Kisah Hidup Anak Semata Wayang Bagian 3

Sebelumnya kisah hidup anak semata wayang bagian 2.

Deg deg-an, perasaanku langsung tak menentu, lalu aku anak siapa? Selama ini aku tinggal dengan kedua orangtua yang memang bukan orangtua kandungku. “Ibu lupa hari atau saat itu, yang pasti ada seorang wanita muda yang datang ke rumah ibu, dan menawarkan untuk mengurus anaknya dengan alasan faktor ekonomi. Suaminya meninggal, dan dia belum punya pekerjaan, sementara anak bayinya perlu diberi kehidupan yang layak. Begitu ibu melihat bayi itu, ibu langsung jatuh hati dan tanpa ada ragu, ibu ambil bayi itu. Dan bayi itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan sangat baik. Gadis itu ada di depan ibu sekarang maafkan ibu nak”.

“Lalu, siapa orang tua kandungku bu” tanyaku. “Seorang ibu yang memberikan kamu ke pelukan ibu bukan berarti dia tidak sayang padamu, dia hanya tak ingin melihatmu hidup susah, dia ingin kamu hidup sangat layak, dan ibu sangat tahu pasti berat, dan sangat berat melepas anak sendiri untuk orang lain”.

“Iya siapa bu, tapi siapa orang tuaku?” tanyaku lagi. “Ibu memberikan modal yang cukup buat dia, bukan berniat membeli kamu, kamu tidak bisa dihargakan oleh sejumlah uang atau apapun. Duniapun jika ditukar dengan kamu juga tidak akan ibu berikan. Ibu hanya ingin orangtua dari anak yang ibu sayang mendapatkan penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Hanya itu yang ada dipikiran ibu. Ibu berikan sejumlah uang untuk dia berjualan pisang goreng”.

“Jadi ibu itu” tanpa ku teruskan pertanyaanku, tangisanku sudah meledak. Sekarang dia dimana bu, kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi. “Ibu yang salah Yul, setelah dia datang menemuimu siang itu, walau tanpa bicara sepatah katapun, ibu takut, ibu takut kehilanganmu. Ibu memang tidak mengandungmu, namun bagi ibu kamu adalah anak ibu yang Tuhan titipkan untuk ibu dan ayah. Tanpa sepengetahuanmu, ibu mendatangi ibu kandungmu dan meminta dia untuk tidak berjualan lagi didepan rumah, tidak pernah melihatmu lagi, dan tidak pernah mendatangimu lagi. Beliau menangis, namun akhirnya dengan ikhlas beliau setuju”.

“Bu aku tidak akan meninggalkan ibu dan ayah, bukan karena ibu dan ayah orang berada, dan beliau seorang penjual pisang goreng. Seandainya keadaannya dibalikpun saat ini, aku pasti akan memilih hidup bersama ibu. Aku tidak benci orangtua kandungku mungkin saat itu, itulah jalan yang terbaik untukku. Tapi apa ibu bersedia mengantarkan aku menemui orangtua kandungku, aku hanya ingin mencium tangan beliau bu, dan setelah itu jika ibu tidak ingin aku menemuinya, aku tidak akan menemuinya, aku ikhlas bu”.

Ibu sempat berpikir beberapa menit, lalu akhirnya menyetujui permintaanku. Hari itu hari minggu, kami sekeluarga berniat untuk mendatangi rumah ibu kandungku. Selama perjalanan, perasaanku semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku melihat wajah beliau ketika berjualan, sekarang kok rasanya beda sekali. Sesampainya didepan rumah, ibu ketuk pintu rumah, dan tidak menunggu lama keluarlah ibu itu. Ibu penjual pisang goreng yang memang sudah lama tidak aku lihat. Entah kenapa, ada rasa rindu yang amat sangat dalam diri, ingin aku peluk, ingin aku sentuh wajahnya. Namun kenapa seolah hatiku meronta ketika aku melihat sosok ibu yang sedang menatapku.

“Ibu” hanya itu yang keluar dari mulutku, Aku cium tangannya dan aku memeluknya dengan tetesan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Aku berbisik pada ibu, ibu yang mengurusku dari sejak bayi. “Aku janji, aku tidak akan meninggalkan ibu, namun ijinkan aku punya satu permintaan, biarkan aku tetap bisa melihat ibuku, ibu penjual pisang goreng, ibu kandungku yang telah melahirkanku, yang telah membawaku dalam perutnya selama sembilan bulan untuk tetap bisa aku lihat. Jangan biarkan dia pergi dari penglihatanku bu”.

Ibu dan ayah setuju dengan keinginanku, ibu penjual pisang goreng itu, ibu kandungku kembali berjualan di depan rumah. Setiap hari aku bisa melihatnya, dengan perasaan dan kasih sayang yang berbeda tentunya dengan sebelumnya.

Aku bangga mempunyai orangtua-orangtua seperti mereka. Selalu Ikhlas, ikhlas dalam menerima dan memberikan sesuatu. Aku bahagia, mereka adalah harta paling berharga dalam hidupku. Semoga yang pernah mengalami kisah ini seperti aku, dapat bersyukur kepadaNya. Atas anugerahnyalah kita bisa seperti saat ini. Jangan pernah sesali hidup ini dan hormatilah orang-orang yang telah mencintai kita. Itulah, kata-katanya di akhir cerita. Sambil menghapuskan air matanya yang terus menetes, gadis itu mengakhiri cerita kisah hidupnya. Lalu dia mohon izin untuk pulang ke rumah bersama ibu angkatnya telah telah menunggunya. Dan sayapun izinkan, sambil bersalaman, saya sampaikan sebuah pesan, “Yulia, berbuat baiklah pada siapapun dalam hidup ini, selagi dia masih hidup bersamamu. Tidak mudah untuk mendapatkan yang telah pergi, meskipun itu bukan yang terbaik”. Dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih.