat tampang si Elisa. Kenapa si cantik itu mendadak jutek. Kayak sopir angkut yang belum dapat setoran, ya? Hmmn… ini pasti gara-gara- Ayu dan Mimi yang tadi sempat nongol dan meledek Elisa, waktu Put ke mushala.

“Elisa kini hati Put tenang. Setelah Put mengambil Wudhu. Tapi kalau si Ayu dan si Mimi sudah meledek Elisa juga. Berarti ke dua anak itu  emang betul-betul mesti di kasih duren montong!”

“Siapa yang bilang Mimi dan Ayu mengejek Elisa?”

“Tapi kenapa tampang Elisa tampak jutek begitu?”

“Inin gara-gara kelamaan nunggu Puput, padahal bel masuk sudah dari tadi berbunyi.”

“Hah… jadi kita telat dong? E…e…maaf ya Elisa kali ini kayaknya…”

“Kayaknya apa?”

“Kayaknya … Elisa mesti ke mushala dulu, buat ambil wudhu..”

Grrhhh.

Nah. Dy, begitu deh sedikit kisah soal kemarahan Put waktu di sekolah.

Dah dulu, ya!