Ketika Senja Mulai Menghampiri Bagian 2

Cerita sebelumnya ketika senja mulai menghampiri.

Kata orang, mendidik anak seharusnya ikhlas, tidak mengharapkan balas budi. Namun benarkah demikian? Sungguhkah aku tidak boleh  mengharapkan anak-anakku mencintaiku sehingga mereka akan membahagiankanku seperti aku membahagiakan sepenuh hatiku. Kenyataan yang menghampar di depan mata memutuskan untuk berhenti  berharap.

Tak seorang pun dari ketiga anakku yang mengirimi kami uang. Tidak juga para menantuku yang dulu begitu manis saat mereka datang melamar anak-anakku. Bukan hanya itu, mereka semakin lama semakin jarang mengunjungiku. Tahun-tahun awal pernikahan, hampir tiap hari Ratna mengunjungi. Lama-lama menjadi seminggu sekali, terus semakin jarang menjadi sebulan sekali. Padahal dia satu kampung denganku dan kami masih sering bertemu secara tidak sengaja di beberapa tempat.

Begitu pula sama Fitri, ia awalnya pulang tiga bulan sekali, menjadi enam bulan sekali, kemudian setahun sekali tiap mudik lebaran. Sekarang dia pulang dua tahun sekali dengan alasan mengirit pengeluaran. Dan yang sulung lebih-lebih lagi, sejak menikah dia belum sekali pun pulang. Awalnya dia sering menelpon memberi kabar tentang cucuku di sana, namun sekarang tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Bertahun-tahun tidak pernah sekali pun ia menelepon kami.

Lupakan mereka. Kabarnya mereka sendiri sulit memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga yang semakin berat dewasa ini. Tentu saja berat bagi mereka yang tidak segan-segan mengeluarkan uang berlebih-lebih demi kepuasan diri dan anak-anak tercinta. Namun tidak untuk orang tua mereka yang telah renta. Pengeluaran untuk ketuaan dan kesia-siaan haruslah dipikirkan matang, kalau bisa di buat seefisien mungkin, seolah-olah hidup mereka ini efisien.

Hhh. Buat apa aku mengutuki mereka yang lahir dari rahimku sendiri. Biar kuterima kesendirian kami ini sebagai takdir yang tidak memerlukan alasan ataupun sebab musabab.

Aku mau menjual si jago Bu, biarlah dia di potong orang. Aku sangat ingin ke Pangadaran. Kata suamiku suatu hari. Aku memandangnya lama. Mancari kesungguhan di matanya. Aku tidak menyangka dia akan bicara begitu mengingat ia begitu sayang pada si jago tua. Si jago adalah ayam kebanggan suamiku. Dia sudah malang-melintang dari satu tajen ke tajen yang lainnya.

Ia memenangkan pertandingan demi pertandingan dengan luka-luka di tubuhnya. Ia harus menang, karena kalah berarti mati. Jago tua itu begitu setia padamu. Kau tega menjualnya? Ridwan hanya terdiam dan memandang nanar pada kepak-kepak sayap si jago yang terlihat di kejauhan.

Rupanya keinginan suamiku untuk pergi untuk jalan-jalan sudah tak tertahankan lagi. Setelah rencananya urung ia lakukan saat itu, suatu hari aku memergoki Ridwan dengan wajah murung dia membuka kurungan si jago, mengambil ayam tua itu pelan-pelan, memasukannya kedalam anyaman daun kelapa, kemudian bergegas hendak membawanya pergi. Namun entah apa yang membuatnya mengurungkan niatnya.

Barangkali suamiku itu tidak tega ketika matanya menumbuk mata si jago yang terlihat lelah dengan kantung matanya yang tebal, dan mata yang me-ungu-sayu. Suamiku mungkin melihat cermin dirinya saat melihat si jago. Jagoan yang ada dipengujung usia, tanpa digorok pun ayam itu sebentar lagi akan mati. Saat itu matanya terlihat jengis, mungkin ia jerih juga membayangkan maut yang setiap saat bisa datang menjemput. Maut yang kadang tak merasa perlu memberi alasan atas kedatangannya. Ketuaan, kerentaan kami sudah cukup menjadi alasan yang masuk akal. Perlahan butiran air di pipinya yang hitam dan keriput.

“Hai jago, kau sungguh beruntung tak mati seperti ayam aduan yang lain. Di mana taji menembus jantung dan mencabik-cabik perut. Terkapar sebagai kesatria atau kalah oleh ketidak berdayaan!” Tiba-tiba laki-laki tua itu menangis tersedu-sedu. Kadang-kadang terdengar raungan menyayat. Kali ini air mata bercucuran deras.

“Puluhan jago sepertimu mati dalam kalah dan tak berdaya. Tak berdaya menentukan jalan hidupnya sendiri. Terpaksa menjadikan taji satu-satunya cara hidup. Ber-taji atau mati oleh taji. Maafkan aku jago, akutelah membuat hidupmu pun menjadi kalah dan tidak berdaya. Mempertaruhkan hidupmu setiap saat untuk alasan yang tidak kau mengerti. Kamu memberitahu aku rasa kalah tak berdaya itu sekarang. Rasanya amat menyedihkan.Aku telah membuat rasa menyedihkan pada puluhan jago sepertimu!”

Kembali dia menangis sesegukan. Terdiam, dan kembali meraung-raung menyayat. Aku tak sampai hati melihatnya. “Kenapa sampai begitu Pak, tenang saja, besok kita ke pangandaran dan beli es kelapa muda yang kau inginkan itu. Uang depositoku masih ada. Enggak usah nangis seperti itu dong Pak. Kita memang segera akan mati, tapi kita juga tidak tahu pasti kapan waktunya. Kapan harus merasa sedih untuk itu dan berapa lama juga tidak jelas, kenapa tidak tenang saja!”

“Kamu tidak tahu, bukan ajal yang saya takuti, atau keinginan ku yang ingin ke pangandaran itu, tapi saya betul-betul baru tahu rasanya, saat ajal membuat kita merasa kalah dan tak berdaya. Saat kerentaan membuat kalah dan tak berdaya. Aku sudah memilihkan hidup penuh taruhan nyawa,  dengan ajal yang setiap saat datang menjemput kepada puluhan jago yang pernah aku adu, kini si jago memberitahu aku bagaimana rasanya.”

Suamiku bercerita dangan air mata yang deras mengalir. Aku tak paham dalam tubuh penyabung ayam-yang kadang kala amat keras pada anak-anaknya-tersimpan perasaan yang demikian dalam. Dari dulu aku tidak suka melihat dia menyabung ayam dan membunuhi ayam-ayam kekar itu, walau akhirnya aku menkmati garang asem yang ia buat. Lupa sudah aku pada ayam –ayam yang mengerang-ngerang dan berdarah-darah seperti satria di medan laga itu.

Ah,  semua rasa memang tampaknya muncul saat kerentaan tiba. Semua penyesalan, kelemahan, ketakutan, kegalauan. Untungnya, aku tidak pernah terlalu perasa. Jadi kepergian anak-anakku yang kubesarkan dengan tetesan keringat, tak terlalu mengangguku. Walau aku kian merasa dilupakan dan di tinggalkan. Mengapa setelah tua kita menjadi tak berharga, tak menarik, tak diinginkan. Mungkin dengan rasa yang samalah aku meninggalkan orang tuaku saat menikah. Dengan langkah-langkah panjang, tanpa sekali pun menoleh.

Leave a Reply